Pagi itu aku bangun dalam rasa bahagia yang aneh. Tidak ada alarm Mbak Rani yang menggelegar, tidak ada suara Ibu menyuruh cepat sarapan, tidak ada jadwal belajar, tidak ada tumpukan buku. Hanya angin pelan dan aroma dapur yang samar menyelinap lewat sela pintu. Rasanya seperti lepas dari penjara.
Ini hari pertama setelah ujian nasional. Dan kupikir ini sah disebut hari balas dendam, karena semalam kau tidur tanpa beban, dengan niat penuh untuk bangun siang. Kupeluk bantal dan menarik selimut sampai ke dagu, menikmati langka-langkanya kemewahan seperti ini. Tapi ternyata perutku tidak setuju dengan rencanaku. Dia menggerutu lebih dulu, meminta haknya. Jadi aku akhirnya bangkit juga, menyeret kaki ke dapur dengan rambut awut-awutan.
Di sana kulihat punggung yang kukenal. Mbak Rani, dengan rambut dikuncir dan daster sudah agak lusuh, sedang menyiapkan nasi goreng di atas wajan. Asap tipis naik dari pinggiran minyak. Aroma bawang putih dan kecap langsung menyadarkan seluruh indraku bahwa aku memang lapar.
“Mbak,” panggilku sembari duduk di bangku kayu yang mengeluarkan bunyi nyaring. “Ibu ke mana?”
Mbak Rani menoleh setengah, matanya masih mengantuk tapi wajahnya tidak muram seperti biasanya. “Ibu ke rumah Pak RT. Katanya mau bantu-bantu karena beliau mau berangkat umroh lusa. Tadi sudah jalan sejak subuh.”
Aku mengangguk, mengambil gelas dan mengisi dari teko. “Bapak masih belum pulang?”
“Iya. Masih melaut,” jawabnya sambil mengaduk di wajan. “Kamu ngoroknya kayak kebo. Biasanya aja bangun tiap malam.”
Aku tersenyum malu. Tapi jujur, rasanya menyenangkan tak harus buru-buru.
“Kau libur kerja, Mbak?” tanyaku lagi sambil mengamati dua piring kosong di tas meja.
“Iya,” jawabnya seraya menuang nasi goreng ke atas piring. “Sekarang giliranku balas dendam.”
Aku tertawa kecil. Hari ini ternyata hari balas denda untuk semua orang. Tapi di balik senyum itu, ada rasa yang tak sepenuhnya bisa kuungkap. Sebab meski tidak lagi terikat belajar, sesuatu masih menggantung di udara. Mungkin karena pengumuman belum keluar. Atau mungkin karena kita tak pernah benar-benar bisa bebas dari kekhawatiran, bahkan di hari libur.
Tapi untuk pagi ini, aku memutuskan untuk menikmati nasi goreng buatan Mbak Rani yang enak, dia semakin jago dalam urusan rumah tangga. Hingga tiba-tiba—
BRAAKK!!!
Pintu depan dibanting dengan suara keras. Aku dan Mbak Rani sama-sama menoleh. Aku hampir menjatuhkan gelasku, dan Mbak Rani menghentikan sendoknya di tengah jalan. Ibu masuk dengan langkah terburu-buru. Wajahnya merah, matanya menyala-nyala. Bajunya bernoda arang dan bumbu.
“Ada apa, Bu?” tanya Mbak Rani, masih tenang, tapi kulihat wajahnya juga menegang.
Ibu menatap tajam ke arah Mbak Rani. Napasnya tersengal, seolah habis berlari mengejar kemarahan. Dia kemudian mendekat ke meja, menenggak isi gelasku sampai kosong, lalu mengisinya lagi dan menghabiskannya lagi. Tapi api amarah itu tak kunjung padam dalam dirinya.
“Ibu… baru bantu-bantu di rumah Pak RT,” katanya pelan tapi tekanan. “Dia bicara depan banyak orang. Kata Bu Sundari, anak perempuanku tak tahu diri… yang menggoda anaknya!”
Aku membeku. Mbak Rani pun tak langsung menjawab, wajahnya memucat.
“Bu—” aku ingin memotong, tapi Ibu mengangkat tangannya padaku.
“Diam, Raka. Ini bukan urusan anak kecil.”
Ibu beralih mendekat ke kompor, membelakangi Mbak Rani. Tangan kirinya mengepal, tangan kanan bergetar. “Sudah cukup. Kau harus berhenti ketemu Tada,” suaranya patah-patah. “Kau membuat orang-orang menertawakanku. Mereka bilang aku membesarkan anak perempuan yang murah. Kotor. Aku tak terima kau dihina seperti itu.”
Mbak Rani meletakkan sendoknya, menunduk lebih rendah. “Wajahnya kini memerah, tapi bukan karena malu. “Aku nggak pernah menggoda siapa pun. Aku mencintai Tada karena dia baik padaku, karena dia tak menghakimiku seperti semua orang.”