Langit biru membentang luas. Di bawah pohon ceri yang rindang di halaman rumah Jeno, kami bertiga duduk terdiam. Angin laut berhembus pelan, membawa aroma asin yang biasanya membuat kami merasa bebas. Tapi kali ini, angin itu seperti membawa rasa bersalah. Kami menatap tanah, saling melirik sesekali, tapi tak satu pun bicara.
Aku, Jeno, dan Harry duduk berjajar, memunggungi matahari. Jari-jariku mengelupas batang ceri yang sudah tua, menumpuk serpihan kulit kayu di telapak tangan. Di sampingku, jeno menocret-coret tanah dengan sebatang ranting, dan Harry… hanya menatap pagar bambu di laut sana, matanya sayu seperti habis menangis.
“Menurut kalian…” Harry akhirnya bicara, pelan, “kalau kita bilang ke orang dewasa sekarang… semuanya… tentang semalam, apa mereka bakal percaya?”
Aku tak menjawab. Jeno juga tidak. Karena jawabannya bukan soal dipercaya. Tapi soal keberanian untuk mengaku. Dan itu… belum ada pada kami. Kau tahu apa yang paling membuatku sesak? Aldi belum membuka matanya.
Dari kejauhan, terdengar suara motor lewat di jalan depan. Tapi kami tetap membatu, seolah dunia di luar pohon ceri ini tak ada urusannya dengan kami. Lalu, dari arah gang sempit di samping rumah Jeno, terdengar langkah pelan. Candra akhirnya muncul. wajahnya tetap datar, seperti biasanya, tapi matanya… matanya terlihat lebih dalam dari hari kemarin. Di belakangnya berjalan sosok tinggi. Maru.
“Mereka datang,” gumamku. Jeno dan Harry langsung menoleh.
Maru berdiri agak jauh. Rambutnya masih jabrik seperti biasa, kaus lusuhnya tertiup angin. Tapi kali ini, dia tidak tampak menyebalkan. Tidak tersenyum mengejek. Tidak sombong. Hanya ada mata sayu yang terus menunduk.
“Maru…” panggilku kelu, “katakan… apa yang terjadi semalam?”
“Benar. Kaulah yang bersama Aldi,” desak Jeno.
Maru mendongak. Sorot matanya berubah tajam. “Kalian menyalahkanku? Atas apa yang terjadi pada Aldi?”
“Kami semua tahu Aldi. Seberapa pun gilanya dia, tidak akan pernah berenang sendirian malam-malam di laut.” Aku mulai menaikkan nada suaraku. Lalu aku perlihatkan kunci yang kutemukan di pantai tempat Aldi ditemukan. “Ini! Dia masih menyimpan kuncinya saat di temukan. Kenapa?”
Maru langsung maju, hendak meraih kunci di tanganku. Namun buru-buru kutarik kembali tanganku.
“Berikan padaku! Itu milikku! Milik ayahku! Milik Balai Desa!” cecarnya.
“Kenapa dia masih menyimpannya? Katakan apa yang terjadi!” desak Jeno lagi.
Maru mendengus kesal. “Berhenti menyalahkanku! Seolah kalian tak pernah meninggalkannya. Kalianlah yang meninggalkan Aldi, dan aku yang tinggal dengannya. Kalianlah yang meninggalkan teman kalian sendirian.”
Hening. Kata-katanya seolah menghantamku dengan keras.
“Tak ada yang menyalahkanmu, Maru,” ucap Candra landai. “Katakan saja apa yang terjadi?”
Maru kembali menunduk. Dia meremas jemarinya dengan gugup. Kami terdiam, menunggunya siap unduk membuka mulut.
“Setelah kalian pergi, kami langsung menuju ke ruang yang akan kita masuki. Tapi tepat saat kami berada di depan pintu, aku mendengar suara mobil berhenti. Aku terlalu takut untuk melanjutkan. Aku meminta Aldi untuk pergi saja. Tapi dia tak pernah meninggalkan. Aku berusaha merebut kuncinya, tapi aku mendengar suara langkah kaki mendekat. Aku ketakutan…” Dia berhenti sejenak, mengambil napas. “Aku lari sendirian. Saat aku melompati pagar, aku melihat mobil itu adalah milik orang yang biasa datang ke Balai Desa. Orang yang kalian curigai. Pria berkacamata dengan mobil merah.”
Seketika aku membeku. Kami saling melempar pandang.
Maru menengadah. “Kembalikan kuncinya sekarang,” nada itu absolut. Sebuah perintah. Tapi aku tetap menggenggam erat kuncinya. “Apa yang kalian inginkan lagi? Aku sudah cerita semuanya. Sumpah, aku nggak tahu bagaimana Aldi bisa berakhir di laut,” ucapnya frustrasi.
“Ini adalah barang bukti. Kau tidak bisa mengembalikannya pada ayahmu begitu saja seolah tak ada yang terjadi,” pekikku.
Maru kembali mendesah. “Aku nggak mau terlibat masalah ini. Ayah akan memarahiku jika dia tahu aku mencuri kuncinya!”
Aku tercengang. “Kau takut ayahmu memarahimu?! Aldi celaka karena ini. Kau masih memikirkan dimarahi ayahmu?!” Aku melangkah maju. Marah. Untungnya Jeno langsung memegangi lenganku.
“Pelankan suara kalian,” bisik Candra melihat seseorang lewat di jalan.
“Ini lebih dari dimarahi,” sambung Maru. “Kalau kita terus terlibat, kita bisa saja berakhir seperti Aldi.”
Harry langsung menutup mulutnya. Bola matanya bergetar ketakutan. Jeno dan Candra juga membatu. Wajah mereka pucat seketika. Kalau aku? Aku juga takut. Tapi aku lebih takut lagi kalau Aldi tidak kembali.
Kami terdiam cukup lama. Bergelut dengan perasaan masing-masing. Angin mengusap rambut kami, tapi tak cukup menenangkan. Aku menatap mereka satu per satu, lalu menunduk. Dada ini rasanya sesak.