Malam itu langit sepi tanpa bintang. Angin dari laut bertiup malas, hanya cukup menggeser tirai tipis kamarku yang terbuka sebagaian. Rumah lebih sepi dari biasanya, tak terdengar suara kipas angin atau saluran TV berita yang ditonton Bapak. Aku keluar kamar. Jam di lorong masih menunjukkan pukul delapan, waktu yang sore untuk tidur bagi penghuni rumah ini.
Kulihat kamar Mbak Rani setengah terbuka. Aku penasaran apa yang ia lakukan ketika ujian sudah selesai. Kudorong pintu itu perlahan. Mbak Rani duduk bersila di lantai, buku-buku berserakan di sekelilingnya, beberapa terlipat, beberapa tergulung. Di mejanya ada sisa teh dingin dan pulpen-pulpen yang kehilangan tutup. Tapi yang paling mencolok adalah ekspresinya, tatapan kosong ke arah dinding, seolah tak ada lagi yang perlu dipikirkan.
“Mbak?” panggilku lembut. “Sedang apa?”
Dia menoleh. “Beres-beres,” jawabnya singkat.
Aku melangkah masuk, duduk di ranjangnya. Diam sejenak. Lalu bertanya dengan hati-hati, “Hasil ujian Mbak sudah keluar?”
Dia mengangguk pelan, tanpa menoleh. Sibuk menumpuk buku. “Sudah.”
“Lalu?”
Dia menarik napas. Panjang. Lalu menatapku, senyum kecil di ujung bibirnya, tapi matanya merah. “Aku gagal, Rak. Lagi.”
Aku menatapnya tak percaya. “Tapi Mbak belajar mati-matian. Setiap malam. Selama dua tahun ini, bahkan lebih. Bahkan saat listrik mati, Mbak masih belajar pakai lilin.”
Dia tersenyum lagi. “Mungkin memang bukan jalanku. Mungkin Tuhan tidak mengizinkanku jadi hakim.”
Aku menunduk. Rasanya hatiku dikerat. Ini nggak adil. Aku yang bahkan masih sempat main layangan, main bola, bermalas-malasan sambil nonton kartun, bisa dapat nilai tertinggi. Tapi Mbak Rani? Yang hidupnya dipertaruhkan untuk mimpi itu? Gagal lagi?”
“Mbak” ucapku pelan. “Apa ini adil?”
Dia hanya menatapku. Lalu menjawab, “Saat kamu dewasa, kamu akan paham bahwa keadilan itu bukan hanya seimbang. Tapi tergantung kamu mau melihat dari sudut mana.”
“Aku tidak mau dewasa. Dewasa itu terlalu menakutkan, bahkan di saat aku sudah tak lagi takut hantu di dapur.”
Mbak Rani kembali membereskan buku-bukunya. “Kamu juara satu itu bagus. Sekali lagi… Selamat, Rak. Sepertinya kamu lebih baik dariku. Jadi tolong bawa keluarga ini berubah lebih baik.”
Aku terdiam. Terdengar seperti Mbak Rani mewariskan bebannya padaku.
Tiba-tiba, suara kursi bergeser terdengar dari ruang tengah. Lalu suara pintu lemari yang dibanting, panci yang berdenting, dan akhirnya suara itu lagi. Suara yang rasanya sudah terlalu sering kudengar akhir-akhir ini.
“Apa-apaain ini, Bu?! Kenapa kamu terima pemberian dari dia lagi? Rani sudah menolak Dandi, Bu!” suara Bapak keras, penuh amarah yang ditekan.
“Dia hanya ingin membantu, Pak! Aku juga bisa membujuk Rani lagi!” suara Ibu juga tinggi.
“Nggak pantas Ibu terima pemberiannya! Dan jangan gunakan Rani untuk memenuhi harapan rumah ini!”
“Lalu aku harus bagaimana, Pak? Bapak jangan hanya melarangku untuk menerima pemberian orang. Beri aku juga seperti yang orang-orang berikan padaku! Beri harpan pada rumah ini!” suara Ibu serak.
Bapak mendesah kesal. “Meski kita kekurangan. Tapi kita bukan pengemis, Bu. Kita masih punya etika.”
“Etika?” ulang Ibu. “Miskin tidak mengajarkan etika pada kita, Pak! Bapak tahu hari ini Raka mendapatkan juara! Peringkat satu sesekolah, Pak! Tapi bahkan kita tidak bisa memberinya makan enak untuk merayakannya! Bahkan saat ada tamu aku tidak memberinya minum karena tidak ada gula. Etika apa yang bapak maksud?!”