Laut yang Tertawan

Ulat Bulu
Chapter #6

BAB 5: Aku Mau Jadi Pemimpin Kikir

Matahari sore menyusup lewat kisi-kisi jendela, menciptakan bayangan garis-garis di lantai semen ruang depan. Di depan meja kayu kecil yang goyah hingga harus kuganjal dengan kertas, aku duduk memeluk lutut, menatap buku tulis terbuka di depanku. Di halaman paling atas tertulis, ‘Tugas Bahasa Indonesia – Hobi, Cita-cita, dan Hal yang Disukai dari Sekolah.’

Kertasnya masih kosong.

Pensil di tanganku sudah kugigit-gigit ujungnya, lalu kutulisi beberapa kata, lalu kuhapus lagi. Aku bahkan sempat menulis “hobi makan udang mantis” tapi terasa itu tidak cukup keren, dan kata Harry makan tidak termasuk hobi. Sempat kutulis cita-cita jadi supir truk, tapi teringat kata-kata Mbak Rani bahwa truk-truk yang datang bawa masalah. Hapus lagi. Aku juga nggak benar-benar menyukai mereka, aku cuma kagum.

Hhfftt! Aku mendesah panjang.

Dari teras, suara gesekan halus terdengar. Kuintip lewat pintu yang terbuka lebar. Bapak duduk bersila di lantai, mengenakan singlet putih yang punya beberapa lubang di dadanya dan sarung garis-garis yang serat kainnya sudah menuat akibat disikat terlalu sering oleh Ibu. Tangannya sibuk menjahit jaring yang robek, matanya fokus, gerakannya pelan tapi pasti. Di sebelahnya, secangkir kopi hitam yang sudah dingin dan bergulung-gulung benang jala yang kusut.

“Kenapa lihatin Bapak? Fokus ke PR-mu. Kalau nggak bisa tanya ke Mbak Rani, atau ke rumah Jeno sana. Kamu kan biasanya ngerjain bareng anak Bali itu,” seloroh Bapak tanpa menoleh padaku.

Aku separuh terperangah. Kenapa dia bisa tahu padahal melirikku saja tidak?

Lalu aku berpaling sejenak dan memanyunkan bibir. “Mbak Rani nggak mau keluar kamar, Jeno dan Abangnya pergi jalan-jalan ke kota,” jawabku lemas.

Bapak akhirnya melirik. “Memangnya PR apa? Matematika?”

“Bukan, Bahasa Indonesia… disuruh tulis hobi dan cita-cita.”

“Ya sudah. Tulis saja. Gampang toh.”

Aku berdecak. Ini tidaklah semudah itu. Bapak kembali berkutat dengan jaringnya. Sekali lagi aku mengamati.

“Pak,” panggilku landai, “apa cita-cita Bapak jadi nelayan?”

Bapak menghentikan gerakannya sejenak. “Tentu saja!” jawabnya mantap. Tapi aku sempat melihat matanya berkedip dua kali dengan cepat, jika itu terjadi aku harus mencurigainya. Karena bisa jadi dia tak jujur, karena aku juga punya kebiasaan itu.

“Apa melaut adalah hobi Bapak? Bapak setiap hari pergi, apa nggak bosan?”

Bapak tersenyum tipis, sambil terus melanjutkan pekerjaannya. Jarinya mengikat simpul benang dengan tenang, seolah pertanyaanku adalah angin sepoi yang memang sudah sering mampir ke pikirannya.

“Bapak ini nggak terlalu paham soal hobi, Raka,” katanya akhirnya. “Waktu kecil, Bapak nggak pernah disuruh nulis begituan, karena sekolah saja jarang masuk. Tapi, kalau kau tanya apakah Bapak suka melaut? Jawabannya iya. Tapi bukan suka yang kayak kau suka main layangan atau nonton kartun.”

Aku mengerutkan dahi. “Terus suka yang kayak gimana?”

Bapak menghentikan tangannya lagi. Menatap jaring yang sedang dijahitnya, tapi nada bicaranya seperti sedang bicara padaku, jauh ke dalam.

“Suka yang rasanya nggak bisa kau pilih, tapi kau tetap melakukannya karena itu bagian dari hidupmu. Laut itu seperti ibumu. Kadang dia tenang, kadang marah. Tapi kau tetap kembali ke situ, meskipun kau tahu bisa hanyut, bisa pulang tanpa ikan, atau pulang dengan luka. Tapi kau tetap berangkat.”

“Meskipun aku tahu bisa dihukum, bisa dipukul dengan sandal, atau nggak diberi uang jajan. Tapi Ibu tetaplah Ibu,” timpalku menyambungkan perumpamaannya.

Bapak tertawa kecil. Kulihat lebih jelas jaring yang robek di tangan Bapak kini terlihat seperti peta, atau mungkin labirin.

“Hidup bukan cuma tentang hobi dan cita-cita, Raka. Kita juga harus bertahan. Tak masalah bila mengambil jalan lain, itu bukan berarti gagal. Tulis saja apa yang kamu inginkan, Nak. Yang terjadi nanti, biarlah terjadi,” seloroh Bapak.

Aku menelan ludah pelan. Kalimat itu menancap.

“Tapi kata Ibu, Mbak Rani sudah gagal. Mimpi dan cita-cita bukan untuk orang seperti kita.”

Bapak mendadak menoleh, matanya tajam menatap. “Ibumu bilang begitu? Kapan?” cecarnya yang tak lagi santai, membuatku agak takut.

Lihat selengkapnya