Laut yang Tertawan

Ulat Bulu
Chapter #4

BAB 3: Mbak Rani yang Didatangi Bulan

Malam ini tenang. Angin dari laut nyaris tak bersuara. Hanya ada bunyi lembut kipas tua yang berputar malas di langit-langit ruang tamu. Lampu putih paling terang di rumah ini menggantung di atas meja kecil tempatku duduk, mengerjakan PR dari Bu Dewi. PR matematika, pecahan lagi. Sungguh hidup ini terlalu penuh pembagian.

Aku menatap soal nomor lima yang memerintahkanku mengubah ⅖ ke dalam bentuk persen dan desimal. Aku sudah mengubahnya lika kali, dan semuanya salah. Di kertas coretan, angka-angka sudah jadi seperti cacing galau.

Aku mendesah. Bapak belum pulang dari rumah Pak RT. Ibu sedang mencuci piring di dapur. Mbak Rani… entahlah. Seharian ini dia bermalas-malasan di kamar, alhasil akulah yang menyapu seluruh lantai rumah ini. Yang jelas aku nggak mau bertanya padanya saat bulan mendatanginya begini. Meskipun dia menjawabku, pasti ujung-ujungnya marah-marah juga.

Aku menambahkan sedikit garis di tengah angka lima, seolah itu bisa mengubah jawabannya, ketika tiba-tiba terdengar suara langkah berat dari lorong. Selepas itu pintu kamar Rani terbuka keras, disusul suara piring diletakkan agak kasar di dapur. Lalu—

“Bu, aku pengin pergi dari sini!” suara Rani nyaring, penuh letupan.

Langkah Ibu berhenti. “Kau mau ke mana, hah? Jangan kekanak-kanakan, kau sudah dewasa, Rani,” ucapnya tajam.

“Keluar kota. Mana saja. Yang penting bukan di sini terus. Aku pengin kerja atau apalah, bebas milih hidupku sendiri! Ibu sendiri yang pengin aku keluar, kan?”

Aku menegakkan punggung, pensil masih di tangan. Napas kutahan, telinga kupasang lebar-lebar.

“Kerja?” balas Ibu dari dapur. “Kerja apa? Di kota? Dengan ijazah apa? Kau pikir hidup di kota itu seperti drama yang kau tonton?”

“Setidaknya aku berusaha!” pekik Mbak Rani, tapi suaranya goyah. “Aku nggak mau kayak gini terus. Aku pengin kuliah, Bu. Aku pengin jadi hakim. Aku di sini sudah kayak barang yang bisa ditawarkan pada laki-laki yang… yang…”

“Yang bisa memberimu makan, rumah, dan masa depan,” potong Ibu cepat, nadanya makin tinggi. “Kau pikir hidup cuma soal mimpi? Coba lihat bapakmu, setiap hari harus melaut, berperang dengan ombak demi kasih makan kita. Itu realita! Lagian kamu sudah ditolak universitas impianmu. Kau sudah gagal, Rani. Terimalah kenyataanmu dan hiduplah dalam realita.”

“Tapi Bu, aku bisa mencobanya lagi ujian depan!” sergah Mbak Rani. “Aku nggak mau hidup jadi ‘istri siapa’, aku ingin hidup sebagai diriku sendiri!”

“Pikirkan adikmu juga yang masih sekolah, Ran. Dia sebentar lagi kelas enam, lalu masuk SMP. Kau pikir dia tidak butuh uang? Terlebih lagi dia laki-laki, Rani. Raka harus menghidupi istri dan anak-anaknya nanti.” Ibu menggebu.

Hening sebentar. Aku menunduk lagi ke PR-ku, tapi angka-angka itu kini berubah jadi seperti wajah Ibu dan Rani yang saling menatap marah. Aku bisa membayangkan ke depannya Mbak Rani akan lebih membenciku.

“Kau perempuan, Rani,” suara Ibu kali ini lebih pelan, tapi menusuk. “Perempuan harus tahu tempat. Kalau ada laki-laki yang baik, mau menafkahimu, menikahimu dengan benar, terima. Hidup bukan soal kau maunya apa, tapi bisa bertahan atau tidak. Kamu sudah sembilan belas tahun, Rani. Kau tidak akan selamanya cantik.”

“Tapi kenapa perempuan selalu disuruh mengalah, Bu?” Mbak Rani bertanya lirih. “Kenapa mimpiku harus dikurung hanya karena aku perempuan? Kenapa aku harus menikah dengan seseorang yang bahkan aku tidak suka, hanya karena dia punya uang?”

Aku menatap tirai kerang yang bergoyang pelan, seolah angin juga ingin ikut mendengar.

“Karena kita tidak punya pilihan, Nak,” jawab Ibu akhirnya. Lirih. Letih. “Karena hidup kadang tak memberi kita ruang untuk bermimpi. Impian dan cita-cita bukanlah untuk orang seperti kita yang menggantungkan hidup pada laut dan cuaca.”

Sebelum Mbak Rani membanting pintunya lagi, aku mendengar dia terisak. Mbak Rani yang selalu mengomel itu ternyata bisa menangis juga, dan sepertinya… aku bisa merasakan lukanya.

Aku menggenggam pensilku erat-erat. Tiba-tiba PR dari Bu Dewi tak lagi penting. Aku tak tahu apa yang bisa kulakukan, selain tetap diam. Tapi malam ini, aku mendengar satu hal yang belum pernah kudengar, bahwa orang dewasa pun bisa merasa terkunci. Sama seperti soal matematika yang tak kunjung bisa kupecahkan.

Dan aku sadar, bukan cuma laut yang sedang dipagari. Tapi juga mimpi.

Lihat selengkapnya