Lathifa

Kim elly
Chapter #5

Chapter 4

Di dalam mobil, kabin yang biasanya sunyi kini bergetar oleh dentuman musik yang dipasang kencang. Lathifa dan Clara bernyanyi sekuat tenaga, seolah-olah suara mereka bisa menerbangkan beban yang menghimpit dada selama ini.


"Lagu ini, Fa! Nyalain yang ini!" seru Clara antusias saat mobil mereka berhenti di lampu merah.


"Lagu apa? Sebutin judulnya dong," sahut Lathifa sambil melirik spion, sesekali jemarinya mengetuk setir mengikuti irama.


"Aduh, gue lupa judulnya! Pokoknya yang nadanya nana-nana gitu," ucap Clara sambil bersenandung tak beraturan.


Lathifa tertawa renyah, tawa yang sudah lama tidak terdengar. "Jiah, lo mah! Mana gue tahu kalau cuma nana-nana. Buruan, apa judulnya?"


"Ya itu... yang ada lirik Daddy's hot gitu kalau nggak salah," Clara mencoba mengingat-ingat sembari meraih ponsel Lathifa.


"Oh, Sam Smith bukan? Unholy?" tebak Lathifa.


"Nah, iya itu! Gue yang pindahin lagunya," ucap Clara penuh kemenangan setelah berhasil memutar lagu tersebut.


Mereka kembali larut dalam melodi. Lathifa bergaya layaknya bintang video klip di balik kemudi. Untuk sejenak, ia benar-benar lupa akan perihnya kehilangan ayah dan pahitnya dikhianati calon suami. Sahabatnya adalah penyelamat kewarasannya sore itu.


Tak terasa, mereka tiba di pusat perbelanjaan. Begitu turun dari mobil, Clara langsung membetulkan letak pakaiannya dan berjalan dengan dagu terangkat, mencoba terlihat sangat berkelas.


"Fa, kalau gue jalan kayak gini, udah mirip anak pejabat belum sih?" tanya Clara dengan nada yang dibuat-buat serius.


Lathifa menahan tawa sampai bahunya terguncang. "Mirip... mirip banget, Cla. Mirip ajudannya!"


"Ih, lo mah ketawa melulu! Serius kenapa sih, Fa!" gerutu Clara sambil mengerucutkan bibir.


"Iya, iya, ini gue serius. Ayo buruan, keburu toko tasnya tutup," ucap Lathifa sambil menggandeng paksa tangan Clara menuju gerai tas bermerek.


Awalnya Lathifa hanya berniat menemani, namun godaan barang-barang bagus memang sulit ditepis. Akhirnya, ia pun keluar dari toko dengan satu tentengan di tangannya.


"Ah, gara-gara lo nih! Gue jadi laper mata kan," keluh Lathifa kesal pada dirinya sendiri.


Clara terkekeh geli, menyenggol bahu sahabatnya itu. "Tenang, Jeng Lathifa. Emak lo nggak bakal bangkrut cuma gara-gara lo beli satu tas itu. Anggap saja self-reward."


"Tau ah! Ayo cari apa lagi? Masih banyak tugas ospek yang belum lengkap," sahut Lathifa mengajak Clara 'blusukan' ke toko buku besar di lantai atas.



Keesokan harinya, koridor kampus sudah mulai riuh oleh langkah mahasiswa baru. Lathifa berjalan berdampingan dengan Clara, memastikan semua perlengkapan di dalam tas mereka tidak ada yang tertinggal.

Lihat selengkapnya