Pagi di rumah kami selalu dimulai dengan kesibukan kecil yang perlahan tumbuh jadi kelelahan. Tapi pagi ini, Ibu sudah bangun lebih awal dari biasanya. Di dapur, ia menanak nasi dan membungkus tumis tahu ke dalam kotak makan plastik bening yang tutupnya sudah mulai longgar. Itu adalah satu-satunya kotak makan yang tersisa sejak dua lainnya retak dan dijadikan tempat benih ikan Bapak. Sambil membungkus, Ibu bersenandung kecil. Tapi suaranya berat, seperti diseret dari tenggorokan. Ia bilang akan mengirimkan makanan itu ke Bu Siti, ibunya Aldi.
“Kasihan dia,” ucap Ibu, tidak pada siapa-siapa. “Belum sempat kerja lagi, harus merawat Aldi siang malam. Entah sudah makan apa belum…”
Tak ada satu pun keluhan soal uang, padahal aku tahu beras kami juga tinggal separuh kaleng, belum kami berbagi dengan ibu dan bapaknya Aldi.
Di teras, Bapak tengah membongkar alat tangkapnya yang paling tua. Tali dan pemberat berserakan di depannya, dan ia menyambungnya dengan tangan sabar seperti biasa. Kalau kau belum tahu, Bapak bisa memperbaiki apa pun, kecuali luka. Luka kami banyak. Terutama Mbak Rani.
Aku sendiri duduk bersandar di pilar ruang tengah, di depan TV yang menayangkan kartun pagi. Tapi aku bahkan tak tahu siapa yang sedang bicara di layar. Aku terlalu sibuk memikirkan Aldi. Aku belum berani menjenguk lagi. Bahkan terakhir pun kami hanya diperbolehkan menatapnya dari jendela kaca. Kata Ibu, tubuhnya sudah dingin seperti ubin, dan hanya matanya saja yang bisa bicara sekarang, hanya memandang. Suaranya sebenarnya tidak masalah, tapi dia lebih memilih diam. Entahlah, Ibu bilang dia juga kehilangan ingatan pada malam tragedi itu. Entah ke mana pikirannya mengembara.
Tiba-tiba langkah pelan datang dari arah lorong. Mbak Rani. Ia berjalan pelan tapi tegas, mengenakan baju rumahan dan rambut terikat asal-asalan. Tapi bukan itu yang membuatku terpaku, melainkan matanya. Matanya yang sayu, pipinya yang menggurat. Ada sesuatu yang lain dari biasanya. Dia berdiri di dekat pintu, menatap Bapak yang berhenti sejenak dari kesibukan.
“Raka!” Ibu memanggil dari dapur. “Tolong bawakan ini ke depan!”
Aku pun bangkit dan mengangkat termos. Sedangkan ibu membawa kotak-kotak makanan yang di bungkus jadi satu dengan kain taplak. Aku membiarkannya memimpin hingga ke depan.
“Aku nggak lolos, Pak.” Aku mendengar Mbak Rani berbicara di ambang pintu.
Bapak memandang kalut. Ibu langsung menurunkan barang bawaannya. Sementara aku terus mendekap termos hangat itu. Rumah mendadak sunyi. Hanya suara TV yang masih memutar kartun tanpa penonton yang peduli.
Aku ikut menaruh termosnya, mulai panas di tanganku. Aku hampir tidak percaya apa yang barusan kudengar. Mbak Rani? Gagal? Itu mustahil. Dia belajar tiap malam. Dia bahkan menolak pergi ke warung hanya demi satu soal latihan tambahan. Aku bahkan pernah melihat menangis diam-diam karena salah mengerjakan satu esai. Dia seperti pejuang yang hidupnya hanya untuk ujian itu. Lalu sekarang… gagal?
Aku tercekat. Bahkan aku yang naik ke kelas VI, meski juara 3, aku bahkan tak belajar serajin Mbak Rani. Aku merasa ini tak adil.
Bapak bangkit dari duduknya, menatap lekat-lekat. “Terus, sekarang kamu mau apa?”
Mbak Rani menatap Ibu lama, lalu menarik napas panjang. Ia tidak menangis, tidak pula minta maaf. Ia hanya menjawab pelan, “Aku akan kerja paruh waktu, Bu… Pak. Ada lowongan kasir di swalayan dekat kantor Tada. Aku akan coba di sana dulu.”
Tak ada yang menjawab. Tak ada pelukan atau pelipur. Hanya aku yang berdiri mematung, menatap Mbak Rani seperti baru mengenalnya lagi. Dan saat itu juga, untuk pertama kalinya, aku merasa mimpi bisa gugur meski kau sudah berusaha sekuat tenaga.
Bapak hanya tersenyum, lalu mengangguk. Dia kembali sibuk dengan peralatannya, meski sangat kentara ia sedang pura-pura memperbaiki. Ibu hanya mengelus bahu Mbak Rani, lalu kembali mengangkat kotak-kotak makanannya.