Pagi-pagi begini biasanya suara ayam tetangga lebih nyaring dari suara alarm Mbak Rani yang pagi ini entah kenapa enggan berdering. Tapi pagi ini, ayam-ayam itu kalah saing dengan suara perutku sendiri. Bunyinya sudah seperti truk yang tadi malam—bruummm… minta diisi.
Kupandangi jam dinding yang miring di dinding lorong dengan hanya mengenakan handuk, sudah lewat jam enam. Aku telat! Langsung masuk kembali ke kamar, menyambar seragam dan langsung mengendusnya. Masih bisa dipakai.
Tapi celana? Celanaku yang biasa? Ke mana?
Aku jongkok di lantai, membuka kolong tempat tidur, mengaduk tumpukan baju di pojok, bahkan mengendus celana yang menurutku agak mirip, tapi terlalu wangi. Bukan ini! Aku berteriak sambil berlari ke dapur, satu kaki sudah dimasukkan ke dalam celana dalam, satu lagi masih loncat-loncat.
“Ibuuu!!! Celana seragamku di mana?! Yang merah!”
Ibu yang sedang menyiapkan sarapan mengendus kesal. Dia meletakkan piring berisi beberapa ekor udang mantis dibumbu kesukaanku di meja, sambil mengomel tentu saja. “Kamu ini selalu saja! Cari itu yang bener, dong! Tiap pagi pasti teriak, ‘Ibu!’ Dasar!” Lalu ia melangkah ke lorong menuju kamarku.
Aroma udang di meja membelai hidungku, seolah sedang memanggilku untuk memakannya. Mulutku langsung dibanjiri air liur. Kutoleh ke Ibu yang sudah masuk ke kamarku. Ini adalah kesempatan. Segera kuberlari ke meja dan mencomot secuit, melahapnya sekali suap.
“Raka!”
Dengan cepat kulap tanganku, menghilangkan jejak, dan berlari ke kamar menyusul Ibu. Dengan bersungut-sungut Ibu menunjuk ke belakang pintu, entah bagaimana seperti biasanya, celana itu tiba-tiba sudah tergantung di paku. Padahal aku sudah mencarinya dua kali ke sana. Mungkin Ibu punya kekuatan sihir, atau mungkin memang aku yang rabun setengah sadar tiap pagi.
Ibu kembali mendengus, lalu berjalan ke pintu kamar Mbak Rani yang ada tepat di depan pintu kamarku. Dia menggedornya kencang, seperti komandan membangunkan prajuritnya. “Raniiii!!! Makan!”
Aku ganti sambil menggerutu kecil, memperhatikan Ibu. Pintu itu tetap tak terbuka atau sahutan dari dalam. Pasti masalah semalam. Mbak Rani kalau sudah ngambek nyusahin satu rumah, nggak mau makan, atau beres-beres bantu Ibu. Alhasil akulah yang disuruh nyapu nanti sore. Lihat saja.
“Rani?” kali ini lebih lembut, tapi tetap tak ada jawaban. Sampai aku selesai memakai ikat pinggang, Mbak Rani tetap enggan keluar, Ibu pun berlalu kembali.
Aku menggeleng-gelengkan kepala di depan pintunya. Sungguh kekanak-kanakan. Akhirnya aku kembali ke dapur dan makan dengan tenang.
Ada nasi sisa semalam dan tahu goreng, yang sepertinya digoreng ulang karena lebih keras dari biasanya. Tapi aku tetap ambil, tentu saja, sebagai lauk pendamping udang mantis hari ini. Toh, nasi keras di perut lebih baik daripada perut keroncongan di sekolah.
Aroma kopi tiba-tiba menyeruak, mengalahkan aroma udang favoritku.
“Ibu buat kopi? Emang Bapak sudah pulang?” lontarku.
“Bapakmu nggak melaut semalam. Nggak ada yang pergi melaut karena bingung sama truk-truk semalam. Padahal kebutuhan dapur banyak, malah ikut-ikutan nggak kerja,” timpalnya sembari membuka tutup tobles gula yang isinya sudah habis. Jadi Ibu harus mengais butiran gula yang menempel di dinding toples, itu membuatnya jengkel.
“Terus di mana sekarang?” tanyaku lagi dengan mulut penuh.
Ibu menghela napas besar, lalu meletakkan sendoknya. “Di rumah Pak Ujang.”
Lalu—
“Rakaaa!!!”
Aku kenal betul siapa yang memanggilku dengan nada seperti itu dari depan rumah. Cepat-cepat kusudahi makanku, menjejalkan dua suapan terakhir sambil memakai kaus kaki yang entah kenapa selalu bersembunyi satu dari pasangannya.
Kusambar kotak bekal yang sudah disiapkan Ibu dan memasukkannya ke tas, lalu berlari ke teras.
Jeno sudah menungguku, dengan rambut yang disisir rapi ke kanan seperti biasanya. Rumahnya ada di tepi pantai, seratus meter ke timur dari pohon kelapa tempat aku dan Aldi bersembunyi semalam.
“Kau telat bangun lagi?” tanya Jeno berdecak, melihatku masih mengunyah.
“Semua gara-gara truk-truk pengangkut bambu-bambu semalam, membuatku susah tidur.” Aku turun dari teras dan mulai berjalan. “Kau tahu itu buat apa, Jen?”
Jeno menggeleng. “Sepertinya semua orang juga mempertanyakannya, Ka.”
“Aku dan Aldi semalam mengintip mereka, bahkan Pak RT saja dibentak.” Aku bercerita dengan antusias, hingga saat aku menunduk menyadari bahwa sepatu Jeno baru. Terlihat mengkilap dan keren.
Aku menghentikan langkahku sejenak. “Tunggu, sepatu baru, ya?”
Jeno mengangguk mantap. “Iya, kakakku yang belikan.”