Air laut sore itu masih hangat, seperti kolam besar yang dijemur matahari seharian. Aku dan teman-teman berenang di pantai depan rumah Jeno. Kami sudah melepaskan baju dan hanya mengenakan celana pendek. Harry paling jago berenang. Aku cukup jago juga, walau kadang tersedak air sendiri. Aldi dan Jeno berlomba siapa yang lompat paling jauh dari dermaga. Sedangkan Candra… ya, dia cuma mengambang, memandangi ombak dengan wajah kosong. Seperti biasa.
Tapi, yang paling membuat kami diam beberapa saat bukanlah ombak lembut, melainkan pagar bambu yang kian hari semakin panjang. Deretan bambu itu menjulur dari pucuk kanan pandangan sampai kiri, seolah tanpa batas.
“Kalau pagar itu makin panjang, apakah pantai kita akan surut?” gumamku sambil menatap ke barisan bambu yang tampak kecil di kejauhan.
“Bambu tidak bisa menahan air, tapi bisa menahan pasir. Jika pasir mengendap dan meninggi di sana, maka air di pantai ini akan terjebak,” balas Candra.
Harry mendengus, menepuk pipinya sendiri agar tetesan air tak menetes ke mata. “Sudahlah. Aku pulang duluan. Kalau sampai Mama tahu aku masih main padahal ujian semester sudah dekat, dia bakal matiin Wi-Fi rumah.” Dia naik ke tepi, mengeringkan badannya.
“Ujian? Aduh, baru dengar kata itu aja aku sudah pusing,” keluh Aldi yang baru saja menyelam lalu batuk karena minum air asin. “Kenapa sih sekolah harus ada ujian?”
“Karena itu satu-satunya cara agar anak sepertimu tahu batas kemampuanmu,” sindir Harry, lalu mengenakan bajunya.
Kami pun ikut naik dari air. Kulitku mulai mengerut seperti kulit rambutan basah. Kami belum mau bubar. Ada satu agenda lagi. Aku menatap sekeliling, pelinggih di pojok halaman rumah Jeno masih wangi oleh bekas dupa dan bunga persembahan.
Pelinggih itu sedikit berlumut. Kurasa mereka tak pernah menggantinya ulang. Pelinggih adalah bangunan seperti tugu dengan simbol-simbol dan puncak yang seperti takhta, biasa ada di rumah-rumah orang Hindu. Kata Bli Tada mereka pindah delapan tahun yang lalu, aku dan Jeno terlalu kecil untuk mengingatnya. Aku yakin pada saat itu mereka langsung disuguhi berita hangat tentang insiden Mbak Rani. Entah apa yang terjadi bila mereka tak jadi pindah ke desa ini.
Keluarga Jeno ini sudah membaur sepenuhnya dengan warga, bahkan logat bicara mereka sudah bukan orang Bali lagi, lebih ke orang Desa Suka-Suka yang tegas namun tetap sopan. Meski begitu mereka tak lupa asal, lihat saja pelinggih yang selalu dipersembahi bunga berbagai warna itu. Karena itu juga aku memanggil abangnya Jeno dengan panggilan ‘Bli’, meski ternyata bli itu artinya bukan ‘kakak’, Bli Tada nggak masalah. Aku pun menjadi kebiasaan.
Saat kami mengganti baju di bawah pohon ceri depan rumah Jeno, terdengar suara motor dari arah barat. Itu Bli Tada. Ia baru pulang, mengenakan jaket kerja yang sudah pudar karena terlalu sering terkena panas matahari dan helm yang penuh stiker. Ada bordiran gambar dua gunung yang merapat, logo perusahaan Bli Tada. Kami berlarian ke arahnya, seperti anak-anak yang melihat penjual es krim datang.
“Bang! Bang!” Aldi berseru paling keras. “Lihat ini! Kau membawanya kan? Cepat, Ka!” desaknya padaku.
Aku segera mengeluarkan lipatan kertas dari tas. Agak basah, karena tasnya tadi ditaruh sembarangan di pasir.
Bli Tada menyipitkan mata, membuka dokumen itu di atas meja kayu di teras rumahnya. Kami mengerubunginya.
“Hmm…” gumamnya sambil membaca. Matanya bergerak cepat. Wajahnya mulai berubah.
“Apa ini benar proyek? Yang itu?” aku menunjuk ke arah pagar laut.
Bli Tada mengangguk pelan. “Ini dokumen internal. Rencana perluasan kawasan elite Pantai Pesona Kelapa. Dari mana kalian dapat ini? Seharusnya tidak sampai ke tangan kalian.”
“Jadi mereka benar-benar ingin menguasai pantai ini?” tanya Jeno dengan suara pelan.
Aldi mengepalkan tangan. “Kita harus lakukan sesuatu. Kita bisa kumpulkan tanda tangan seperti waktu Bu Dewi mau dipindahkan! Atau kita bisa—”
“Stop!” potong Bli Tada tegas. Ia menatap kami satu per satu. “Kalian anak-anak. Ini urusa orang dewasa. Bahaya kalau kalian ikut campur. Buang ini!” katanya sembari menyerahkan kembali kertasnya padaku.
“Tapi ini pantai kami juga, Bli!” seruku. “Kami berenang di sini setiap hari. Kami—”
“Aku tahu,” selanya lembut. “Tapi kita bukanlah siapa-siapa. Kita nggak bakalan menang. Jadi jangan nekat.”
Kami terdiam. tak ada yang menjawab. Tapi kulihat Aldi mengatup mulutnya rapat-rapat, sementara Jeno menunduk.