Tara menghadapi realitas baru sebagai pekerja kasar sambil menjaga integritasnya dari godaan lingkungan lama yang terus membayangi.
"Ini bagianmu, Tara. Jangan kau pakai buat yang aneh-aneh lagi," ucap Pak Hendra sambil menyerahkan amplop cokelat kusam. Tara menggenggam kertas itu seolah memegang harta karun paling rapuh sedunia. Tangannya yang kasar dan penuh luka gores terasa kaku. Dia mengangguk mantap, merasakan beban di pundaknya sedikit terangkat karena kejujuran, bukan keberuntungan semu dari layar ponsel.
Bau tumis kangkung tercium saat kaki Tara melewati ambang pintu dapur. Ibu sedang sibuk membelakangi pintu, tampak lebih cerah dari biasanya. "Tara, Ibu masak kesukaanmu," sapanya tanpa menoleh. Tara mendekat, meletakkan amplop gajinya di atas meja kayu yang sudah mulai lapuk. Keheningan yang tercipta bukan lagi sunyi yang mencekam, melainkan ketenangan yang perlahan mulai tumbuh kembali.
"Masih kerja jadi kuli, Tar? Rendah amat selera kamu sekarang," sindir suara familiar dari balik tumpukan karung. Itu suara teman lamanya yang dulu sering berbagi link taruhan. Tara berhenti sejenak, menatap pria itu dengan pandangan datar. Tanpa sepatah kata pun, dia melanjutkan pekerjaannya menarik gerobak. Dia menyadari bahwa harga diri kini lebih penting daripada omongan kosong.
Api melahap lembar kertas tagihan yang sudah lunas satu per satu di dalam kaleng biskuit bekas. Tara memperhatikan abu yang terbang tertiup angin sore. Setiap kertas yang hangus adalah rantai yang putus dari hidupnya. Kepulan asap hitam itu membawa pergi rasa sesak yang selama ini menyumbat dadanya. Dia merasa lebih ringan, meskipun tabungannya masih jauh dari kata cukup untuk masa depan.