Layar Retak di Ujung Jari

Bilsyah Ifaq
Chapter #2

Negosiasi di Ujung Tanduk

Tara mendatangi sarang para penagih untuk meminta waktu tambahan dengan nyawa sebagai taruhannya.

Bau rokok murahan menyambut Tara saat memasuki ruko tua itu. Tiga pria berwajah sangar sedang menghitung tumpukan uang di meja kayu. "Berani juga datang ke sini tanpa bawa setoran," desis salah satu dari mereka. Tara mengepalkan jemari, berusaha menstabilkan napasnya yang mulai pendek. Dia berdiri tegak meski lututnya terasa lemas menghadapi tatapan predator di depannya.

"Beri aku satu bulan lagi," pinta Tara dengan suara yang ditekan agar tidak pecah. Si bos besar tertawa meremehkan sambil memutar-mutar korek api perak. "Bunga tidak akan berhenti hanya karena permintaan maafmu, Nak." Tara menyodorkan selembar surat pernyataan yang sudah dia siapkan. Dia bersedia bekerja tambahan apa pun asalkan bunga itu tidak membengkak lebih gila lagi.

Sebuah pisau lipat tiba-tiba tertancap di meja, tepat di depan ujung jari Tara. "Kalau bulan depan kurang seribu saja, kami ambil motor ibumu," ancam pria bertato kalajengking itu. Tara menelan ludah, membayangkan motor tua satu-satunya sarana transportasi sang ibu untuk ke pasar. Tekadnya mengeras; dia tidak akan membiarkan benda itu berpindah tangan ke para lintah darat ini.

Lihat selengkapnya