Akhirnya hari ini aku resmi menjadi murid kelas VI. Hari pertama sekolah biasanya ramai. Penuh semangat, penuh cerita tentang liburan, sepatu baru, dan rencana nakal yang dibawa dari rumah. Aku tak tahu cerita apa bila teman-teman tanya, kecuali hari ini adalah hari pertama Mbak Rani bekerja. Dan tak mungkin aku menceritakannya. Namun, ada yang lebih dari heboh untuk diperbincangkan daripada liburan, yaitu tragedi yang menimpa Aldi. Mereka bergosip, seperti burung bangkai yang memangsa sisa makanan singa yang sudah tak lagi berbentuk asli.
Aku bisa membayangkan bagaimana situasi Mbak Rani kala insiden pemerkosaannya terjadi. Pasti lebih heboh dari ini. Aku merasa benar-benar kasihan pada mbakku itu. Tak kusangka, dia adalah wanita yang lebih kuat dari yang kuduga.
Aku masuk kelas bersama Jeno. Kami duduk di bangku kedua dari depan, tempat yang sudah disiapkan oleh Harry. Di depanku anak itu yang biasa memamerkan mainan barunya lebih diam hari ini. Sebelahnya Candra. Entah bagaimana mereka bisa jadi sebangku. Mungkin karena saat ini cuma mereka berdua yang tidak punya pasangan tetap.
Aku menoleh ke Jeno, lalu membisik, “Aku harus cerita. Tentang Aldi.”
Jeno menoleh cepat. Matanya melebar. Sekarang?”
Aku mengangguk pelan. Lalu mencolek dua orang di depanku. Harry dan Candra langsung balik badan. Kami mencondongkan tubuh lebih dekat.
“Aku mendengar ini semalam dari ibuku, kalau Jeno akan dipindahkan ke Singapura. Dia akan sangat lama di sana, mungkin bisa sampai bertahun-tahun.”
“Apa rumah sakit di sini sudah tak sanggup lagi menangani Aldi?” tanya Harry, nadanya juga pelan.
Aku terdiam sejenak. Kalut. “Kau tahu kualitas medis di negeri kita bagaimana, kan? Tapi aku berpikir ini bukan hanya sekadar rujukan belaka. Aku menduga kalau Aldi sengaja dikirim, agar insiden malam itu tak diungkit lagi.”
Candra memiringkan kepalanya. “Bukankah katanya Aldi sudah nggak ingat kejadian itu?”
“Tapi ada kemungkinan kembali, bukan?” sambung Jeno.
Harry mencondongkan lebih dekat. “Tapi siapa yang akan membiayainya? Omku kemarin saja liburan ke Singapura menghabiskan banyak uang. Apalagi sampai bertahun-tahun, keluarga Aldi dapat uang dari mana?”
“Seseorang dari Pantai Pesona Kelapa. Mungkin pria berkacamata dengan mobil merah,” seleorohku pasrah.
Semua orang menegang, saling lempar pandang.
Aku menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tak ada yang mendekat. Lalu kubuka tasku dan kukeluarkan lembar dokumen yang pernah kami temukan. Juga sebuah kunci. Semua orang tercengang, mundur seketika.
“Apa maksudmu, Ka? Kau benar-benar masih menyimpan ini…” gumam Jeno.
“Kita harus mengatakan kebenarannya tentang malam itu,” jawabku mantap. “Ini tentang keadilan Aldi. Teman kita. Kebenaran harus diungkap.”
Harry mencondongkan badannya lari. “Kau yakin?” bisiknya, suaranya sedikit gemetar. “Seperti yang Maru bilang, ini berbahaya… kita bisa saja berakhir celaka.”
Aku mengisyaratkan untuk Candra dan Jeno kembali merapat. “Kejadian tidak akan terjadi dua kali. Jika mereka melakukan insiden berulang, itu sangat kentara. Kita bisa!”
Semua orang terdiam. Mata mereka fokus ke kunci dan dokumen di atas meja. Aku bisa merasakan keraguan dan ketakutan mereka, tapi aku juga merasakan ikatan pertemanan yang kuat.
“Kalian pikir mereka akan tetap membiayai pengobatan Aldi kalau kita cerita?” Candra akhirnya bersuara. Dia menatap kami satu per satu dengan ekspresi serius yang jarang kulihat darinya. “Bagaimana jika setelah kita melaporkan mereka yang entah siapa itu ke polisi, mereka berhenti membiayai Aldi?”
Aku terdiam. Kami semua terdiam. Kalimat Candra selalu bisa menohokku, membuatku berpikir seribu kali.
“Aku sangat peduli dengan Aldi, sama seperti kalian. Aku juga merasa bersalah padanya seperti dirimu, Ka,” Candra menatapku. “Tapi kalau orang-orang tahu kita yang menerobos malam itu, dan kita bahkan tidak tahu pasti Aldi benar-benar tenggelam karena kecelakaan atau disengaja. Ini bisa jadi bumerang bagi kita, mereka akan menyangkal dengan mudah. Dan jika mereka sakit hati dan akhirnya memutus membiayai Aldi, maka Aldi tak akan pernah bisa berkumpul dengan kita lagi.”
Hening.
Harry menunduk. Jeno menggigit bibir. Dan aku… aku merasa seperti ada tali tak terlihat yang menarik lidahku agar tak bicara lagi.
Bel berbunyi. Kami semua tersentak. Anak-anak lain mulai berdatangan, mulai memadati bangku-bangku. Aku buru-buru memasukkan kembali kunci dan lembar kertas itu ke dalam tas.
Bu Dewi masuk dan kelas di mulai.
Aku duduk bersandar di bangku kayu yang dingin meski matahari mulai meninggi. Sambutan Bu Dewi sebagai wali kelas kami yang baru tak kuhiraukan, atau siapa-siapa yang menjadi pengurus kelas. Yang kulihat cuma bayangan layangan yang putus, drone yang jatuh, dan Aldi yang ditemukan di tepi pantai dengan tubuh pucat dan tak bergerak.
Omongan Candra berputar-putar dalam kepalaku.
“Bagaimana jika setelah kita melaporkan mereka yang entah siapa itu ke polisi, mereka berhenti membiayai Aldi?”
“Dan jika mereka sakit hati dan akhirnya memutus membiayai Aldi, maka Aldi tak akan pernah bisa berkumpul dengan kita lagi.”
Aku mendongak, melirik bangku yang diduduki Candra. Posisi bangku yang sangat disukai Aldi, karena dia dengan mudah menoleh padaku dan menunjukkan gambar jeleknya. Tapi hari ini, udara seolah lebih berat tanpa tawa dan suara gaduhnya.
“Aku pengin bilang semuanya…” bisikku pelan ke Jeno. “Tapi aku nggak tahu apa itu benar atau salah.”
Jeno diam sebenatar, sebelum akhirnya menjawab, “Aku juga bingung. Tapi kalau kita cerita sekarang, Aldi bisa kehilangan segalanya.”
Aku menunduk. Ibu bilang kita harus jujur, tapi jujur juga bisa membuat orang lain menderita. Lalu aku ingat Mbak Rani yang selalu bilang. “Nggak semua benar itu baik, Rak. Tapi semua baik pasti benar.” Aku nggak tahu maksudnya dulu. Tapi mungkin… sekarang aku sedikit paham.