Siang hari itu panas dan teras. Matahari seperti enggan bergeser dari puncaknya, menyorot langsung ke kepala begitu aku menyeberangi halaman dengan pohon ceri dan pelinggih itu. Di tanganku ada buku catatan Matematika dan satu kotak pensil yang tutupnya mulai longgar. Ujian akhir makin dekat, aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku harus belajar lebih giat. Bukan demi juara, tapi demi… hmm… Entahlah, mungkin demi punya alasan tetap datang ke sekolah dan tidak terlalu banyak memikirkan dunia yang kacau.
Jeno menyambutku di depan rumah, mengenakan kaos putih yang agak kebesaran dan celana pendek belel. “Masuk, Ka. Bli Tada di dapur, katanya lagi bikin kopi.”
“Wah, bisa sekalian nyemil,” jawabku sambil tertawa kecil.
Tapi langkahku baru saja sampai ambang pintu saat suara keras terdengar dari dalam. Suara seorang perempuan.
“Kamu pikir aku bisa diam saja melihatmu menggandeng perempuan itu ke mana-mana, Tada?! Tiap hari kalian boncengan! Bermesraan di pantai! Semua orang membicarakanmu!”
Aku sontak berhenti. Napasku tertahan. Jeno menatapku, gugup. Kami saling menoleh seolah tak yakin harus lanjut atau mundur. Itu suara Bu Sundari, ibunya Jeno. Dan yang dia bicarakan jelas sekali Mbak Rani.
“Dia bukan perempuan biasa, Tada! Dia itu…” kalimat itu tertahan sejenak, “dia itu bekas bahan pembicaraan satu desa! Masa lalunya kotor! Apa kau mau keluarga kita dibicarakan karena ulahmu itu?”
“Rani nggak salah, Bu!” terdengar suara Bli Tada yang berusaha tetap tenang, meski nadanya mulai naik. “Kenapa Ibu malah menyalahkan dia? Dia korban, Bu. Korban! Kenapa malah dihina seolah-olah semua itu keinginannya sendiri? Lagian itu sudah sembilan tahun lalu!”
“Korban atau tidak, lampau atau baru saja, tetap saja dia tak cocok untukmu! Kau ini ningrat. Nama ningratmu ini adalah satu-satunya yang tersisa dari keluarga kita. Apa yang dipikirkan kerabat kita di Bali bila tahu siapa Rani sebenarnya?”
“Aku tidak peduli omongan mereka. Kerabat, warga desa, atau siapa pun itu… Aku nggak peduli!”
“Kehormatan keluarga ini ada padamu, Tada. Dan kau mau menyerahkannya ke perempuan rusak?!”
Aku tak bisa bergerak. Tanganku berkeringat, meski angin dari laut sempat menyelinap lewat celah jendela. Di rumah kami, Ibu dan Bapak memang sering bertengkar belakangan ini, tapi pertengkarang ini rasanya seperti belati yang ditancapkan ke dada orang yang tak sedang ada di ruangan. Setiap kata. Setiap tudingan yang menusuk. Suara Bu Sundari menggema seperti palu yang terus memukul kepala. Kata-katanya terlalu tajam untuk kutelan diam-diam. Terlalu kejam untuk dianggap hanya omelan orang dewasa.
Bli Tada keluar, ke ruang tamu. Dia tampak berusaha menghindari pertengkaran. Tapi Bu Sundari terus menyusulnya. Wajahnya sangat marah.
Aku melirik Jeno. Dia menunduk. Mungkin dia malu, mungkin juga takut. Tapi aku tak bisa. Dadaku sesak. Telapak tanganku mengepal begitu keras hingga kuku-kukunya menekan kulit. Tanpa pikir panjang, aku melangkah masuk. Keras. Kaki-kakiku menghentak lantai hingga menimbulkan suara nyaring.
“Cukup!” teriakku. Suaraku bergetar. Tapi mataku menatap Bu Sundari dengan penuh keberanian. “Cukup! Jangan hina Mbak Rani terus!”
Semua orang terdiam. Bu Sundari membelalak. Bli Tada tampak syok. Aku bisa merasakan napas Jeno yang tercekat di belakangku.
Aku berdiri tegap. Kecil. Tapi aku tak mau terlihat kecil. Karena yang dihina itu bukan orang lain. Itu kakakku. Mbak Rani. Satu-satunya perempuan dewasa yang kutahu pernah memelukku begitu erat.
“Mbak Rani itu orang paling hebat yang aku kenal,” suaraku mulai parau tapi aku terus bicara. “Dia kerja keras, dia belajar setiap malam, dia masak buat kami, bantu Ibu, jaga aku! Dia bukan wanita kotor yang pantas dibicarakan semua orang! Dia keluarga kami! Berlian kami yang berharga!”
Suara di tenggorokanku pecah. Tapi aku tidak peduli. Aku menunjuk Bu Sundari dengan gemetar.
“Kalau Ibu tidak suka, tidak apa-apa. Tapi jangan hina dia seperti itu. Dia korban, bukan penjahat. Jangan perlakukan dia seperti kotoran najis!”
Hening.