Laut yang Tertawan

Ulat Bulu
Chapter #9

BAB 8: Makan Gratis yang Bikin Celaka

Pagi ini aku nyaris terlambat sekolah. Lagi. Seragamku kusut, tapi kaus kakiku tidak sama panjang, dan rambutku menolak diatur meski sudah kubasahi dengan tangan. Ibu hanya sempat memasakkanku sepotong tempe, seraya terus diam membisu. Aku tahu alasan sebenarnya, mengapa Ibu begitu pendiam, mengapa Mbak Rani tak keluar kamar lagi, dan aku hanya tidak mau bangun. Setelah sore itu, rasanya dunia seperti berubah. Berat. Sunyi.

Aku melangkah masuk kelas dengan malas. Jeno langsung menoleh waktu melihatku. Rambutnya sudah rapi, bajunya tertata, dan dia duduk santai seperti tidak terjadi apa-apa.

“Kau ngapain tadi? Aku sudah mampir ke rumahmu seperti biasa,” katanya sambil meneguk air dari botolnya. “Kupanggil sampai suaraku menakuti ayam tetanggamu, tapi kau nggak keluar-keluar. Jadi aku berangkat duluan bareng Aldi.”

“Maaf,” gumamku pendek sambil menghempaskan diri ke bangku. Bahuku rasanya berat. Kepalaku masih penuh suara-suara kemarin.

Aldi yang duduk di depan Jeno langsung berbalik, dan berbisik dengan nada berapi-api, “Eh! Jadi, kau sudah tanya belum soal dokumen itu ke siapa-siapa? Itu penting, Ka. Harusnya kita tahu!”

“Belum,” jawabku lirih, hampir tak terdengar.

Aldi mendesah keras. “Yaaah…”

Harry ikut menoleh. “Apa pentingnya selembar dokumen? Papaku kalau buat sampai tebal. Sudahlah, kalian nggak bakal dapat apa-apa.”

“Benar,” sahut Candra dari bangku belakang. Aku tak pernah menyangka dia menyimak percakapan kami. “Kalaupun itu dokumen penting, kita bisa apa? Kita hanyalah bocah Kelas V SD.” Lalu dia kembali lagi menulis, entah apa.

Aku menunduk. Lidahku kelu. Tapi ada sesuatu yang lebih sulit dari sekadar bicara. Aku sendiri belum tahu bagaimana cara memahami isi kertas itu, karena aku masih sibuk memahami Mbak Rani dan keluargaku.

Sepanjang pelajaran pertama dan kedua, aku lebih banyak diam. Pak Sohib menerangkan tentang jenis-jenis kalimat, tapi bagiku semua kalimat terdengar sama, datar, tanpa tekanan, dan lewat begitu saja di kepalanku. Aku hanya mencoret-coret bagian belakang bukuku, menggambar pagar bambu yang semakin panjang seperti ular raksasa yang melilit laut.

Jeno sesekali menyikutku, mencoba menarikku kembali ke dunia nyata. Tapi aku hanya tersenyum kecil, lalu kembali menatap meja. Aldi yang duduk di depan kami bahkan sempat melempar penghapus ke arahku karena aku tidak menyahut saat dipanggil tiga kali. Aku hanya membalas dengan melotot lesu. Dia menyeringai, lalu kembali mengunyah permen karet seolah tak ada yang penting di dunia selain rasa stroberi buatannya sendiri.

Waktu makan siang tiba, deretan kotak makan siang gratis yang katanya dari uang pajak orang tua kami sudah disiapkan di meja panjang depan kelas. Semua anak antre, wajah-wajah penuh harap. Meskipun kami sudah tahu isinya kemungkinan tidak jauh dari hari-hari sebelumnya, tetap saja ada rasa penasaran yang aneh.

Aku duduk bersama Jeno, Aldi, Harry, dan Candra di bawah pohon flamboyan. Bosan di dalam kelas terus-terusan. Makan siang kami kali ini, nasi yang agak keras, sayur sop encer, dan potongan nugget kecil. jeno mencoba membolak-balik nuggetnya seolah berharap menemukan kejutan di dalamnya.

“Menurut kalian, pertandingan kemarin siapa yang paling hebat?” tanya Aldi sambil menyuapkan sop dengan sendok plastik yang mulai melengkung. Sekali hap, sayur itu hanya menyisakan sedikit.

“Aku dong,” sahut Jeno langsung, “Umpan-umpanku keren semua. Kalau bukan karena aku, kau nggak bakal bisa cetak gol.”

Harry mendongak angkuh. “Tetap saja. Kalau bukan karena aku yang kuat ini, gawang kita bakalan kebobolan banyak. Apalagi si Maru itu punya tendangan yang cepat.”

“Ya, dia memang resek. Tapi dia jago main bola,” sela Candra pelan, ikut menyahut.

Aldi mendengus. “Si Landak itu jago juga.”

Lihat selengkapnya