Laut yang Tertawan

Ulat Bulu
Chapter #11

BAB 10: Laut Itu Milik Siapa?

Hari-hari belakangan ini dipenuhi suara kertas yang dibalik buru-buru, derit spidol di papan tulis, dan desahan napas pasrah dari teman-teman sekelasku. Ujian semester akhir sudah sangat dekat. Semua guru mendadak jadi lebih serius, bahkan Bu Dewi yang sudah serius, mulai menulis lebih pelan di papan, mungkin supaya kami mudah menyalin. Tapi menurutku, malah jadi lebih menegangkan. Karena kalau guru saja sudah lembut, artinya bahaya sudah di depan mata.

Aku sendiri mulai berubah. Biasanya aku cuma buka buku saat guru mulai menghitung mundur. Tapi sekarang aku duduk di meja ruang tengah setiap malam, mencoba mengerjakan soal dan merangkum pelajaran. Ya, karena aku ingin jadi presiden. Aku ingin bisa mengatur semuanya, dari makanan gratis sampai pagar bambu di laut. Seorang presiden tak boleh bodoh, bukan?

Dan juga, karena aku sering melihat Mbak Rani belajar. Sejak akhir-akhir ini dia duduk lebih lama di meja belajarnya, bahkan kadang ketiduran di atas buku. Meskipun Ibu dan Bapak masih suka berdebat soal masa depan Mbak Rani, dia sendiri tak menyerah. Aku melihat matanya yang merah, tapi tidak pernah berhenti membaca. Melihat itu, rasanya aku malu kalau cuma main layangan dan ngeluh soal PR.

Minggu pagi ini, aku terbangun oleh aroma tumisan yang khas. Kukira hari ini akan ada lauk istimewa. Tapi ketika kau mengintip ke dapur, kulihat Ibu hanya memasak tumis tahu. Tahu putih yang sudah diiris kecil-kecil dan digoreng tanpa minyak yang cukup. Tidak ada bau udang. Tidak ada suara renyah dari penggorengan.

“Kenapa cuma tahu, Bu?” tanyaku sambil duduk di lantai, memeluk lutut.

Ibu tidak langsung menjawab. Dia hanya membalik tumisannya perlahan, wajahnya seperti menahan sesuatu yang tidak ingin ditumpahkan.

“Bapakmu nggak bawa banyak, pulang kemarin,” katanya akhirnya. “Angin besar. Ikannya susah. Ya sudah, hari ini cukup begini saja.”

Aku menunduk. Ada suara kecil di dadaku yang ikut mengempis. Kupandangi tahu-tahu putih di wajan itu, dan rasanya tiba-tiba aku bisa lebih cepat jadi presiden. Supaya aku bisa mengatur laut agar Ibu tidak marah-marah terus. Supaya orang-orang seperti Bapak bisa pulang membawa lebih dari sekadar jaring basah.

Aku berdiri pelan dari dudukku, lalu kembali ke kamar.

Aku mengambil buku PR dan pensil dari atas meja. Pandanganku tak sengaja tertuju ke secarik kertas yang kami temukan waktu itu, sudah lecek dan beberapa kalimat pudar karena air. Entah mengapa aku masih menyimpannya.

“Bu, aku mau belajar di rumah Jeno, ya?” pekikku agak keras agar terdengar.

“Jangan keluyuran. Habis belajar langsung pulang,” sahutnya.

“Iya, Bu.” Aku tahu maksudnya. Bukan cuma karena besok ulangan, tapi juga karena akhir-akhir ini semua orang dewasa tampak lebih gelisah dari biasanya.

***

Rumah Jeno seperti biasa terasa lebih sejuk, bahkan di siang hari begini. Pohon ceri di depan rumahnya menari pelan tertiup angin laut. Saat aku mengetuk pintu, yang membuka adalah Bli Tada. Dia mengenakan kaus oblong dan celana pendek.

“Wah, tamu agung datang,” selorohnya sambil menyeringai.

“Bli, aku mau belajar sama Jeno,” jawabku, lalu masuk.

Ternyata di dalam sudah ada Jeno dan Aldi, duduk di sekitar meja dengan buku terbuka dan dua botol air mineral. Mereka belajar tanpa diriku? Dasar pengkhianat!

“Ka, kau bawa dokumen itu?” tanya Aldi.

Aku duduk dengan bersungut-sungut. “Sudah kubuang ke tempat sampah,” karangku sebal.

Bli Tada ikut duduk, tapi sebelum itu dia menggeplak pelan kepala gundul Aldi. “Heh! Berapa kali kubilang jangan ikut campur.”

“Tapi Bli…” Aldi menocba membantah.

Lihat selengkapnya