Tara berupaya memperbaiki hubungan dengan adik dan ibunya sambil menghadapi sisa-sisa trauma masa lalu yang masih menghantui rumah mereka.
Uap nasi hangat mengepul di tengah meja. Tara meletakkan piring tambahan dengan gerakan pelan. Maya, adiknya, hanya diam memperhatikan kakaknya yang biasanya hanya tidur sampai siang. "Makanlah, Maya. Aku beli ini pakai uang halal," ujar Tara tenang. Maya mendengus, namun tangannya mulai mengambil sendok. Keheningan pagi itu tidak lagi mencekam, melainkan penuh dengan rasa canggung.
"Besok aku antar kamu sekolah pakai motor teman," tawar Tara saat Maya memakai sepatu. Adiknya berhenti bergerak, menoleh dengan keraguan yang nyata. "Jangan bohong lagi, Kak. Aku capek ditagih temanmu di depan gerbang," balas Maya ketus. Tara mengangguk mantap, mengepalkan tangan di samping paha. Keyakinan baru mulai tumbuh; ia akan membuktikan bahwa kata-katanya bukan sekadar angin lalu.
Botol plastik kecil diletakkan Tara di samping tempat tidur Ibu. Senyum tipis muncul di wajah wanita tua itu. "Dapat uang dari mana, Nak?" bisiknya lirih. Tara mengusap punggung tangan Ibu yang keriput. "Kerja lembur di gudang logistik, Bu. Sekarang Ibu tidak perlu khawatir soal stok obat sebulan ke depan." Ibu memejamkan mata, memanjatkan doa syukur yang membuat dada Tara bergetar hebat.
Sikat kawat beradu dengan semen keras di dinding samping rumah. Tara menggosok sisa coretan cat semprot bertuliskan 'Bayar Utang' yang ditinggalkan preman minggu lalu. Keringat membasahi kaosnya, namun ia menolak berhenti sebelum tembok itu bersih kembali. Tetangga yang lewat mulai berbisik, tapi Tara memilih fokus pada pekerjaannya.