Senja selalu membuat laut tampak seperti cermin yang murung. Cahaya matahari terpantul remang di permukaan air yang tenang, seolah menyimpan sesuatu yang tidak bisa diucapkan. Aku dan Jeno duduk berdampingan di ujung dermaga yang mulai lapuk. Angin laut tak lagi mengejutkan kami, ia hanya menepuk-nepuk pundak seperti teman lama yang setia datang, meski tak pernah diundang. Di ujung pandangan kami, pagar bambu masih berdiri. Tak tumbang, tak juga benar-benar kuat. Diam saja, seperti luka yang dibiarkan menghitam.
“Dulu kupikir waktu akan memperbaiki segalanya,” kata Jeno tiba-tiba, suaranya hampir tertelan debur kecil gelombang. “Tapi ternyata yang diperbaiki cuma badan kita. Kita tambah tinggi, tambah besar. Tapi hati tetap berantakan dan laut masih tertawan.”
Aku hanya menatap ke depan, membiarkan mataku memburam menembus batas antara laut dan langit. “Apa kau pernah memimpikan sesuatu, tapi malah takut kalau itu terjadi?”
Jeno tak langsung menjawab. Ia menarik napas, lalu menunjuk pagar di ujung sana dengan dagunya. “Aku takut pagar itu tetap ada. Tapi aku lebih takut kalau pagar itu hilang dan kita tetap begini.”
Aku mengangguk pelan. “Rasanya makin sedikit dari kita yang utuh.”
“Aldi sudah pergi, Kak Tada akan pergi, lalu Harry juga akan beda sekolah. Apa kau juga akan pergi, Ka?”
Aku terdiam cukup lama. “Entahlah. Aku belum menentukan mau lanjut SMP ke mana. Aku hanya ingin memutar waktu kembali dan kita semua masih utuh.”
Jeno menghela panjang. “Tentukan segera, Ka. Waktu tidak menunggumu.”
Aku tak membalas, dan kami pun hanya duduk saja setelahnya. Memandang laut. Memandang sisa dunia yang dulu kami kira sederhana. Aku merasa kita sudah terlalu dewasa.
“Hei, Jeno!”
Sebuah suara membuat kami menoleh. Itu adalah Mas Adi, temannya Bli Tada, penadah kerang, dan orang yang kami temui di Jakarta.
“Kemarilah! Kakakmu akan berangkat.”
***
Malam itu rumah seperti menahan napas. Lampu di ruang tamu hanya menyala temaram. Dari lorong, aku melihat celah pintu kamar Mbak Rani terbuka.
Aku melangkah pelan, seolah kalau terlalu cepat, waktu akan ikut berlari. Kudorong pelan daun pintu yang memang tidak ditutup rapat. Dan saat itu, aku melihatnya. Mbak Rani duduk di pinggir tempat tidurnya, dengan tas gendong besar di sisi kanan, dan ransel di ujung kaki ranjang. Lemari yang terbuka di sudut ruang sudah dikosongkan, begitu juga rak bukunya. Segalanya terasa seperti akhir.
“Semuanya sudah siap?” tanyaku pelan, suaraku nyaris tak terdengar.
Dia menoleh. Matanya masih lembut. Mungkin lelah. Mungkin sudah mengering dari semua bentuk air mata.
“Tolong jaga Ibu dan Bapak ya, Rak?”
“Apa Mbak nggak takut?”
Dia butuh waktu untuk menjawabnya. “Semua keputusan ada resikonya. Kita hanya perlu berani mengambil.” Dia tersenyum tipis. “Tentukanlah pilihanmu juga, Rak. Entah di mana pun kamu sekolah. Saat kamu berani, kau tidak akan pernah gagal.”
Aku mendekat, duduk di sampingnya. “Aku takut nggak ada lagi yang berani bilang kalau dunia ini bisa diubah. Nggak ada lagi yang tahan makian Ibu. Nggak ada lagi yang mengajariku percaya sama mimpi.”
Mbak Rani memejamkan mata. Lalu berjongkok di hadapanku. Tangannya mengusap rambutku, perlakuan yang sangat sulit kudapat kini terasa pilu. “Kau harus lebih kuat dariku, Rak. Kau akan tumbuh dan lihat sendiri, bahwa dunia ini nggak akan jadi adil kalau kita cuma diam.”
Aku mengangguk pelan, walau dada rasanya seperti dipaku dari dalam. “Kalau aku jadi presiden nanti, Mbak harus pulang. Harus hadir di pidato pertamaku.”
Mbak Rani tertawa. Tapi matanya berkaca-kaca. “Deal. Tapi kau juga harus bikin udang-undang baru. Yang melindungi perempuan. Yang membuat korban nggak merasa bersalah karena mereka bertahan.”
“Dan kau harus bahagia,” kataku serius.
“Pasti.”
Kami saling menatap. Lalu dia meraihku, memeluk erat. Aku pun balas memeluk, menaruh setiap cinta yang kupunya untuk berlian rumah ini.
“Sekarang pergi tidur. Aku akan kabur dari rumah, bukan pergi berpamitan,” bisiknya.
Aku melepas pelukan. Tersenyum untuk terakhir kalinya, dan melangkah pergi.
***