Langit sore seperti kertas yang mulai dicoret pensil merah muda, lembut dan lelah. Kami berjalan pulang menyusuri jalan berbatu. Para ibu mengangkat jemurannya, baik pakaian maupun ikan. Di tanganku, kertas yang tadi jatuh dari mobil misterius itu masih tergenggam erat, dilipat tiga dan diselipkan ke dalam saku seragam yang sudah kusut.
“Aldiii!!”
Sebuah suara melengking memotong langkah kami. Aldi langsung berhenti di tempat. Wajahnya yang biasanya riang seketika mengerut seperti jeruk purut.
“Iyaaa, Bu!” balasnya dengan suara pelan, lalu berbisik pada kami, “Kalian lanjut aja, nanti kita lanjutkan di sekolah. Sebaiknya kalian cari tahu arti dukomen itu. Aku sangat yakin itu menyimpan rahasia kelam.”
“Kau terlalu banyak nonton kartun detektif, Al,” timpalku. Jeno mangut-mangut setuju.
Aldi mendengus. “Terus kenapa masih kau bawa? Sudahlah… Kalau Ibu sudah keluar rumah begini, berarti aku kena marah karena keluyuran lagi…”
Kami tertawa pendek sambil memandang Aldi yang berjalan seperti napi menuju eksekusi. Dari jauh, suara ibunya terdengar makin keras.
“Apa kamu pikir rumah ini hotel, Al? Tiap sore keluyuran terus! Bantu nyapu kek, cuci piring kek!”
Aku dan Jeno tak perlu diperintah dua kali. Kami langsung ngacir, menyelamatkan diri sebelum giliran kami kena omel. Kami berlari sambil tertawa, lalu melambat saat melewati rumahku yang catnya sudah mengelupas itu. Tak ada siapa-siapa, dan baju sudah diangkat. Aku pun meneruskan langkah menuju pantai.
“Ayo kita tanya abangmu, Jen. Dia pasti sudah pulang, kan? Mbakku sekarang sangat sensitif, nggak bisa diganggu,” cetusku.
Kini hanya ada kami berdua. Candra sudah pulang lebih dulu, arahnya berlawanan dengan kami. Lalu Harry memutuskan untuk berhenti di warung membeli es krim. Anak manja itu sangat kelelahan. Aldi, kau tahu sendirilah.
Angin terasa lebih kencang. Aroma asin semakin kuat. Saat kami sampai di pohon kelapa besar, langkah kami terhenti. Jeno mengangkat tangannya menunjuk sesuatu. Aku pun mengintip ke arah ujung dermaga. Di sana terlihat dua sosok duduk berdampingan. Mbak Rani dan Bli Tada.
Aku refleks menunduk. “Lho… Mbak Rani?”
Mereka berdua tampak sedang bicara. Tidak banyak gerakan tapi tubuh mereka miring ke arah satu sama lain, dan entah kenapa… pemandangan itu membuatku gugup. Mungkin karena tak pernah kulihat Mbak Rani duduk selama itu bersama laki-laki, terutama laki-laki yang tidak membuatnya marah dalam tiga detik.
“Aku kayaknya salah lihat,” bisikku, padahal aku tahu itu benar.
“Kau mau ke sana?” tanya Jeno.
Aku menimbang. Lalu menggeleng. “Enggak. Kita nunggu di sini aja.”
Kami terus mengamati mereka dari balik batang pohon kelapa yang tumbuh miring ini.
Tak lama kemudian dari arah rumah Jeno datanglah Bu Sundari yang tak lain adalah ibunya Jeno sendiri. Langkahnya tegas, tangannya mengepal menuju dermaga. Mbak Rani dan Bli Tada langsung bangkit. Entah mengapa mereka menunduk lesu. Aku tak bisa mendengar suara mereka karena terlalu jauh, angin dan debur ombak juga menghalangi. Ibunya Jeno bicara dengan cepat, menunjuk Mbak Rani sesekali. Dia tampak marah.
“Apa yang terjadi, Jen?” gumamku.