Laut yang Tertawan

Ulat Bulu
Chapter #15

BAB 14: Malam yang Mencekam

Malam itu Desa Suka-Suka terasa lebih gelap dari biasanya. Entah karena bulan sedang diselimuti awan, atau karena kami berlima sedang menyimpan rahasia besar. Di lapangan depan Balai Desa, hanya ada satu lampu taman yang menyala redup, menyorot bayangan pohon-pohon kelapa yang tampak seperti hantu berambut lebar. Aku menggenggam lutut, duduk di bangku beton sambil memandangi jam tangan milik Harry yang duduk di sampingku.

“Lama sekali dia…” gumam Jeno yang berdiri sambil mengawasi jalan masuk dari arah barat.

Harry menguap. “Kita pulang saja, ini gila.”

“Tunggu dulu, sebentar lagi dia datang,” potong Aldi. Suaranya yakin meski aku tahu dia juga bosan. Kausnya basah oleh keringat meski angin malam cukup menggigit.

Candra duduk diam, seperti biasa. Tapi aku tahu, di balik matanya yang sipit itu, ia juga cemas.

Beberapa menit kemudian, suara langkah tergesa-gesa terdengar dari sisi lapangan. Sosok kurus berambut jabrik muncul dari kegelapan sambil ngos-ngosan. Itu si Landak.

“Huh… maaf… aku telat,” seru Maru sambil menunjukkan sebuah kunci besi kecil yang tergantung di benang nilon. “Aku harus nunggu Ayah tidur nyenyak.”

Aku mengambil kunci itu, melihatnya dengan seksasa.

Aldi langsung menyambar kunci itu. “Ayo cepat sebelum ada yang lihat!”

Kami berenam menyelinap ke sisi Balai Desa. Dinding temboknya dipenuhi lumut dan celah-celah retak. Sebuah pendopo tampak lengang di tengah-tengah bangunan yang bentuk huruf U tidur ini. Maru menunjukkan jendela samping yang sedikit renggang. “Lewat sini. Aku sudah cek, tak ada CCTV di sini.”

Aku langsung membelalak. “CCTV? Kenapa nggak bilang sebelumnya kalau Balai Desa ini dipasangi CCTV?!” Aku bersungut-sungut.

“Sudahlah. Ayo,” cetus Maru.

“Aku duluan,” kata Jeno.

Tapi Harry mendorongnya. “Biar aku, kalau kalian teriak-teriak di dalam, gagal semua ini.”

“Ssstttt!!!” Aku mengingatkan. “Kalian mau seluruh desa bangun?!”

Akhirnya kami masuk satu per satu. Ruangan dalam Balai Desa sunyi sekali. Debu menempel di meja dan lemari. Aroma kayu tua dan kertas usang memenuhi hidung. Langit-langitnya rendah, membuat kami harus berjalan hati-hati. Harry menyalakan senter yang ia bawa, baterainya tinggal separuh.

“Ini kayak film horor,” bisik Jeno.

“Kalau ada pocong, aku duluan keluar,” balas Harry.

“Kau nggak akan bisa keluar kalau pintunya ditutup sendiri,” sahut Maru menakut-nakuti.

“Berhenti!” seru cepat. Semua membeku. Di dekat sebuah set angklung sisi di lorong sempit itu ada satu ruangan kecil dengan pintu ganda. Entah kenapa di taruh di sana. Pintu itu… menyala dari bawahnya.

“Ruang Pak Wahyu,” bisik Maru. “Lampunya nyala, padahal kantor sudah tutup empat jam lalu. Menurut kalian itu suster ngesot atau sundel bolong?”

Kami saling pandang. Aku bisa dengar detak jantungku sendiri. Aku sama sekali tak suka obrolan mereka tentang hantu ini.

“Apa ada orang?” tanya Candra, suaranya seperti angin. Aku agak lega, setidaknya di grup ini masih ada yang berpikir dengan logika.

“Ayo cek,” Aldi mendorong pintu pelan-pelan, membuat derit halus seperti pintu rumah hantu.

Ruangan itu kosong. Tapi lampunya menyala. Dan di meja utama, ada setumpuk dokumen dan map cokelat yang berserakan. Salah satu mapnya terbuka, memperlihatkan denah besar dan tulisan, ‘PROYEK PANTAI PESONA KELAPA – TAHAP DUA: PENIMBUNAN LAUT’. Kami semua terpaku. Tak satu pun bersuara. Penimbunan laut? Maksudnya mereka akan menimbul laut?

Dan saat itu juga, klang ting tlunggg… suara seseorang menyenggol set angklung di luar. Bembuat nada sumbang tiba-tiba. Ada yang datang. Kami saling pandang panik.

“Ada orang masuk!” desis Harry. Panik.

Lihat selengkapnya