Pagi itu, hari terakhirku menjadi anak-anak. Besok adalah hari pertama sekolah SMP. Aku resmi menjadi remaja sekarang.
Aku duduk termenung di ujung dermaga yang sudah lama dibangun oleh orang yang bahkan tak kutahu siapa. Kupandang kalut lautan luas, tapi pagar di ujung pandangan itu mengurangi arti luasnya. Kalau dipikir-pikir semua ini berawal dari pagar itu. Pagar itu yang membuat Aldi lumpuh. Pagar itu yang membuat ekonomi kami jatuh. Pagar itu pula yang membuat Mbak Rani berkorban sangat besar. Pagar itu menawan kami, bukan hanya lautan saja.
“Raka!”
Aku menoleh ke belakang.
Bli Tada berjalan menyusuri dermaga dengan kedua tangan dimasukkan ke saku jaket tipisnya. Rambutnya kini dipotong lebih pendek, wajahnya tampak lebih segar. Ada sesuatu yang berubah darinya. Langkahnya ringan. Senyumnya mudah muncul. Seolah beban yang dulu selalu menggantung di bahunya telah pelan-pelan luruh, tertinggal jauh di kota yang pernah membawanya pergi.
Aku hanya tercenung beberapa saat, memperhatikannya mendekat.
“Bli …,” gumamku pelan.
Dia berhenti tepat di hadapanku.
“Kau pulang, Bli.”
Bli Tada terkekeh kecil. “Ya, tentu saja pulang. Ini rumahku, kampungku. Masa orang pulang harus pakai izin dulu?”
Aku ikut tertawa. Entah kenapa, rasanya lega sekali melihat tawanya kembali terdengar.
“Bagaimana kabarmu, Bli?” tanyaku. “Bagaimana Jakarta?”
Dia mengangkat bahu santai. “Aku baik. Betah juga di sana. Ternyata hidup di kota nggak semenakutkan yang kubayangkan.” Lalu dia menatapku balik. “Kalau kamu bagaimana, Rak?”
Aku langsung mengangguk mantap. “Baik! Aku juara satu kemarin.”
“Wah?”
“Sekarang aku juga masuk SMP unggulan di kota.”
Mata Bli Tada langsung berbinar. Dia tersenyum lebar, lalu mengusap kepalaku hingga rambutku berantakan.
“Nggak sia-sia ternyata aku ngajarin kamu belajar tiap sore.”
Dadaku menghangat mendengar itu. “Hebat, kan?” kataku dengan bangga.
“Hebat.”
Aku mengangguk puas, lalu menambahkan pelan, “Mbak Rani juga baik.”
Ekspresi Bli Tada sedikit berubah. Bukan sedih. Lebih seperti seseorang yang akhirnya mendengar kabar yang sejak lama ia tunggu.
“Dia sudah pindah ke rumah suaminya,” lanjutku. “Dan sekarang sedang mencoba kuliah hukum lagi.”
Senyum Bli Tada kembali mengembang. Kali ini lebih tenang. “Itu kabar yang bagus,” katanya lirih. “Aku ikut senang mendengarnya.”
Belum sempat aku membalas, terdengar suara memanggil dari arah pantai.
“Tada!”
Kami sama-sama menoleh.
Mas Adi berdiri di dekat mobil tuanya sambil melambaikan tangan.
“Tada! Kunci mobilnya mana? Cepat sini! Bu Sundari sudah ngomel-ngomel. Mobil kita menghalangi tempat jemur ikannya!”
Aku langsung melambaikan tangan. “Mas Adi!”
Mas Adi balas melambai sambil tertawa. “Oh, Raka! Lama nggak ketemu!”
Bli Tada menggeleng kecil. “Sepertinya aku dipanggil.”
“Pergi sana, nanti Bu Sundari makin marah,” godaku.
Dia terkekeh, lalu menepuk pelan pundakku. “Sampai nanti, Rak.”
“Sampai nanti, Bli.”
Aku memperhatikannya berjalan menjauh menyusuri dermaga. Angin laut mengibaskan ujung jaketnya, sementara langkahnya tetap ringan. Untuk pertama kalinya sejak lama, aku melihat punggung Bli Tada tanpa kesedihan yang ikut berjalan di belakangnya.