Aku terbangun karena suara Ibu yang membanting tutup panci di dapur. Suara khas yang menandakan dua hal, dia sedang buru-buru atau sedang marah. Atau keduanya. Tapi pagi ini aku tidak peduli. Aku bangun dengan semangat.
Bukan karena soal pecahan Bu Dewi yang belum selesai, itu tetap kutaruh paling bawah dalam daftar kecemasanku. Tapi karena hari ini katanya kami akan dapat makan siang bergizi dari pemerintah.
Aku bilang ke Ibu, “Ada yang kirim makanan sehat ke sekolah, jangan buatkan aku bekal. Akhirnya sekolahku dapat juga.” Untuk anak seperti aku, yang biasa bawa kotak bekas berisi nasi keras dan tahu sisa semalam, kabar itu seperti mendapat undangan ke restoran mewah. Aku sangat bersemangat.
Setelah sarapan seadanya, nasi sisa semalam dan sambal teri, aku memakai seragam, menyambar tas, dan berlari ke luar. Jeno sudah menunggu di depan rumahku, rambutnya masih basah disisir rapi.
“Cepatlah! Kau tahu nggak, hari ini kita dapat makan siang gratis!” serunya begitu aku muncul di teras.
Aku langsung semangat. “Aku tahu! Menurutmu kita bakalan dapat menu apa?”
“Mungkin ada ayam bakar dan telur.”
Kami langsung berlari menuju rumah Aldi. Saat kami berbelok di jalan beraspal, kami melihat anak-anak lain yang lewat juga tampak lebih ceria dari biasanya. Mereka berjalan berombongan, membicarakan hal yang sama. Makan siang.
“Kalau ada ayam, aku bakal simpan kulitnya buat sore,” kata Aldi saat bergabung bersama kami.
“Kulitnya itu yang paling enak,” balasku, “tapi jangan simpan di tas, nanti baunya kayak sepatu.”
Kami tertawa. Meski malam tadi sunyi dan penuh ketegangan, pagi ini kami seperti lupa sejenak.
Pelajaran pertama adalah olahraga. Kami semua langsung semangat, lari keliling lapangan atau main bola, lalu dilanjut dengan pelajaran Bahasa Indonesia yang super duper membosankan. Sepenjang pelajaran aku dan Jeno lebih sibuk menebak menu daripada membuat karangan cerita.
“Aku nggak sabar buat makan. Olahraga tadi membuatku kelaparan,” keluhku.
“Semoga ada semangka juga,” sahut Jeno.
Dalam hati aku membayangkan ada menu seperti di TV, nasi putih pulen, ayam goreng garing, sayur tumis yang masih hangat, buah segar, dan susu kotak. Lengkap.
Dari pelajaran olahraga, ada jeda beberapa menit. Tapi itu jam makin siang masih lama. Matahari mulai menunjukkan teriknya lewat jendela kaca yang sudah buram. Pelajaran akhirnya dilanjutkan dengan Bahasa Indonesia. Pak Sohib ini meski nyantai tapi selalu tepat waktu masuk kelas. Sebagian dari kami sudah mulai gelisah, tangan mengetuk meja, kepala bertopang tangan, mata menatap jam dinding yang seolah bergerak lebih lambat dari baisanya.
Di tengah suasana yang malas itu, Pak Sohib mengajar penuh semangat. Terkadang aku kasihan karena jam pelajarannya berdampingan dengan jam olahraga. Tapi kadang aku juga malu, beliau semangat dan aku malah malas. Hmm…
“Anak-anak, kita tutup jam pelajaran ini dengan sesuatu yang menyenangkan,” katanya sambil menulis di papan tulis.
TUGAS MENULIS – HOBI, CITA-CITA, DAN HAL YANG DISUKAI DARI SEKOLAH.
Beberapa anak langsung duduk tegak. Tapi sebagian, termasuk aku, masih terduduk lemas seperti daun kangkung di sayur bening.
“Tugasnya sederhana,” lanjut Pak Sohib, “kalian tulis di buku tulis apa hobimu, cita-citamu. Dan hal apa yang paling kamu sukai dari sekolah. Dikumpulkan di pertemuan kita selanjutnya.”
Aldi langsung angkat tangan tanpa aba-aba. “Pak, kalau saya hobinya ganti-ganti tiap hari, boleh kutulis semua?”
“Tulis saja, asalkan bukan yang aneh-aneh, seperti mengetuk rumah warga saat pulang sekolah,” jawab Pak Sohib menekan kalimatnya. Menyindir.
Aldi cuma meringis sambil menggaruk kepala gundulnya. Hmm… jadi selama ini Pak Sohib tahu Aldi sering melakukan keisengan itu, aku harus waspada kalau-kalau Aldi mengajakku lagi.
Jeno mengangkat tangannya. “Saya suka main layangan, mencari kerang, makan mi goreng, sama tidur,” dia menyebutkan sambil menghitung dengan jari.
“Makan dan tidur itu bukan hobi, Jen, tapi kebutuhan,” sahut Harry sambil menahan sikunya di mejaku. Pakaiannya yang putih masih sangat rapi seperti kemarin. “Makan saja yang kau pikirkan, Jen… Jen…”
Jeno cuma melet padanya.
“Dasar Anak Agung!” tambah Aldi, memanggil nama depan Jeno yang tak biasa itu.
Aku jadi teringat ucapan Bu Dewi kemarin. Kuangkat tangan. “Pak, saya mau tanya. Makan siang gratis hari ini sebenarnya dari siapa? Presidenkah?”
Pak Hosib meletakkan spidolnya dan menoleh dengan tenang. “Itu proyek dari pemerintah, Raka. Memang kebijakan presiden. Tapi dananya berakar dari pajak. Uang yang dikumpulkan dari masyarakat. Seperti orang tua kalian beli motor, mereka bayar pajak. Uangnya dikumpulkan untuk kepentingan negara, seperti program makan siang.”
“Loh, berarti kita makan pakai uang sendiri, dong? Tapi kok disebut makan siang gratis?”
“Bambu-bambu yang datang hampir di setiap malam akhir-akhir ini, apakah juga pakai uang rakyat, Pak?” timpal Candra yang duduk di belakangku tiba-tiba. Aku nyaris tersentak. Sungguh tak biasa ia bertanya.
Pak Sohib tiba-tiba terdiam. Dia mendongak memikirkan jawabannya, tapi kata itu tak pernah keluar. Entah karena tak tahu atau karena bel istirahat baru saja berdering.
Krriiiinnggg!!! “HOREE!!!” Semua anak bersorak senang.
Agenda yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang. Begitu tumpukan kotak makan masuk ke kelas, semua anak berseru girang. Aku memandang antusias, perutku sudah meronta-ronta dari tadi. Aku dan Jeno menerima kotak kardus itu dengan senyum lebar. Dengan penuh harap, aku membukanya.
Diam.
Yang kulihat pertama adalah nasi, tapi kering, seperti nasi hantaran tetangga. Lalu potongan wortel dan jagung yang terlalu sedikit untuk disebut sayur, dan satu potong ayam goreng… yang kecil. Sangat kecil. Lebih mirip keripik daripada ayam. Di sudut kotak, ada satu pisang. Kecil, hampir seukuran jari telunjuk.
Jeno menatap kotaknya. “Ini… ayam?”
“Bisa jadi,” sahutku pelan.
Aldi sudah menggigit potongannya. Lalu dia langsung mengunyah cepat-cepat dan menelan. “Rasanya… kayak kardus. Tapi ya sudah, gratis.”
Aku ingin tertawa, tapi rasanya lelucon ini menyedihkan.
Kekecewaan memenuhiku. Jujur, ini adalah menu bergizi, tapi apakah ini seimbang? Kami masih dalam masa pertumbuhan, Kepala Sekolah sendiri yang bilang kami harus makan banyak dan seimbang. Ini tidak cukup. Ini bahkan tak seimbang sama tenaga yang kami keluarkan setengah hari ini.
Ini seperti sekadar memenuhi janji, bukan sebuah bentuk perubahan. Rasanya seperti program ini cuma dibuat agar orang-orang dewasa bisa berkata, “Kami sudah membantu.” Mereka tak benar-benar melihat apa yang kami butuhkan, hanya ingin mencentang janji yang sudah terlanjur diumbar di dalam TV. Kini aku takut, sepertinya bambu-bambu di laut itu juga sama.
***
Setelah menerima keecewaan dari makanan yang kami tunggu-tunggu itu. Akhirnya sekolah dipulangkan.
Aku dan Jeno berjalan santai melewati gerbang sekolah kami. Beberapa anak celingak-celinguk mencari jemputan mereka, beberapa lagi mengerubuni gerobak cilok dan telur gulung, sisanya langsung pulang jalan kaki seperti kami. Kulihat Aldi sedang membeli dagangan seorang kakek tua, gulali, bersama Candra. Mereka sedang bercengkrama. Aku mengernyit melihatnya, sejak kapan mereka akrab? Atau Candra yang memang sedang terjebak dengan si gundul bermulut besar itu. Dia kan orangnya nggak enakan.
Kasihan juga sih, tapi itu baik untuknya. Biarkan saja.
Aku dan Jeno pun meninggalkan sekolah, lalu berbelok dari jalan aspal ke jalan batu. Jalan ini adalah jalan kami, lingkungan kami. Semua rumah nyaris punya jarak yang cukup lebar, tak gandeng seperti di perkotaan. Halamannya digunakan buat menjemur ikan dan pakaian. Terik panas hari ini pasti membuat para ibu senang. Debu dan asap knalpot menyerang tiap kali kendaraan lewat di pinggir kami.