Laut yang Tertawan

Ulat Bulu
Chapter #7

BAB 6: Pertandingan Sepakbola Suka-Suka

Kelas V SD Suka-suka 02 adalah kelas paling ribut sejagat sekolah, kalau kau tanya aku. Bukan karena kami nakal, tapi karena kami terlalu hidup. Ada yang main kertas lipat, ada yang bersiul sambil mengelap sepatu, ada yang main suit, dan ada juga yang bengong. Ya, cuma menatap kipas yang nyaris tak berputar… Candra contohnya.

Meja-meja diatur rapat, kursinya nyaring kalau digeser. Lantainya dari ubin kuning kusam yang setiap minggu disikat dengan sabun colek sampai licin. Di sudut dekat papan tulis ada rak berisi spidol dan penghapus yang bentuknya sudah tak jelas karena digabungkan dari sisa-sisa yang lain. Aku duduk di samping Jeno seperti biasa. Kami selalu berbagi bangku yang sama, bahkan saat undian tempat duduk pun kami dapat yang sama.

“Ka, apa tidurmu nggak keganggu sama truk-truk yang lewat hampir tiap malam? Rumahmu kan tepat pinggir jalan,” bisik Jeno sambil memutar pensil.

Aku menoleh. “Truk-truk itu lewat di waktu yang sama dengan rutinitasku buang air kecil. Jadi aku nggak terlalu terganggu. Di satu sisi menurutku keren. Aku suka melihat truk-truk pembawa bambu itu dari jendela kamar.”

“Kudengar pagar bambu itu sudah sangat panjang.” Dia mencondongkan badannya. “Kemarin kakakku bilang, dia lihat ada kapal kecil mengukur sesuatu pakai alat aneh. Katanya sih, itu proyek jangka panjang. Tapi proyek apa coba, masa laut dipagari? Nggak mungkin kan mereka mau buat seluncuran di tengah laut?”

Aku menggigit ujung pulpen. “Kata Bapak, orang-orang itu datang diam-diam, bawa izin yang nggak jelas. Bahkan Pak RT pun nggak ngerti. Aku sangat penasaran. Mungkinkah mereka mau membuat patung naga biar pantai kita ramai?”

“Papaku juga sempat tanya ke Kepala Desa,” Harry yang sedari tadi duduk di depanku sambil bermain lego yang ia bawa diam-diam, tiba-tiba balik badan dan ikut nimbrung. “Tapi dia juga dicueki. Pertanyaannya nggak ada yang dijawab. Apa laut itu sudah dijual? Apakah kita nanti nggak bisa berenang lagi di sana?”

Jeno menyipit. “Kalau laut bisa dijual, aku mau beli satu buat kolam pribadi. Biar bisa nyelam tiap hari, nyari kerang, dan nggak perlu rebutan ikan lagi sama Aldi.”

Kami tertawa pelan. Lalu tiba-tiba—

BRAK!

Sebuah suara meja digebrak keras mengejutkan seisi kelas. Kami semua menoleh bersamaan. Aldi berdiri di balik meja guru, wajahnya merah, matanya membelalak kesal. Tapi itu bukan karena kami sedang menggosipkannya.

“Kalian tahu apa yang baru saja terjadi?!” serunya seperti tokoh di sinetron yang biasa Ibu tonton. “Anak-anak dari SD Suka-suka 01 ngejek kita!”

Aku menegakkan punggung. “Ejek apaan, Al?”

“Mereka bilang sekolah kita jelek, bocornya lebih gede dari ember bolong, dan mereka juga bilang, kita cuma sekolah anak kampung yang makannya dari sisa mereka! Maru bilang sekolah kita hanyalah rongsokan.”

Seluruh kelas riuh. Beberapa anak langsung berseru marah. Yang lain hanya terdiam dan menunduk, Candra contohnya.

“Mereka nantang kita main bola hari Jumat nanti di lapangan balai desa!” lanjut Aldi menggebu. “Dan mereka bilang kita bakal kalah, karena mereka punya sepatu baru semua!”

“Aku nggak punya sepatu bola. Hari Jumat aku juga sudah janji dengan Kak Tada buat ikut nyari kerang,” celetuk Jeno pelan.

“Sepatu?” ulang Aldi tercengang. “Eh, Anak Agung, kau pikir aku punya? Mereka bisa pakai sepatu emas pun aku nggak peduli!” Aldi mengepalkan tangan. “Persetan juga dengan nyari kerang, Jen! Yang penting… harga diri!”

Anak-anak mulai bersorak. Teriakan “Lawan!” dan “Balas!” bersahutan. Bahkan Bu Dewi yang baru saja masuk, harus beberapa kali mengetuk papan tulis dengan penggaris panjangnya untuk menenangkan kelas.

Tapi satu hal sudah pasti. Hari Jumat nanti bakal ada pertandingan besar. Dan mungkin, pertarungan lebih dari sekadar bola.

***

Sepulang sekolah aku mampir ke rumah Jeno untuk memanen buah cerinya. Hanya ada kami berdua. Tadi aku lihat Aldi pergi ke warung bareng sahabat baruya, Candra. Lalu Harry di jemput Mamanya. Kalau ibuku menjemur ikan, aku harus sembunyi-sembunyi saat lewat depan rumah.

Matahari sangat terik meski sudah condong ke barat. Maklum ini adalah musim kemarau, di pantai pula. Panasnya dobel-dobel, meski angin cukup kencang. Yah, soalnya angin laut itu kering dan bau asin. Nggak ada sejuk-sejuknya sama sekali. Meski begitu, rumah Jeno cukup sejuk kok. Ada pohon ceri yang menjulang tinggi, tapi sebenarnya ini kata Bli Tada itu bukan ceri. Tapi pokoknya kami menyebutnya ceri. Selain itu halaman belakang juga sangat rindang.

Rumah Jeno ini ya biasa saja, nyaris semua rumah di desa ini memang punya gaya dan ukuran yang sama. Kalau ada yang dikecualikan, itu yah rumahnya Harry yang besar dengan garasi mobil. Tapi yang membuat mencolok dari rumah Jeno adalah adanya pelinggih di pojok halamannya, berseberangan dengan pohon ceri. Satu-satunya rumah yang punya penda itu, yang membuatnya sakral dan misterius secara bersamaan.

Aku sudah ada di puncak pohon. Memandang kalut pagar bambu di tengah laut sana. Entah mengapa mereka memagarinya, tapi itu benar-benar merusak pemandangan favoritku.

“Eh, Raka!” Jeno di bawah berseru. “Kau sedang lihat apa? Cepat petik yang di cabang belakangmu itu!”

Aku hanya mendengus. Lalu berpindah cabang. Kupanen buah kecil merah itu, dan memasukkannya ke saku seragam yang sudah gemuk. Setelah memastikan tak ada lagi ruang di saku, aku pun turun.

Kami menikmati buah ceri itu di teras rumah sambil ditemani semilir angin pantai.

“Eh, Ka…” Jeno memulai obrolan. “Kau tahu siapa Maru yang dibicarakan Aldi di kelas tadi?”

Aku membelalak. “Kau nggak tahu? Dia adalah anak paling resek dan paling sombong di desa ini. Kita pernah ketemu dengannya beberapa kali. Itu loh, yang rambutnya jabrik dan cungkring.”

“Oooohhh… si Landak?”

Aku langsung mengangguk mantap. Aku mencondongkan badan, dan berbisik, “Kudengar dia harusnya sudah Kelas VI, tapi nggak naik kelas karena nakal. Kutebak nilai matematikanya pasti lebih rendah dariku.”

“Bukankah dia anak dari pejabat desa, ya?” sambung Jeno memanaskan gosip ini.

Hingga tiba-tiba—

“Heh?! Bukannya ganti baju malah ngerumpi!” sentak Bli Tada yang muncul dari dalam rumah sambil membawa buku tebal dengan sampul wajah pria tua.

Lihat selengkapnya