Laut yang Tertawan

Ulat Bulu
Chapter #19

BAB 18: Politik Dinasti Presiden

Hidup memang aneh. Kadang rasanya seperti layangan yang putus dan terbang bebas, tak tentu arah, tapi tetap melayang. Tapi kadang juga seperti sepatu basah yang dipakai terus, berat, lembab, dan bikin lecet di hati.

Sudah dua minggu sejak Aldi pergi ke Singapura. Awalnya aneh sekali rasanya sekolah tanpa suara teriakannya atau ejekan acak tentang bentuk kepalaku. Tapi lama-lama, aku dan teman-teman mulai terbiasa. Kami tetap sekolah, belajar, dan bahkan sesekali tertawa. Hidup meskipun seret, tetap harus jalan. Jangan sampai mampet.

Hari-hari berjalan biasa saja. Pagi aku bangun, makan seadanya, pergi sekolah bersama Jeno, lalu pulang dengan langkah lambat sambil menghindari panas matahari. Kadang kalau kami sedang semangat, kami mampir main benteng-bentengan atau lomba lari dari tiang listrik ke pohon waru. Tapi kalau tidak, ya sudah. Kami hanya duduk di dermaga dan berbicara tentang masa depan seperti orang tua.

Aku juga makin sering memerhatikan sekitar. Dulu aku pikir jadi anak kecil artinya tak perlu pusing soal harga. Tapi sekarang aku tahu, setiap Ibu mengomel karena gula habis atau beras tak cukup hingga minggu depan, ada sesuatu yang terasa mengganjal di dadaku. Apalagi kalau Bapak pulang dengan ember kosong dan wajah lebih lelah dari biasanya.

Pernah suatu sore, Bapak berkata lirih pada Ibu di teras, “Laut itu bukan lagi milik kita.” Tapi aku tahu betul, yang dia maksud bukan soal laut saja.

Aku juga memerhatikan Mbak Rani. Sekarang dia sudah jarang marah-marah padaku. Pagi-pagi, dia sudah dandan rapi dan menunggu di depan rumah. Tak lama kemudian, motor Bli Tada akan berhenti, dan mereka berangkat kerja bersama. Meskipun katanya cuma kerja part time sebagai kasir di tempat swalayan dekat kantornya Bli Tada, entah kenapa mereka tampak seperti pasangan dewasa yang sungguh tahu ke mana hidup akan dibawa.

Kadang aku heran, kenapa orang-orang di sekitarku makin banyak diam. Padahal mulut tetap berderak, tangan tetap bekerja. Tapi diam mereka bukan kosong, melainkan penuh. Seperti laut yang terlihat tenang tapi di dasarnya penuh arus kuat yang tak terlihat.

Sore itu, suara TV dari ruang tengah terdengar lebih keras dari biasanya. Aku baru saja selesai menyapu halaman depan. Ya, tugas baruku tiap sore, kecuali kalau hujan. Aku masuk ke rumah sambil menepuk-nepuk debu dari celana, lalu mendekat ke ruang tengah. Bapak sedang duduk bersandar di sofa kumal, satu kaki bertumpu di meja kecil, memelototi layar kaca yang menampilkan berita. TV tabung yang entah keluaran tahun berapa itu sudah tak sejernih dulu lagi.

Di layar, foto-foto wajah orang-orang penting muncul satu per satu, dengan teks besar bertuliskan “Siapa Capres Terkuat di Pemilu Mendatang?” Lalu muncul cuplikan debat, pidato, janji-janji manis seperti permen gula-gula, seperti “19 juta lapangan pekerjaan!”, “Pemberantasan korupsi!”, “Ekonomi rakyat kecil jadi prioritas!”

Aku duduk di lantai, memeluk lutut memandang layar itu seperti menonton kartun yang tidak lucu. Dari foto wajah-wajah itu aku bisa melihat orang yang paling muda, yang sangat familiar.

Bapak hanya bergumam pelan, “Wah… wajahnya beda-beda, tapi suaranya kok sama ya…”

Aku enggan menjawab. Tapi dalam hatiku, aku ikut menggumam. Presiden, ya…

Aku teringat lagi pada cita-citaku. Waktu aku menulis di buku PR, ‘Aku ingin jadi presiden’. Tapi bukan untuk jadi orang banyak tampil di TV atau pakai baju safari dengam banyak lambang. Aku ingin jadi presiden yang bisa melindungi laut, menjaga sekolah tetap aman, memastikan Aldi bisa pulang dari Singapura dengan bisa berlari lagi. Aku ingin dunia tempat Mbak Rani tidak perlu takut membuka lembaran hidup yang baru.

Aku menoleh ke arah Bapak. Matanya tampak lelah, bahkan lebih lelah dari biasanya. Di meja di dekat kakinya, ada amplop tagihan listrik dan nota pembelian solar. Harga-harga naik, katanya, tapi ikan di laut tak ikut naik.

“Apa kamu masih mau jadi presiden, Rak?” tiba-tiba Bapak bertanya, matanya tak lepas dari TV.

Aku mengerjap, aku menjawab pelan. “Ya, Pak.”

“Yakin?”

Aku mengangguk mantap. “Yakin. Biar bisa bikin aturan yang benar. Biar nggak ada yang pura-pura jadi pahlawan padahal nyakiti orang kecil.”

Bapak tak menjawab. Tapi senyumnya berubah sedikit. Ada sesuatu di baliknya. Entah harapan atau rasa cemas, karena tahu betapa berat dunia yang ingin kumasuki.

***

Aku selalu berpikir Jakarta adalah tempat di mana semua keputusan penting diambil. Di mana orang-orang memakai dasi sambil duduk di kursi empuk, mengatur nasib kami yang ada jauh di pinggir laut. Hari ini, untuk pertama kalinya, aku menginjakkan kaki di kota itu. Bersama Jeno dan Bli Tada, kami naik kereta sejak pagi, menempuh perjalanan yang katanya 30 kilometer jauhnya. Tapi buatku, rasanya seperti ratusan kilometer. Karena perbedaan antara sini dan desaku, seperti antara televisi dan kenyataan.

“Ayo cepat, Monas menunggu!” seru Bli Tada sambil melambaikan tiket di depan kami.

Aku dan Jeno berlari kecil. Di stasiun, kami berdiri di antara orang-orang yang sibuk, seperti pegawai kantor dengan map di tangan, anak kuliahan dengan ponsel besar, dan ibu-ibu dengan gendongan bayi. Kami satu-satunya anak SD di sana yang pakai kaus olahraga dan celana pendek, mata kami membelalak setiap kali melihat gedung yang lebih tinggi dari yang ada di Pantai Pesona Kelapa.

“Ka,” bisik Jeno, “kota ini kayak di film Power Rangers, ya?”

Lihat selengkapnya