Malam-malam seperti ini biasanya sunyi. Angin dari laut hanya mendesir pelan lewat celah-celah dinding papan rumahku, menyapa kaki-kaki yang tergelincir dari selimut. Biasanya aku tidur nyenyak setelah dibentak Ibu karena terlalu lama nonton kartun, atau main main ke rumah Jeno sampai malam. Tapi malam ini, aku terbangun karena dorongan dari tubuhku sendiri, dorongan yang rutin dan tak bisa ditunda.
Kencing.
Dengan mata setengah lengket dan rambut acak-acakan, aku turun dari ranjang dan mengendap menuju pintu kamar. Kakiku menyentuh lantai semen yang dingin. Aku menggeliat kecil. Udara malam ini dingin, menandakan dimulainya musim kemarau. Rumah kami sederhana dengan dinding kayu dan atap seng, menjadikannya lebih dingin lagi.
Kubuka pintu kamar pelan-pelan, takut jika mengganggu siapa pun, apalagi Mbak Rani, kakakku yang sedang sensitif belakangan ini. Sifat pemarahnya itu telah sampai puncaknya, kata Bapak dia sedang mengalami datang bulan.
Aku bersyukur aku selalu mengunci jendelaku rapat-rapat agar sinar bulan tak mendatangiku dan membuatku gila seperti Mbak Rani di setiap bulan. Kalau nggak, apa jadinya rumah ini? Mbak Rani yang marah-marah bersahutan dengan Ibu yang mengomel, ditambah aku yang tak bisa diam. Pasti itu sangat menyusahkan, jadi kupastikan sang bulan tidak mendatangiku.
Meski aku tahu Bapak itu berbohong, aku tetap mengunci jendela. Mana ada bulan datang ke kita, kan? Kata Bu Guru, bulan itu hanya mengelilingi Bumi, bukan turun ke kamar saat kita tidur. Entahlah, itu mungkin dongeng Bapak atau memang aku yang salah mengartikan “datang bulan”. Yang pasti, aku menutup jendela karena aku takut tuyul dan wewegombel yang sering menculik anak ganteng sepertiku.
Ya, aku lebih percaya hantu ketimbang datang bulan. Tapi—ssttt! Ini rahasia.
Langkahku menuju kamar mandi terhenti ketika kudengar suara pelan dari ruang depan. Suara seperti orang berbisik, tapi dengan nada yang jelas dan tidak ramah. Jelas itu bukan suara Bapak dan rekan-rekannya yang akan pergi melaut, apalagi suara wewegombel yang merayuku. Suara itu semakin jelas.
“Aku bilang, aku bisa cari kerja sendiri!”
Itu suara Mbak Rani, terdengar tegang, nyaris pecah.
“Apa kamu pikir hidup cuma soal bebas? Kamu perempuan!”
Itu Ibu. Suaranya pelan, tapi penuh tekanan. Seperti air yang mendidih tanpa letupan. “Sudah enak-enak ada duda kaya yang melamar, malah kamu tolak,” tambahnya tajam.
Aku berdiri mematung di balik tirai kerang yang memisahkan lorong kamar dan ruang tengah. Bau rokok Bapak yang entah di mana masih tersisa di udara. Jantungku berdetak lebih cepat, bukan karena takut wewegombel, tapi Ibu dan Rani tak pernah ribut malam-malam.
“Aku masih sembilan belas tahun, Bu. Dan orang itu sudah punya anak,” Rani menjawab lirih, tapi nadanya tetap keras kepala. “Aku bukan anak kecil lagi, Bu. Aku tahu apa yang aku mau.”
“Lalu kenapa kau masih tinggal di sini? Kau saja selalu gagal ujian masuk universitas, Rani. Masih untung ada yang mau sama kamu setelah—”
Ibu membalas cepat, tapi mendadak berhenti, seolah nyaris saja mengucapkan kalimat terlarang. Pintu kamar Bapak dan Ibu yang berhadapan dengan ruang tengah jadi saksi ketegangan yang tak biasa itu.
Aku menunduk. Rasa ingin kencing masih ada, tapi rasanya tubuhku terpaku. Ada yang lain di malam ini. Sesuatu yang nggak biasa. Sesuatu yang membuat malam ini terasa lebih berat dari sekadar udara dingin atau suara serangga yang riuh.
Aku jadi teringat Bang Dandi yang datang beberapa bulan lalu untuk mempersunting Mbak Rani. Dia lumayan keren, selalu memakai kemeja slim hingga otot lengannya tercetak. Dia juga baik, kok. Waktu dia datang, dia memberiku uang dua puluh ribu. Jujur, aku menyukainya. Tapi sayangnya, Mbak Rani sepertinya tidak.
Mungkin harus kututup rapat-rapat impian punya abang ipar yang tajir itu.
Mbak Rani terdiam untuk sejenak. Lalu tiba-tiba dia melangkah dengan cepat ke lorong dan melewatiku begitu saja. Suara tirai kerang itu berisik saat disibak. Dia masuk ke kamarnya dengan membanting pintu, membuatku terlonjak. Kalau Mbak Rani sudah membanting pintu, aku nggak boleh ngobrol dengannya selama seharian penuh. Aku harus menghindarinya besok, atau aku bakal kena semprot omelannya.
Aku mengintip Ibu diam-diam. Dia sedang mondar-mandir di depan TV sambil memijat keningnya.
Mendadak aku menggelinjang, itu tandanya aku harus segera mengosongkan isi kantung kemihku. Segera pun aku berlari dan—cuuurrrr…
Ah, lega rasanya.
Satu hal yang paling kubenci dari rutinitasku ini adalah aku harus mematikan lampu ruang belakang yang menyatu dengan dapur ini. Menyebalkannya, saklar lampunya tidak ada di dinding dekat lorong, tapi ada di depan pintu kamar mandi, bersebelahan dengan saklar lampu kamar mandi. Jadi aku harus melalui ruang gelap dan menyeramkan ini.
Dalam hitungan ke tiga, saklar kutekan. Dan—jlek! Lampu mati. Dengan cepat aku lompat dan berlari kembali ke koridor. Itu adalah detik-detik paling mendebarkan dalam hidupku.