Hari itu seharusnya menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupku. Tapi entah kenapa, rasanya tidak seperti yang kubayangkan.
Langit begitu terang pagi ini. Awan menggumpal rapi seperti kapas bersih yang dilipat-lipat. Di halaman sekolah bendera berkibar malas, dan seluruh siswa berkumpul di bawah tenda putih yang dibentangkan semalam. Suasana ramai, bahkan lebih meriah daripada upacara hari Senin walaupun yang hadir hanya murid-murid kelas VI. Wajah-wajah penuh harap duduk di bangku plastik yang sebagian sudah miring karena tanah tidak rata.
Namaku dipanggil.
“Juara satu Ujian Nasional tahun ini di raih oleh Raka Wiraatmaja, dengan nilai Bahasa Indonesia sempurna!”
Semua orang bersorak. Jeno memekik lebih keras dari siapa pun, Harry berdiri sambil bertepuk tangan, bahkan Bu Dewi matanya basah. Aku berdiri perlahan, menapaki langkah ke depan sambil menggenggam erat ujung seragamku. Senyumku kaku. Aku melihat ke arah Candra, dia hanya tersenyum dan mengangguk. Seolah berkata, “Lakukan, Ka. Kamu berhak mendapatkannya.”
Saat kepalaku disentuh Pak Kepala sekolah, semua orang bertepuk tangan lagi. Tapi dadaku terasa sesak.
Harry yang biasanya sangat kompetitif justru menepuk pundakku saat aku kembali duduk. “Kau hebat, Ka. Aku senang yang mengalahkanku adalah dirimu.”
Aku tersenyum, tapi rasanya hambar.
Di tengah sorak-sorai itu, aku merasa seperti kehilangan sesuatu. Mungkin karena tak ada Aldi di bangku kami. Mungkin karena tak ada yang kuteriaki “Kita lulus bareng!” seperti janji kami dulu. Mungkin juga karena aku baru tahu, bahwa menang tak selalu berarti ringan. Kadang, justru jadi beban yang menggantung di punggung. Berat dan sunyi. Atau mungkin karena kemenangan ini datang di dunia yang belum sepenuhnya adil.
Setelah ucapara selesai, kami semua berkumpul di halaman sekolah. Para murid saling mengucapkan selamat, dan beberapa guru berfoto bersama siswa-siswa favorit mereka.
Di bawah pohon flamboyan, aku berdiri di antara teman-temanku yang saling melepas tawa. Aku hanya diam, seolah hari ini adalah awal dari sebuah akhir.
“Aku sudah pasti lanjut ke SMP favorit di kota,” kata Harry sambil dengan bangga melihat lembar nilainya. “Mama sudah siapkan dokumennya sejak kemarin.”
“Wah, tentu saja,” cetus Jeno, “itu mudah bagimu, dan uangmu.”
Harry berdecak, lalu menatapku. “Kau juga harus ke sana, Ka. Nilaimu bisa masuk tanpa tes, kata Bu Dewi. Bayangkan, kita sekelas lagi!”
Aku tak langsung menjawab. Kupandangi lembar nilai di tanganku yang mulai kusut karena terlalu lama kugenggam.
“Aku sama Candra akan coba SMP yang paling dekat dulu,” kata Jeno sambil menepuk bahu Candra, yang mengangguk pelan. “Tadi pagi kami sudah lihat persyaratannya. Pulang ini kami mau mampir, memastikan lagi. Jadi sepertinya kamu akan pulang sendiri, Ka.”