Pagi itu, setelah Mbak Rani telah lama pergi bersama suaminya, hari terakhirku menjadi anak-anak. Besok adalah hari pertama sekolah SMP. Aku resmi menjadi remaja sekarang.
Aku duduk termenung di ujung dermaga yang sudah setahun lebih dibangun oleh orang yang bahkan tak kutahu siapa. Kupandang kalut lautan luas, tapi pagar di ujung pandangan itu mengurangi arti luasnya. Kalau dipikir-pikir semua ini berawal dari pagar itu. Pagar itu yang membuat Aldi lumpuh. Pagar itu yang membuat ekonomi kami jatuh. Pagar itu pula yang membuat Mbak Rani berkorban sangat besar. Pagar itu menawan kami, bukan hanya lautan saja.
“Raka!”
Aku menoleh ke belakang. Dari pangkal dermaga, Jeno, Harry, dan Candra datang berlari padaku. Aku tersenyum melihatnya. Lihatlah mereka! Mereka telah banyak berubah. Jeno sekarang lebih peka. Harry tak lagi manja. Dan Candra lebih sering mengekspresikan dirinya.
“Sedang apa? Kau tidak mau lagi ya main bareng kami?” cecar Jeno, bersungut.
“Mungkin karena dia sekarang lebih pintar, jadi merasa unggul,” sindir Candra, guyon.
“Dari dulu dia memang anak yang aneh. Dia terlalu memikirkan banyak hal,” sambung Harry.
Aku tersenyum lebar, lalu terbahak. Bukan karena Harry yang sekarang memakai kaus partai dari papanya yang bertuliskan “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, dan Untuk Rakyat”. Tapi…
Eh, tunggu—
“Kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat,” gumamku menunjuk pakaian Harry, teringat omongan Pak Ahmad.
Harry mendesah. “Jangan meledekku begitu, Ka! Mesin cuci di rumah sedang rusak. Aku nggak punya baju ganti selain ini. Papa—”
“Tidak! Bukan,” selaku cepat.
Semua orang menatap bingung. Lalu aku berbalik dan memandang pagar laut di ujung sana. Aku akhirnya mengerti.
“Aku tidak perlu menjadi presiden untuk merubuhkan pagar itu. Aku hanya perlu menjadi aku. Rakyat biasa,” gumamku mantap.
“Apa maksudmu, Ka?” tanya Jeno.
Aku tersenyum puas, lalu menoleh ke Harry. “Her, kau masih punya drone-mu itu, kan?”
Harry mengangguk, masih bingung.
Kutunjuk pagar laut itu. “Mari terbangkan drone-mu dan rekam pagar itu. Kita tunjukkan pada seluruh rakyat negeri ini bahwa laut kita sedang tertawan… bahwa Ibu Pertiwi sedang terbelenggu oleh keserakahan.”
Mereka semua ikut menatap lurus. Akhirnya mengerti juga.
“Di rumah Kak Tada sedang pulang, bersama Mas Adi. Aku akan meminta bantuan mereka juga,” cetus Jeno bersemangat.
Harry dan Jeno pun berlari kembali, menuju rumah mereka.
Beberapa menit kemudian, Jeno datang bersama Bli Tada dan Mas Adi. Harry pun menerbangkan drone-nya. Benda itu tampak seperti burung logam kecil yang lama tak diberi makan, baling-balingnya berdebu, baterainya setengah lelah. Tapi di tangan kami, ia terasa seperti senjata yang bisa membuat langit menoleh.
“Ini drone-mu yang waktu SD itu, kan? Masih menyala?” tanya Candra, ragu.
“Baterainya penuh, kan?” lontas Bli Tada.
“Kecukupan itu relatif, Kak,” sahut Harry, sok yakin, padahal jelas ia sendiri tak yakin. “Yang penting semangatnya penuh.”
Jeno mendengus. “Kalau jatuh ke laut, aku tidak ikut nyemplung ya!”
Aku hanya tersenyum. Ada sesuatu dalam dadaku yang baru saja menyala, bukan keberanian besar, bukan tekad pahlawan. Lebih kecil, lebih sederhana, tapi lebih jujur. Aku hanya ingin melihat dunia kami dicatat, sebelum dunia pura-pura lupa bahwa kami ada.
“Biar aku yang terbangkan. Aku cukup jago mengambil gambar,” cetus Mas Adi. Dia pun menekan tombol.