Presiden baru telah dilantik. Si Fufufafa telah naik ke kursi wakil presiden. Sungguh sangat lucu.
Hari-hari belakangan ini terasa berjalan lebih cepat dari biasanya. Matahari terbit lebih awal, tapi rasanya waktu selalu habis sebelum sempat kupegang. Aku bangun sebelum ayam jantan sempat berkokok, bukan karena ingin, tapi karena sekolah sekarang dimulai lebih pagi. Ada tambahan jam pelajaran untuk persiapan ujian nasional. Kata guru-guru, ini momen penentuan. Kata Ibu, ini penentu masa depan. Kata Bapak jalani saja.
Aku bukan lagi anak kecil yang tiap malam terbangun hanya karena ingin kencing. Aku juga bingung, entah sejak kapan kebiasaanku itu berakhir. Aku juga tak lagi takut akan setan-setan di dapur. Aku sadar bahwa kegelapan bukan lagi hal yang menakutkan. Badanku bertambah tinggi, suaraku kadang serak, dan aku bisa mencari kaus kaki sendiri tanpa harus teriak memanggil Ibu. Kadang aku merasa asing dengan tubuhku sendiri, sepatu tak muat lagi, seragam mengecil, dan rambut yang mulai sulit diatur. Masa kecil seperti menjauh diam-diam tanpa pamit.
Pagi ini, saat lewat di jalan yang masih berbatu menuju sekolah, mataku tak sengaja menangkap rumah Aldi. Rumah itu kosong seperti biasa, kini terlihat lebih menyedihkan. Ilalang tumbuh liar di halaman, menutupi hampir seluruh teras. Genting ada yang copot, beberapa bahkan sudah pecah, seakan tak ada yang peduli. Dulu rumah itu penuh tawa Aldi dan bapak-bapak berkumpul. Sekarang, ia seperti perut kosong yang terlalu lama dibiarkan, menggembung oleh sunyi dan debu.
Aku menatap rumah itu agak lama, sampai Jeno menepuk bahuku dan berkata, “Ayo, nanti terlambat.”
Aku mengangguk, tapi hatiku masih tertinggal di sana, di halaman rumah yang pernah jadi saksi teriakan, tawa, dan persahabatan yang kini terasa jauh. Hari-hari berubah. Kami berubah. Tapi kenangan? Tetap diam di tempat, menunggu dipanggil.
Di sekolah, suasanya masih sapa seperti dulu, ramai gaduh, dan penuh wajah yang akrab. Bedanya, kini suara tawa mulai terdengar lebih berat, dan obrolan kami sudah tak sekadar tentang kartun atau layangan, tapi soal nilai try out, guru baru yang katanya galak, dan mimpi-mimpi kecil yang mulai mencari bentuk.
Di bangku kami yang sudah penuh coretan, aku dan Jeno duduk berdampingan seperti biasa. Harry sudah duduk di tempatnya juga, masih rapi dengan rambut belah tengah. Oh iya, pipi gembulnya sudah hilang secara perlahan. Di sampingnya, Candra duduk dengan tenang, membuka buku pelajaran bahkan sebelum bel berbunyi. Dia masih menjadi murid tertinggi di kelas. Kami memilik gelar baru untuknya, yaitu si Jangkung. Yang paling kusuka dari perubahannya adalah dia tak sekaku dulu.
“Pagi-pagi sudah belajar? Niat sekali, Can,” Jeno berseloroh sambil mengetuk sandaran kursinya.
Candra hanya menoleh sekilas. “Aku cuma nggak mau remidial lagi. Ulangan kemarin bikin aku mimpi buruk tiga malam.”
Harry langsung menimpali, “Tenang Can. Nilaimu pasti aman. Yang bikin guru stres itu si Jeno. Jawabannya kayak tebak-tebakan.”
“Aku bukan nebak. Aku merasakan jawabannya,” bela Jeno dengan bangga. “Itu namanya insting belajar.”
Aku terkekeh pelan. Rasanya menyenangkan masih bisa duduk bersama mereka, meski banyak hal telah berubah. Kami semua tumbuh perlahan, tapi tetap bersama.
“Eh, ngomong-ngomong, kalian mau nerusin di mana?” tanya Candra, sepenuhnya balik badan.
Harry mengikuti. “Aku ingin ke SMP favorit di kota.”
Jeno merenung sejenak. “Kalau melihat nilaiku, SMP terdekat saja sudah cukup.”
“Sepertinya aku juga akan ke sana,” sambung Candra.
Seketika aku tercengang. “Heh! Kalian ini apa-apaan, sih? Kan kita sudah sepakat buat lulus bareng dan masuk SMP bareng. Kalian lupa ya janji kita waktu berenang di laut?”
Harry menatapku tajam. “Eh, Ka. Kita sudah gede. Semuanya sudah berubah. Kita bisa berteman selamanya, tapi tidak selamanya kita bisa bersama.”
Candra mengangguk pelan. “Aldi kan yang berjanji lebih dulu waktu itu? Tapi sekarang dialah yang ingkar. Kadang janji hanyalah kalimat penyemangat.”
“Segalanya sudah berubah,” timpal Jeno. “Aku merindukan Aldi, kalian pasti juga. Tapi aku merasa bahwa aku sudah terbiasa.”
Aku menunduk. Termenung cukup lama. Jujur, aku kecewa dengan mereka. Tapi apa yang mereka bilang ada benarnya juga. Tak ada yang abadi di dunia ini. Dan kami sudah sangat berubah.
Saat itu Bu Dewi masuk ke kelas, rambutnya diikat lebih rapi dari biasanya, dan ekspresinya galak seperti biasa. Tapi ketika dia berkata, “Hari ini kita tidak ada pelajaran baru, kita bahas soal latihan UN kemarin,” serentak semua mendesah panjang.