Laut yang Tertawan

Ulat Bulu
Chapter #29

BAB 28: Penyelamat untuk Keluarga

Senja itu, angin laut tidak begitu kencang. Hanya semilir yang sesekali menyibak rambutku. Pasir terasa dingin di telapak kaki. Di depanku, api dari pembakaran ranting dan duat kelapa kering menyala cukup kuat. Mbak Rani duduk bersila di pasir, wajahnya diterangi pijar oranye dari matahari. Di tangannya ada tumpukan surat-surat dari Bli Tada. Perlahan, satu per satu ia memasukkan surat itu ke api.

Kertas bergelung, menyala cepat, lalu jadi abu. Tidak ada air mata di wajah Mbak Rani. Hanya mata yang sembap, dan dagu yang ditegakkan setegak pagar laut di ujung sana. Dia telah mengiklaskan segalanya. Melepas cintanya pada Bli Tada.

“Jadi ini adalah akhir?” tanyaku lirih.

“Ini adalah akhir untuk sebuah awal. Hidup tidak melulu tentang cinta. Ada perjuangan, pengorbanan, dan merelakan. Menjadi dewasa adalah bentuk pemahaman emosi manusia. Kini aku hanya memeluk apa yang seharusnya kupeluk. Berdamai dengan diri sendiri dan keadaan.”

Tanganku perlahan membuka tas kecil yang kubawa. Kuambil tumpukan kertas yang selama ini kusimpan diam-diam. Surat-surat untuk Aldi yang tak pernah dikirim. Dan satu lembar dokumen yang sudah pudar dari mobil merah pria misterius Pantai Pesona Kelapa yang jatuh. Juga kunci tua dari Maru.

Kuletakkan surat-surat itu satu per satu ke dalam api, mengikuti Mbak Rani. Mereka terbakar cepat. Kata-kata yang kutulis dengan penuh kemaraham, keputusasaan, dan rindu lenyap jadi abu, terbang bersama angin sore.

Dokumen itu menjadi terakhir kubakar sambil menahan napas. Menghilangkan satu-satunya bukti ketidakadilan yang kami punya. Lalu kunci itu kutatap sejenak. Kunci dari malam yang penuh keberanian, penuh ketakutan, dan penuh luka. Kunci dari masa lalu yang tak bisa lagi kuubah.

Kulempar kunci itu sejauh mungkin ke laut. Suaranya “plung”-nya kecil, tapi dampaknya besar. Rasanya seperti melepas beban yang lama bertengger di dadaku.

“Lalu apa selanjutnya?” gumamku. “Apa yang akan Mbak lakukan?”

Mbak Rani terdiam lama, melihat sisa-sisa surat Bli Tada menjadi abu.

“Menikah,” jawabnya pada akhirnya.

***

Musik organ tunggal berdentum sejak pagi, mengusir sunyi dari halaman rumah yang mendadak menjadi pusat keramaian desa. Janur kuning menggantung di antara tiang-tiang tenda, anak-anak kecil berlarian membawa balon dan botol plastik berisi sabun yang mereka beli dari pedagang dadakan, sementara ibu-ibu sibuk menata makanan di meja panjang yang penuh lauk-pauk. Di tengah-tengah semuanya, berdiri pelaminan penuh bunga warna-warni.

Di sanalah Mbak Rani akan duduk hari ini. Dengan kepaya putih yang memeluk tubuh rampingnya dan riasan yang membuat wajah cantiknya seperti bukan dirinya. Di sisi kanannya, kelak akan duduk Bang Dandi, mantan calon yang dulu sempat ditolak, kini datang lagi dengan senyuman paling sopan dan cincin di saku jasnya. Semua orang bilang dia pilihan terbaik. Dia mapan, baik hati, bisa diandalkan. Ibu bahkan menyebutnya sebagai “penyelamat keluarga”.

Dan semua orang tampak bahagia.

Semua… kecuali aku.

Aku berdiri di ambang pintu rumah, memakai batik yang kekecilan di pundak, memandangi semua yang tampak meriah itu dengan dada penuh. Di luar, tawa berseliweran. Di dalam, ada sesuatu yang pelan-pelan runtuh. Mbak Rani belum keluar dari kamarnya. Aku tahu, karena kamarnya telah menjadi ruang rias yang dimasuki para tetangga bergiliran. Mereka tersenyum dan memuji kecantikan Mbak Rani sambil mengucapkan selamat. Entah ke mana semua gosip dan hinaan yang pernah kudengar dulu. Mbak Rani dengan ramah akan menyambut dan tersenyum pada setiap orang yang masuk.

Aku tahu ini bukan tentang cinta. Ini bukan perayaan. Ini adalah keputusan. Dan keputusan kadang tidak butuh bahagia, hanya keberanian.

Lihat selengkapnya