Hari ini seluruh desa sibuk. Sejak matahari baru naik separuh, orang-orang dewasa sudah mengenakan pakaian terbaik mereka. Bapak juga sudah menyiapkan baju batiknya sejak semalam, katanya biar tampak pantas di depan bilik suara. Ibu menyiapkan sarapan lebih awal, aku mendapati wajahnya sedikit lebih bersinar daripada biasa. Tapi aku tahu itu bukan karena bahagia. Katanya, hari ini adalah hari penting bagi negara. Hari pemilihan. Entah mengapa semua orang sangat bersemangat hari ini, padahal selama lima tahun perubahan di desa saja tidak ada.
Tapi bagiku, Jeno, Harry, dan Candra, ini hanyalah hari yang biasa dan sekaligus bukan. Kami hanya bisa duduk di bawah pohon jambu dekat TPS yang dibagun dalam semalam di halaman rumah Pak RT. Mengamati antrean panjang warga desa yang mengular hingga tepi jalan. Baliho-baliho raksasa masih berdiri di sepanjang jalan, meski sebagian sudah miring dan terangkat angin.
“Kalau kau bisa nyoblos, Ka, kau pilih siapa?” tanya Jeno sambil menggigit batang rumput kering.
“Yang jelas bukan anak presiden yang mengubah peraturan itu,” jawabku mantap sambil menunjuk baliho pasangan calon presiden.
Harry, yang tadi diam saja, ikut menimpali. “Aku juga. Kayaknya dia orang bodoh, bahkan kurasa lebih bodoh dari Maru. Lihat saja mukanya, seperti orang yang nggak naik kelas berulang kali.”
“Saat kampanye dia terlihat meyakinkan,” sahut Candra tiba-tiba.
Kami semua terdiam sejenak. Angin membawa suara dari pengeras suara di TPS. “Jangan lupa mencelupkan jari setelah mencoblos!” kata petugas dengan semangat, meski kami tahu tak semua orang mencoblos dengan jujur, ibuku contohnya. Bahkan kemarin saja kau masih mendengar bisik-bisik ‘amplop putih’ di rumah-rumah warga.
“Aku sih pengin nyolos Raka,” kata Jeno tiba-tiba sambil terawa. “Dia kan mau jadi presiden.”
Aku tertawa kecil, lalu memeluk lutut.
“Tapi kayaknya sekarang, nggak ada yang bisa jadi presiden tanpa restu orang besar,” sambung Candra datar.
Kami pun diam lagi. Sinar matahari menyilau dari sela-sela dedaunan di tas kami. Orang-orang terus berdatangan, membuat antrean makin panjang. Hingga kulihat Mbak Rani keluar dari TPS sambil menyelap ujung kelingkingnya yang sudah ternoda tinta. Lalu di susul Bli Tada. Mereka berjalan berdua menuju arah pantai sambil mengobrol santai. Jujur saja, senang rasanya melihat Mbak Rani punya seri diwajahnya, bukan hanya guratan marah sepanjang hari di keningnya. Namun—
“Itu Rani, ya? Yang waktu kecil itu dicabuli…” bisik ibu-ibu di belakangku.
“Iya. Sepertinya dia pacaran sama anaknya Bu Sundari. Kasihan, ya?” sahut temannya.
“Rani?”
“Anaknya Bu Sundari lah… lihat saja, dia gandeng dan punya kulit yang bersih. Malang sekali bila dapat Rani.”
“Hmm, benar juga.”
Aku mendengus. Tanganku sudah mengepal. Ingin sekali kutonjok wajah ibu-ibu itu. Tapi aku hanya anak-anak. Suaraku akan ditertawakan, lalu dilupakan. Sama seperti suara Mbak Rani yang dulu pernah memekik keras, tapi tak ada yang benar-benar mendengar.
Aku memandangi punggung mereka, Mbak Rani dan Bli Tada. Mereka tertawa kecil. Dan di belakang mereka, orang-orang hanya melihat luka yang tak kunjung bisa sembuh, seolah kesalahan hidup Mbak Rani adalah bernapas terlalu keras di dunia yang tidak pernah ramah pada perempuan sepertinya.
Aku bangkit. Ingin sekali berteriak pada orang-orang bahwa bahwa Mbak Rani bukanlah wanita kotor. Tapi…
“Kau mau ke mana, Ka?” lontar Jeno.