Laut yang Tertawan

Ulat Bulu
Chapter #31

END BAB 30: Sebuah Akhir untuk Sebuah Awal

Sudah tiga minggu sejak Bli Tada dan Mas Adi kembali ke Jakarta.

Hidup kembali berjalan seperti biasanya. Pagi-pagi aku berangkat ke SMP bareng Harry. Sepulang sekolah, aku masih bermain dengan Jeno dan Candra di dermaga atau lapangan. Sesekali kami bertanya pada Jeno tentang kabar video yang kami kirim.

“Belum ada kabar,” jawabnya hampir setiap hari. “Kak Tada sama Mas Adi juga belum bilang apa-apa.”

Hari berganti hari.

Semangat kami yang semula menggebu pelan-pelan mengecil. Mungkin video itu tenggelam di antara jutaan video lain. Mungkin tak ada yang peduli pada pagar di laut kecil kami. Atau mungkin … memang beginilah nasib orang-orang seperti kami.

Sampai akhirnya, pada suatu malam, suara klakson mobil terdengar di depan rumah.

“Itu Mas Dandi!” seruku sambil berlari ke teras.

Benar saja. Mobilnya berhenti pelan. Bang Dandi turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Mbak Rani.

Wajah Mbak Rani tampak jauh berbeda dibanding beberapa bulan lalu. Senyumnya lebih ringan. Tatapannya tidak lagi menyimpan kelelahan yang dulu selalu mengikutinya. Entah karena waktulah, atau karena akhirnya ia menemukan tempat untuk bernapas.

Kami makan malam bersama.

Meja sederhana itu terasa lebih ramai dari biasanya. Ibu memasak ikan bakar, sambal terasi, dan sayur bening. Bapak bahkan beberapa kali melontarkan candaan yang membuat kami tertawa.

“Eh,” tanya Ibu di sela makan, “kenapa anakmu nggak diajak, Dandi? Kan bisa tidur sama Raka.”

Bang Dandi tersenyum sambil mengambil air minum.

“Lagi nginep di rumah neneknya, Bu. Dari kemarin nggak mau pulang.”

Aku langsung menyahut cepat. “Nggak apa-apa kok. Aku siap berbagi ranjang. Aku nggak pelit.”

“Ah, pasti tengah malam kamu bangunin buat temenin ke kamar mandi,” celetuk Mbak Rani.

Aku langsung berdesis. “Aku sudah nggak bangun tengah malam buat kencing lagi, ya, Mbak.”

Semua langsung terkekeh.

Bang Dandi kemudian mengelap tangannya. Ia merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah ponsel.

“Ka.”

Aku menoleh.

“Mau ini?”

Mataku langsung membesar. “HP?”

“Iya. Kemarin Mas beli yang baru. Yang ini masih bagus. Daripada nganggur.”

Aku menerimanya hati-hati, seolah sedang memegang barang paling mahal di dunia.

“Serius buat aku?”

Dia mengangguk.

Kubalik-balik ponsel itu. Layarnya masih mulus. Kameranya bahkan jauh lebih bagus daripada yang pernah kulihat.

“Terima kasih, Mas!” seruku sambil nyengir lebar.

Bapak langsung berdeham. “Jangan dimanja terus itu anak.”

Bang Dandi tertawa. “Namanya juga adik, Pak.”

“Justru karena adik, harus belajar berusaha.”

“Raka sudah SMP, Pak. Sekolahnya jauh pula. Biar nanti kalau ada apa-apa, misal bannya bocor, kan bisa telepon Bapak.”

Aku menghela pasrah. Itu tandanya tidak ada komplen lagi. Ponsel ini resmi jadi milikku. Ah, Bang Dandi memang dewa penyelamat.

Rumah yang dulu sering dipenuhi pertengkaran kini dipenuhi suara tawa. Rasanya hangat. Hangat yang dulu terasa mustahil.

Setelah makan malam selesai, semuanya bersantai.

Bapak dan Bang Dandi membawa cangkir kopi mereka ke teras. Angin laut berembus pelan, menemani obrolan mereka tentang hasil tangkapan, harga solar, sampai rencana memperbaiki perahu yang mulai sering bocor.

Di ruang tengah, televisi kembali mengambil alih rumah.

Ibu dan Mbak Rani duduk berdampingan di sofa. Sinetron kesukaan Ibu sedang memasuki adegan paling menegangkan. Tokoh utamanya menangis sambil menunjuk-nunjuk laki-laki berjas yang entah sudah berapa kali ketahuan selingkuh.

“Lihat tuh!” celetuk Ibu. “Makanya jangan percaya sama laki-laki yang terlalu rapi.”

Mbak Rani hanya tertawa kecil.

Aku yang sedari tadi sibuk membolak-balik ponsel pemberian Bang Dandi akhirnya mendekat.

“Mbak ….”

“Hm?”

“Ajarin bikin sosial media.”

Mbak Rani bahkan tidak menoleh. “Nanti dulu. Lagi seru, nih.”

Di layar, musik dramatis menggelegar. Ibu sampai ikut memajukan badannya ke depan.

Aku menghela napas panjang. “Mbaaak ….”

“Tunggu iklan.”

“Lama.”

“Lho, memangnya belajar beginian harus sekarang?”

“Iya. Biar aku nggak kudet.”

Mbak Rani akhirnya mendesah pasrah. Ia mengambil ponsel dari tanganku. Dia mulai menekan-nekan layar.

“Nah, pertama bikin akun dulu.”

“Nama akunnya apa?”

“Terserah.”

“‘Presiden Masa Depan’ boleh?”

Mbak Rani menoleh datar. “Jangan aneh-aneh.”

“Ya sudah ….”

Beberapa menit kemudian akun itu selesai dibuat. Aku masih sibuk melihat-lihat tombol yang begitu banyak hingga kepalaku pening.

Tiba-tiba pintu teras terbuka.

“Rani … Bu …,” panggil Bang Dandi sambil masuk agak tergesa.

Kami menoleh.

Bang Dandi mengangkat ponsel barunya. “Coba lihat ini.”

Sebuah video sedang diputar. Laut. Deretan bambu yang membelah permukaan air. Pagar yang begitu kami kenal.

“Ini …,” gumam Bang Dandi. “Ini laut kampung sini, kan?”

Bapak ikut masuk. “Benar, kan, Bu?” Jarinya menunjuk layar. “Itu tanjung sebelah barat. Itu pohon kelapa yang miring. Dan pagar itu …. Aku tak mungkin salah mengenali lautku sendiri.”

Dadaku langsung berdegup.

Lihat selengkapnya