Tara menghadapi ujian terakhir untuk melunasi sisa beban masa lalunya dan membangun kembali kepercayaan yang sempat hilang seutuhnya.
Tangannya gemetar saat menerima map plastik biru dari tangan pria bersafari itu. "Lunas, Tara. Jangan pernah kembali ke lubang yang sama," ucap pria itu tegas. Tara mengangguk pelan, mendekap dokumen rumah ibunya yang sempat digadaikan secara diam-diam. Beban berton-ton seolah terangkat dari pundaknya. Dia berbalik pergi tanpa menoleh lagi ke kantor pembiayaan yang hampir menghancurkan hidupnya.
Jalanan setapak menuju rumah terasa sangat ringan pagi ini. Suara burung gereja terdengar lebih merdu dari biasanya. Tara meraba saku celananya, memastikan ponselnya tetap mati. Dia telah memblokir semua akses ke dunia digital yang menyesatkan itu. Fokusnya sekarang hanya satu: melihat senyum di wajah wanita yang paling dia cintai tanpa ada lagi rahasia pahit yang disembunyikan.
"Untuk apa ini, Kak?" tanya Maya heran melihat Tara membawa sebuket krisan putih. Tara hanya tersenyum simpul sambil meletakkan bunga itu di vas meja ruang tamu. "Hanya ingin membuat rumah ini terasa lebih hidup, May. Maaf kalau selama ini aku cuma bawa mendung ke sini." Maya tertegun, lalu mendekat dan membantu merapikan dahan bunga tersebut. Suasana kaku perlahan mencair berganti kehangatan.