Cahaya pendar dari layar ponsel yang retak di pojok meja kayu itu tampak seperti mata iblis yang terus mengawasi. Tara mengetuk-ngetukkan kuku ibu jarinya ke pinggiran meja, sebuah kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali dadanya terasa sesak oleh kecemasan yang menghimpit. Di hadapannya, tumpukan piring kotor di kedai makan tempatnya bekerja sebagai buruh cuci seolah mengejek mimpinya untuk hidup bersih.
"Masih kurang lima ratus ribu lagi untuk setoran hari ini, Ra," gumamnya pelan dengan ritme bicara yang cepat dan terputus-putus. Suaranya nyaris tenggelam di balik bisingnya kendaraan yang melintas di depan kedai. Kepalanya berdenyut hebat, membayangkan ancaman dari pesan singkat yang dikirimkan oleh penagih utang pinjol beberapa jam lalu, yang berjanji akan mendatangi rumah ibunya jika ia gagal membayar tepat waktu.
Tiba-tiba, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gerbang kedai, membuat jantung Tara seakan berhenti berdetak sesaat. Seorang pria berjaket kulit hitam turun dengan langkah yang berat dan mata yang tajam mencari-cari sosok di balik kepulan uap dapur. Tara segera memalingkan wajah, menyembunyikan luka memar di pelipisnya yang belum sepenuhnya sembuh akibat sapaan kasar anak buah bandar judi minggu lalu.
Ia tahu bahwa melarikan diri lewat pintu belakang adalah pilihan paling logis untuk menyelamatkan nyawanya malam ini. Namun, bayangan senyum ibunya yang renta, yang baru saja membelikannya kemeja baru dari hasil menjual sisa perhiasannya, mendadak melintas di benak Tara. Ibunya percaya bahwa anaknya sudah benar-benar berhenti berjudi dan kini sedang meniti jalan jujur sebagai pekerja kasar demi masa depan mereka.
Keputusan pahit harus diambil saat itu juga, antara menyerahkan diri pada amukan pria itu demi menjaga agar ibunya tidak diganggu, atau terus bersembunyi di balik bayang-bayang ketakutan. Tara menarik napas panjang, meremas kain lap yang basah di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih karena tekanan yang kuat. Ia tidak boleh membiarkan kegelapan masa lalunya menghancurkan satu-satunya cahaya yang tersisa di rumah kecil mereka.
Dengan langkah yang gemetar namun pasti, ia meletakkan piring terakhir dan berjalan keluar menuju pria berjaket kulit itu. Di saku celananya, ponselnya kembali bergetar, menampilkan notifikasi bonus saldo dari aplikasi judi yang dulu menghancurkannya, sebuah godaan terakhir yang kini terasa seperti racun. Tara tidak menoleh lagi ke arah layar itu, fokusnya hanya satu: menghadapi konsekuensi dari setiap klik yang pernah ia lakukan dengan tangannya sendiri.
Namun, saat pria itu mendekat, ia tidak mengeluarkan ancaman seperti biasanya, melainkan menyodorkan sebuah foto lama yang membuat lutut Tara lemas seketika. Itu adalah foto ibunya yang sedang tersenyum di depan rumah, namun dengan tanda silang merah besar yang menutupi wajah wanita tua itu. Realitas pahit menghantamnya lebih keras dari pukulan fisik mana pun; keselamatannya bukan lagi tentang uang, melainkan tentang nyawa yang paling ia cintai.
Tara menyadari bahwa lubang yang ia gali selama ini jauh lebih dalam daripada yang ia perkirakan, dan setiap upaya untuk bangkit justru menarik orang-orang tercintanya ke dalam jurang. Di bawah lampu jalan yang remang-remang, ia harus memilih untuk terus menjadi pengecut yang bersembunyi atau menjadi martir bagi kesalahan masa lalunya. Langit malam itu terasa sangat pekat, seolah ikut menahan napas menunggu kalimat pertama yang akan meluncur dari bibir Tara yang bergetar.
Langkah kaki Tara terhenti tepat di depan tumpukan sayur sawi yang baru saja diturunkan dari pikap. Aroma tanah basah dan sisa embun pagi di pasar induk itu biasanya menenangkan, namun kali ini udara terasa mencekik. Seseorang bertubuh kekar dengan jaket kulit kusam memperhatikannya dari balik tiang beton yang berlumut. Tara merasakan telapak tangannya mulai berkeringat dingin saat mata pria itu mengunci pergerakannya.
"Sudah lama ya, Tara? Utangmu bunganya terus berjalan, tidak peduli kau sembunyi di lubang tikus mana pun," ucap pria itu dengan nada dingin yang mengiris kebisingan pasar. Tara mengepalkan jemari hingga kuku-kukunya memutih, berusaha keras mengabaikan rasa takut yang merayap dari tengkuk hingga ke tulang belakang. Dia harus segera pergi sebelum keributan pecah dan menghancurkan satu-satunya pekerjaan jujur yang baru ia dapatkan minggu ini.
Pria itu melangkah maju, memicu suara gesekan sepatu botnya di atas lantai semen yang becek. "Bos tidak suka menunggu, apalagi untuk recehan yang kau janjikan lewat aplikasi itu. Kau pikir dengan menghapus akun dan mengganti kartu SIM, angka-angka itu akan hilang begitu saja?" Tara hanya bisa menelan ludah yang terasa pahit, sementara matanya melirik ke arah pintu gudang di mana mandornya biasa mengawasi para kuli panggul.
Tara memutar kunci pas di kantong celananya, sebuah kebiasaan kecil yang ia lakukan setiap kali kegelisahan memuncak. "Aku akan membayarnya, Bang. Beri aku waktu sampai akhir bulan ini saja," suaranya parau, mencoba menjaga ritme bicaranya agar tidak terdengar gemetar. Namun, pria itu justru tertawa sinis, sebuah suara parau yang terdengar seperti logam berkarat yang dipaksa bergeser di atas lantai beton pasar.
"Akhir bulan? Kau sudah mengatakan itu sejak bulan lalu, dan lihat sekarang, bunganya sudah bisa membelikanmu satu motor baru," sahut pria itu sambil menepuk-nepuk telapak tangannya ke tiang beton. Tara tahu benar bahwa setiap detik yang ia habiskan untuk bernegosiasi di sini hanya akan menarik perhatian kawan-kawan kerjanya yang lain. Dia tidak ingin mereka tahu tentang sisi gelap hidupnya yang hampir merenggut nyawanya sendiri.
Ingatan tentang ibunya tiba-tiba melintas, wajah renta yang selalu tersenyum meski hanya makan dengan garam demi menyekolahkannya dulu. Tara tidak boleh menyerah sekarang, tidak di tempat ini, dan tidak di depan penagih utang ini. "Aku punya pekerjaan tetap sekarang di sini. Kalau Abang buat ribut, aku akan dipecat, dan kalian tidak akan mendapatkan sepeser pun uang kembali," tegas Tara dengan keberanian yang dipaksakan.
Pria kekar itu menyipitkan mata, seolah menimbang-nimbang logika dalam ancaman halus yang dilontarkan Tara barusan. Keheningan sesaat terjadi di antara mereka, hanya diisi oleh suara teriakan pedagang ikan di kejauhan dan deru mesin truk yang baru masuk. Tara terus memutar kunci pas di sakunya, ritme yang membantunya tetap waras di tengah tekanan yang nyaris membuatnya ingin lari sekencang-mungkin dari kenyataan pahit ini.
"Satu minggu, Tara. Jika dalam tujuh hari uang itu tidak masuk ke rekening perusahaan, aku sendiri yang akan menjemputmu di depan ibumu," ancam pria itu sebelum berbalik pergi. Kata 'ibu' menghantam dada Tara lebih keras daripada pukulan fisik mana pun yang pernah ia terima selama ini. Dia berdiri mematung, menatap punggung pria itu yang perlahan menghilang di balik kerumunan pembeli yang mulai memadati lorong pasar.
Tara mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan di kerongkongannya, mencoba meredakan detak jantungnya yang menggila. Dia kembali menarik keranjang sayur, namun matanya menangkap sesuatu yang janggal di bawah tiang beton tempat pria tadi berdiri. Sebuah amplop cokelat tua tergeletak di sana, seolah sengaja dijatuhkan untuk ditemukan olehnya dalam situasi yang penuh dengan ketegangan seperti saat ini.
Dengan tangan gemetar, Tara memungut amplop itu dan membukanya sedikit untuk mengintip isinya yang ternyata sangat mengejutkan. Di dalamnya terdapat lembaran foto-foto dirinya saat sedang bekerja, namun ada satu foto yang membuatnya hampir jatuh terduduk di lantai pasar yang kotor. Itu adalah foto ibunya yang sedang duduk di teras rumah, sementara di belakangnya tampak bayangan seseorang yang sedang mengamati dari kejauhan.
Rasa mual menghantam perutnya saat ia menyadari bahwa selama ini ia tidak pernah benar-benar bersembunyi dari jangkauan mereka. "Mereka tahu rumah Ibu," bisiknya lirih, sementara amarah dan penyesalan mulai bercampur menjadi satu dalam benaknya yang kacau. Keputusannya untuk terjebak dalam labirin judi online ternyata telah menyeret orang yang paling ia cintai ke dalam garis api yang sangat berbahaya.
Namun, di balik tumpukan foto itu, terdapat sebuah catatan kecil dengan tulisan tangan yang sangat rapi dan terlihat sangat kontras dengan ancaman kasar pria tadi. "Bukan hanya kami yang mencarimu, Tara. Berhati-hatilah dengan teman barumu di gudang itu," bunyi pesan singkat yang tertulis di atas kertas putih kusam tersebut. Tara mengernyitkan dahi, mencoba mencerna maksud dari peringatan misterius yang justru datang dari pihak penagih utang.
Dia menoleh ke arah gudang, menatap mandor dan rekan-rekan kerjanya yang tampak sibuk seperti biasa tanpa ada kecurigaan sedikit pun. Apakah ada pengkhianat di antara mereka, ataukah ini hanyalah taktik adu domba yang sengaja dirancang untuk menghancurkan mentalnya secara perlahan? Tara memasukkan kembali amplop itu ke dalam saku celananya, menyadari bahwa pelariannya selama ini hanyalah awal dari permainan yang jauh lebih besar dan mematikan.
Tara meremas ujung kemejanya yang lembap oleh keringat dingin, merasakan tekstur kain yang kasar di bawah jemarinya yang gemetar. Matanya menatap nanar pada layar ponsel yang retak, menampilkan deretan angka merah yang menandakan kekalahan telaknya malam itu. Di hadapannya, seorang pria berjaket kulit hitam berdiri tegak dengan aroma rokok murahan yang menusuk hidung, menghalangi jalan keluar dari gang sempit yang gelap dan pengap.
"Beri aku waktu seminggu lagi," pinta Tara dengan suara rendah yang nyaris tenggelam oleh bising knalpot di kejauhan. Tangannya secara refleks meraba saku celana, mencari-cari sisa keberuntungan yang sudah lama menguap dari hidupnya. Ia tahu permintaannya terdengar sia-sia, namun hanya itu satu-satunya peluru yang tersisa di magasin harapannya yang mulai kosong dan berkarat.
Pria itu tertawa sinis, sebuah suara parau yang terdengar seperti gesekan amplas pada kayu tua, membuat bulu kuduk Tara berdiri. Ia melangkah maju, mempersempit jarak hingga Tara bisa mencium bau alkohol dari napasnya yang berat. Tanpa peringatan, ia menepuk pundak Tara dengan kasar, sebuah gerakan yang lebih terasa seperti ancaman fisik daripada sekadar sapaan akrab antar kawan lama.
"Seminggu? Bos tidak suka menunggu, apalagi untuk pecundang yang hobi menjanjikan angin surga setiap kali ditagih," ucap pria itu dengan nada meremehkan. Ia meludah ke samping, tepat di dekat sepatu Tara yang sudah jebol di bagian ujungnya. "Bunga pinjamanmu itu terus tumbuh seperti jamur di musim hujan, sementara kamu malah asyik menyetor nyawa di meja judi online yang jelas-jelas sudah diatur."
Tara hanya bisa tertunduk, membiarkan penghinaan itu menghujam jantungnya seperti belati yang tumpul namun menyakitkan. Ia membayangkan wajah ibunya yang sedang memasak di dapur, tidak tahu bahwa anak semata wayangnya sedang mempertaruhkan sisa martabat di tempat kotor ini. Ketakutan terbesarnya bukanlah rasa sakit fisik, melainkan kekecewaan yang akan terpancar dari mata teduh wanita yang paling ia cintai itu.
"Kalau tidak ada uang tunai malam ini, mungkin motor tua milik ibumu bisa jadi jaminan yang cukup menarik untuk sementara," lanjut pria itu sambil menyeringai lebar. Ia tahu persis bahwa motor bebek itu adalah satu-satunya harta berharga yang digunakan ibu Tara untuk pergi ke pasar setiap subuh demi menyambung hidup mereka berdua yang serba kekurangan.
Tara tersentak hebat, seolah-olah ada aliran listrik yang mendadak menyengat saraf-saraf di sekujur tubuhnya hingga ia merasa kaku. Amarahnya mulai mendidih, merayap naik dari ulu hati hingga memanaskan telinganya mendengar nama ibunya dibawa-bawa dalam urusan kotor yang ia ciptakan sendiri. Baginya, motor itu bukan sekadar mesin, melainkan simbol keringat dan doa ibunya yang selama ini ia khianati demi angka-angka digital.
"Jangan pernah sentuh milik ibuku, atau aku tidak akan segan-segan melakukan hal gila padamu," desis Tara dengan tatapan mata yang mendadak tajam dan dingin. Ia mengepalkan tinjunya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, siap meledak kapan saja jika pria di depannya terus memprovokasi. Namun, di balik keberanian sesaat itu, ada rasa malu yang luar biasa besar karena ia merasa telah gagal menjadi pelindung bagi keluarganya.