Laut yang Tertawan

Ulat Bulu
Chapter #22

BAB 21: Luka Di Tepi Laut

Hari ini menunya ayam suwir, entah dari ayam bagian mana. Karena saat aku mengaduk-aduk nasiku yang lembek dan menatap potongan kecil berwarna pucat di pojok kotak makan itu, aku dan Harry semakat lebih mirip serat kelapa.

Kami makan di bangku kayu di bawah pohon flamboyan, tempat favorit kami.

Harry duduk di seberangku dengan ekspresi seperti ilmuwan sedang mengamati virus. “Aku bilang ke Mama, mau bawa bekal sendiri. Tapi Mama bilang nggak boleh,” gerutunya pelan. “Katanya sekolah ngelarang. Karena kalau semua anak bawa bekal, program ini kelihatan gagal.”

“Aku nggak ngerti,” kata Jeno sambil mengunyah pelan, rasanya nyaris hambar. “Kalau nggak sehat dan bikin kita trauma, kenapa harus diterusin?”

“Karena yang penting bukan sehat atau tidak, Jen. Yang penting berhasil atau tidak di laporan. Itu seperti kita sedang mengerjakan ulangan, apa pun hasilnya yang penting dikumpulin.” Harry menatap kosong ke ujung ruangan.

Jeno tak menjawab. Kulirik dia, ternyata sudah menghabiskan makanannya. Dia memang tak pernah rewel soal makanan. Tapi yang membuatku terpikir justru bukan ayam atau sayur potong yang hambar itu. Tapi obrolan kemarin, ketika aku mendengar Bu Sundari, bicara soal ‘bangsawan yang bangkrut’.

Aku menatap Jeno yang sedang membolak-balik kotak makannya yang telah kosong. Lalu tanpa sadar aku bertanya, “Jen, beneran ya… kau itu bangsawan?”

Semua menoleh dengan cepat, termasuk Candra yang makan dalam diam di samping Harry.

“Siapa yang bilang?” gumam Jeno.

“Ibumu. Aku nggak sengaja dengar waktu hari coblosan,” balasku sambil menusuk-nusuk nasiku, tak nafsu makan.

“Sepertinya sih begitu,” katanya akhirnya. “Kalian tahu kan namaku Anak Agung. Di Bali, itu semacam gelar. Kalau diurut-urut, keluargaku dulu punya tanah yang luas, sawah, bahkan kata Kak Tada kakek-nenek kami tinggal di puri.”

“Terus kenapa pindah ke sini?” tanya Candra, ikut penasaran.

“Karena tanah-tanah itu digusur. Pemerintah bilang untuk pembangunan pariwisata. Katanya demi Bali yang modern. Dan juga ada satu peristiwa yang membuat keluargaku bangkrut. Akhirnya keluargaku pindah ke sini, mencari hidup baru.”

Aku memandang wajah Jeno. Selain lesung pipit manisnya itu, dia tidak terlihat seperti bangsawan. Tapi sekarang aku tahu, mungkin karena bangsawan bukan soal pakaian atau gaya bicara seperti yang di film-film, tapi cerita yang terpendam.

“Pantas Aldi selalu memanggil nama depanmu. Ternyata dia sudah tahu,” sahut Harry.

Candra meletakkan sendoknya, sepertinya dia juga tak terlalu nafsu. “Pasti berat hidup mewah tiba-tiba tinggal di rumah sederhana pinggir pantai,” gumamnya yang tak terdengar seperti anak-anak.

“Mmm…” Jeno berdengung lama. “Aku nggak terlalu ingat, kalian tahu kan aku gede bareng kalian. Yang ngerasain itu Kak Tada.”

“Lalu apa Bang Tada harus nikah juga sama bangsawan? Setidaknya dia pernah ikut aturan bangsawan,” lanjut Candra, yang membuatku seketika terdiam.

Jeno dengan cepat menggeleng. “Heh, ini sudah zaman modern. Sudah nggak zaman begituan.”

Aku menunduk, memikirkan nasib Mbak Rani. “Tapi sepertinya ibumu masih pengin itu.”

Jeno mendesah panjang. “Andai gelar bisa ditukar sama uang, pasti aku tidak bergaul dengan kalian.”

Candra melirik sinis. “Kau menyebut kami miskin, ya?”

Aku menahan tawa. “Kalau kita kaya sudah pasti tinggal di balik tembok, di surga yang bernama Pantai Pesona Kelapa. Dan tidak makan makanan lembek ini.” Aku melempar pelan sendokku ke nasi dengan frustrasi.

Sontak mereka terkekeh. Aku juga akhirnya tertawa, pelan, seperti angin yang dihasilkan kipas angin di kelas ini. Karena kami tahu, di balik tawa itu, ada kenyataan yang tidak bisa ditertawakan. Cahaya matahari yang lolos dari dedaunan di atas menerangi seragam kami yang sudah kekecilan.

Kini aku mengerti kenapa Bu Sundari nggak suka sama Mbak Rani, dia harus menjaga harkat martabat yang tersisa dari keluarganya setelah kebangkrutan. Tapi Bli Tada malah mencintai mbakku yang dari keluarga miskin dan punya masa lalu yang kelam. Kini aku mulai mengerti kenapa ibu menjodohkan Mbak Rani dangan Bang Dandi. Ternyata masa lalu sangat berpengaruh itu meski kita sudah memulai hidup baru.

Sebagian orang ingin melupakan masa lalu, tapi tidak ingin meninggalkan dirinya. Kontradiktif yang sangat kompleks. Aku benar-benar tak mengerti orang dewasa.

Lihat selengkapnya