Laut yang Tertawan

Ulat Bulu
Chapter #13

BAB 12: Persaudaran Di Laut Utara

Pagi ini sekolah benar-benar ramai. Nggak cuma oleh anak-anak yang berseragam sekolah, tapi juga rombongan orang tua yang harus mengambil rapor anak-anak mereka. Emperan ruang kelas penuh dengan murid-murid yang sedang menunggu orang tua mereka keluar. Ya, hari ini adalah hari pengumuman hasil kerja keras kami selama setahun. Ada wajah yang tenang-tenang saja, tapi tentu saja sebagian besar wajah tegang. Cemas, naik ke kelas VI atau tidak.

Aku melihat Ibu baru keluar dari ruang kelasku sambil memegang buku biru, keluar bareng mamanya Harry. Ibu terlihat sangat cantik memakai baju merah muda dan rok panjangnya, baju hari raya dua tahun lalu yang sangat ia jarang pakai. Mamanya Harry juga sangat cantik dengan lipstik merah dan gelang emas di kedua tangannya. Aku dan Harry segera berlari menghampiri.

“Halo, Bibi,” aku menyapa mamanya Harry.

Dia tersenyum, lalu Harry merecoki, merampas tak sabar rapornya. Wajahnya langsung semeringah begitu ia melihatnya. Sudah kuduga, dia pasti juara satu. Lagi. Tak ada yang bisa mengalahkan anak gembul ini.

“Selamat ya, Harry. Kamu juara kelas,” ucap Ibu lembut.

Aku juga mengulurkan tangan. “Selamat ya, Her.”

“Kamu juga, Raka. Kamu juara tiga. Selamat!” sela mamanya Harry.

Ucapan mamanya Harry membuatku… Tunggu… Apa yang barusan dia bilang? Juara? Hah? Aku? Dia pasti bercanda.

Aku langsung melepaskan tanganku yang masih di genggam Harry, dan merampas raporku sendiri yang masih didekap Ibu. Kubuka dengan buru-buru. Harry ikut mengintip di sampingku. Kutelusuri kolom nilai, 8, 9, 8, 8, 7… untuk matematika. Di kolom terpisah, paling bawah, ada tulisan, ‘SELAMAT ANDA MERAIH JUARA 3 DARI 24 SISWA, NAIK KE KELAS VI’.

Aku menatap tak percaya. Mata dan mulutku terbuka lebar tanpa kusadari. Hingga Harry tiba-tiba merangkulku, menggoyang-goyangkanku dengan antusias.

“Selamat, Ka. Kamu berhasil! Kita berhasil!” pekiknya nyaris teriak.

Aku juga rasanya pengin teriak. Tapi aku nggak mau membuat keributan di tempat yang ramai begini.

“Sudah. Ayo pulang. Liburan panjang sudah dimulai,” cetus mamanya Harry.

Seketika aku dan Harry saling tatap. Kami lebih senang mendengarnya dari mendapat juara. Kali ini kami tidak bisa menahan diri. Kami berseru senang. “HORRREEE!!!”

***

Sampai di rumah, aku langsung berlari ke dalam sambil mengangkat raportku tinggi-tinggi seperti piala juara dunia. Napasku masih ngos-ngosan, tapi semangatku seratus persen.

“Mbak Rani! Mbak Rani! Lihat ini!” seruku lantang dari lorong. Kupastikan dia di rumah karena sandalnya jepit pink-nya ada di depan pintu.

Tak ada jawaban, tapi pintu kamarnya setengah terbuka dan kudengar deru kipas anginnya. Aku pun langsung menerobos masuk. Mbak Rani sedang duduk di depan cermin, menyisir rambutnya yang tebal. Sekilas dia melirikku lewat pantulan di cermin, lalu melanjutkan sisirannya dengan wajah datar.

“Aku juara tiga, Mbak! Juara Tiga!” Aku menghampiri dan menyodorkan rapor itu ke mukanya, hampir menyentuh hidungnya.

Dia mengangkat alis. “Wow. Hebat. Dunia pasti gemetar,” ucapnya singkat tanpa sedikit pun mengubah nada suaranya.

Aku meringis, lalu duduk di ujung ranjangnya. “Mbak, seriusan. Ini pertama kalinya aku jaura. Biasanya cuma dapat bintang… itu pun karena nilai menggambarku bagus.”

“Kamu masih tetap males belajar. Ini pasti karena teman-temanmu pintar semua,” sindirnya, tapi aku tahu dia tidak sepenuhnya serius.

Aku mengangguk setuju. “Iya, sih. Tapi aku juga belajar keras! Aku bahkan hafal rumus volume kubus! Yang sisi kali sisi kali sisi itu loh!”

“Aku pikir kamu cuma hafal nama-nama Power Ranger.”

Aku nyengir. “Sekarang aku hafal dua-duanya.”

Lihat selengkapnya