Laut yang Tertawan

Ulat Bulu
Chapter #14

BAB 13: Dinding Pemisah Dunia

Siang itu matahari bersinar garang, tapi langit biru bersih tanpa awan membuat segalanya terasa sempurna. Angin bertiup kencang dari arah laut, membuat dedaunan jendela bergetar dan atap seng bernyanyi sumbang. Buatku, ini adalah pertanda terbaik untuk satu hal. Layangan!

Aku buru-buru mengikat benang di batang bambu yang sudah kupotong sejak semalam. Layanganku bukan buatan toko, tapi bikinan sendiri. Bentuknya agak miring memang, tapi aku yakin dia akan terbang tinggi hari ini. Di luar sana, suara anak-anak sudah memanggil dari kejauhan. Aldi pasti sudah tak sabar. Mungkin Harry juga. Candra? Entahlah, dia sering muncul tiba-tiba di momen yang tidak kuduga.

Aku menyambar sandal jepit dan baru saja membuka pintu depan ketika—

“Raka! Kau mau ke mana lagi?!” seru Ibu dari dapur sambil membawa wajan berisi tahu goreng yang masih berasap. “Setiap hari, main terus. Rumah ini nggak pernah kau bantu sapu.”

Aku menoleh sambil memiringkan senyum. “Bu, ini liburan akhir tahun ajaran! Liburan besar! Masa anaknya nggak boleh bahagia?” jawabku sambil mundur selangkah demi selangkah menuju pintu.

Ibu memelototiku. “Bahagia boleh, tapi jangan sampai rumahmu ini kelihatan seperti kapal pecah.”

Belum sempat Ibu menambah omelannya, terdengar suara dari dalam kamar Mbak Rani. “Raka! Ke sini dulu sebentar,” panggilnya.

Aku menahan napas sejenak. Kalau Mbak Rani yang memanggil, biasanya itu urusan penting… atau menjebakku agar tak bisa kabur dari tugas rumah.

Aku masuk ke kamarnya dengan langkah pelan. Mbak Rani duduk di lantai, dikelilingi buku-buku tebal dan catatan berwarna-warni. Di tangannya, sebuah amplop putih yang dilipat rapi.

“Antarkan ini ke Tada, ya. Jangan dibuka. Jangan ditekuk. Jangan kena es krim.” Ucapnya sambil menyerahkan surat itu seperti sedang menyerahkan permata kerajaan.

Aku menerimanya dengan alis naik sebelah. “Surat lagi? Kuno sekali.”

Mbak Rani mendesah sambil mencobit pelan lenganku. “Sudah, antar saja. Jangan banyak tanya. Surat itu penting.”

Aku mengangkat kedua tanganku, lalu memasukkan surat itu ke dalam saku dada. “Baik, Yang Mulia,” sahutku sebelum kabur lagi ke pintu. Mbak Rani hanya mendengus, tapi aku bisa melihat dari matanya, ada sesuatu yang tak biasa dalam surat ini. Dan aku pun melangkah ke luar. Menuju pantai, layangan, angin, dan titipan cinta.

***

Setelah mampir ke rumah Jeno dan menitipkan surat dari Mbak Rani pada Bli Tada, aku langsung berlari ke arah pantai. Langit masih bersih, angin bertiup lebih kencang dari tadi, dan pasir mulai hangat menyengat telapak kakiku. Dari kejauhan, kulihat mereka semua berkumpul.

Jeno berdiri paling depan, memegangi layangan baru berwarna merah marun yang kupastikan bukan bikinannya sendiri. Pasti dibelikan Bli Tada. Di sebelahnya ada Aldi, tentu saja dengan layangan paling mencolok, penuh coretan spridol dan wajah digambar sendiri. Candra berdiri agak ke belakang, seperti biasa, memegang layangan polos biru laut yang tenang. Dan di ujung sana, berdiri satu sosok menyebalkan dengan senyum kemenangan. Maru, musuh sejati dari SD Suka-Suka 01.

Dia membawa layangan bentuk elang hitam. Besar, tajam, dan tinggi. Senarnya bukan senar biasa. Aku yakin dia memakai senar gelasan yang tajam seperti silet yang dilumuri lem dan pecahan kaca.

Aku pun menerbangkan layanganku. Dan adu layangan pun dimulai.

Angin kencang memaksa kami lebih fokus. Layangan Candra melayang perlahan, tapi terlalu dekat dengan Maru. Sekali sabet, putus. Candra hanya diam memandangi benangnya melayang ke laut. Jeno mencoba lebih berani, tapi tak sampai dua menit, layangannya pun jatuh, tersobek oleh gerakan zig-zag Maru.

“Dasar layangan pasar!” teriak Maru, menyeringai sambil menarik-ulur senarnya dengan percaya diri.

Tinggal layangan Aldi dan punyaku. Aldi terlalu agresif. Ia mencoba menabrak langsung. Hasilnya bisa ditebak, senarnya putus bahkan sebelum menyentuh ekor layangan Maru. Kini hanya tinggal aku. Layanganku, kayangan miring buatan sendiri, melayang agak rendah tapi tenang. Aku menahan napas, menunggu momen. Maru mencoba menusuk dari atas. Aku menarik pelan, mengelak. Ia mencoba dari kanan, aku gerakkan sedikit ke kiri. Napasku cepat. Tangan mulai pegal.

Semua mata menatap langit. Hingga akhirnya, Maru menemukan celah. Layangannya menukik tajam dari atas, siap mengiris benangku sekali tebas. Aku bersiap kalah. Tapi, tiba-tiba—bzzzrrrr…

Sebuah drone! Meluncur cepat dari arah barat. Menyusup di antara kami dan langsung nyaris menyenggol ekor layangan Maru. Dia terkejut, menarik senarnya cepat-cepat untuk menghindari tabrakan.

Layanganku selamat. Drone itu berputar anggun, mengitari layangan Maru, lalu menukik ke arah kami. Kamera kecilnya menyorot semua. Kami menoleh dan mendapati Harry berdiri dengan remot di tangan, tersenyum bangga.

“Maaf, aku telat. Tapi aku datang dengan teknologi,” katanya pongah.

Maru mendengus keras. “Hei, itu curang!”

Aku cuman tersenyum menatan tawa, sementara Aldi sudah ngakak.

Lihat selengkapnya