Laut yang Tertawan

Ulat Bulu
Chapter #12

BAB 11: Ini Bukan Ujian, Ini Penentuan Hidup

Pagi itu rumah kami lebih sunyi dari biasanya.

Tidak ada suara Ibu membentak karena aku lambat makan. Tidak ada suara Mbak Rani mengomel karena handuknya kupakai diam-diam. Yang terdengar hanya gesekan lembut sisir di rambut, langkah hati-hati di lantai semen, dan gemerisik baju disetrika. Bahkan kipas angin tua di langit-langit seperti memilih diam.

Aku berdiri di ambang pintu kamarku, pura-pura sibuk menyulam dasi merahku, padahal sebenarnya sedang memperhatikan dari balik pintu kamar mbak Rani yang terbuka sedikit.

Dia berdiri di depan cermin. Memakai kemeja putih dengan kerah rapi dan celana panjang hitam yang biasanya hanya dia pakai kalau pergi ke kota. Rambutnya diikat rendah, wajahnya polos tanpa bedak. Tapi ada yang berbeda pagi ini, wajahnya seperti penuh harapan, tapi juga takut.

Aku akhirnya berlalu ke ruang tengah. Ada Bapak dengan kopi hitam yang mengepul menonton TV yang bahkan suaranya tak ia naikkan. Bisu. Di tangannya terselip batang rokok yang sudah memendek. Ada juga Ibu yang sedang menyetrika baju olahragaku yang tidak akan pernah kupakai selama sisa semester ini. Mereka semua gugup, bukan untukku, tapi untuk Mbak Rani.

“Pagi, Pak. Bu,” suara lembut Mbak Rani akhirnya terdengar. Dia keluar dari kamarnya. Langkahnya mantap melewati kami, tapi tangannya menggenggam map berisi dokumen ujian begitu erat sampai buku jarinya pucat.

Aku tak bisa menahan diri, berdiri dan menyusulnya. “Mbak, mau ujian, ya?”

Dia menatapku, tersenyum kecil. “Iya, Rak. Doain aku, ya.”

Aku mengangguk cepat. Rasanya aneh, seperti aku sedang mengantar seseorang ke medan perang. Lalu suara motor terdengar dari luar. Itu motor Bli Tada, aku sangat mengenalnya.

Dia turun dari motornya, memakai kemeja bersih dan celana jins. Rambutnya masih basah, wangi parfumnya sampai ke ruang tamu. Aku yakin itu bukan dandanan orang mau kerja. Dia melambai singkat ke arah Ibu dan Bapak yang ikut berjalan ke depan.

“Kita siap?” tanyanya pada Mbak Rani. Suara pelan, tapi hangat.

Mbak Rani mengangguk, lalu menyalami Bapak dan Ibu bergantian. Ibu sempat menggenggam tangannya agak lama. Bapak tak berkata apa-apa, hanya mengangguk sambil mengisap rokoknya dalam-dalam.

Aku ikut mengantar sampai ke halaman. Sementara bapak dan Ibu hanya berdiri di ambang pintu, tapi aku tahu sikap mereka yang cenderung dingin adalah cara terbaik untuk memberi semangat pada Mbak Rani. Mata mereka seolah mengatakan, “Semoga berhasil, Ran. Kau gagal lagi pun itu bukanlah masalah.”

Sebelum naik ke motor, Mbak Rani menoleh padaku dan mengacak rambutku. “Kalau aku lulus, nanti traktir es serut ya, Rak?”

“Kalau kau lulus, aku akan traktir satu kelas!” jawabku sok berani.

Dia tertawa. Bli Tada tersenyum lebar. Sepertinya semua orang lupa bahwa aku juga ujian hari ini, tapi memang ujian Mbak Rani lebih berarti. Karena taruhannya lebih besar. Aku tak akan iri kali ini.

Bli Tada kembali ke motornya dan menyalakannya. Mbak Rani dengan tenang naik ke boncengan. Mereka pun meninggalkan halaman, menyusuri jalanan berbatu yang membuat badan Mbak Rani naik turun. Aku berdiri diam, memperhatikan bayangan mereka menjauh di antara jemuran tetangga yang baru saja ditaruh. Aku berharap semesta memberinya nilai sempurna kali ini hingga bisa masuk universitas impiannya.

Lihat selengkapnya