Layar Retak di Ujung Jari

Bilsyah Ifaq
Chapter #6

Lingkaran Setan

Layar ponsel yang retak itu memantulkan wajah Tara yang kuyu dengan kantung mata menghitam. Jempolnya gemetar hebat saat menggulir pesan-pesan ancaman dari nomor tidak dikenal yang memenuhi layar sepanjang malam. Setiap denting notifikasi terasa seperti palu yang menghantam ulu hatinya tanpa ampun.

Ia berulang kali mengetukkan kuku telunjuknya ke meja kayu yang kusam, sebuah kebiasaan yang muncul tiap kali rasa cemas mencekik lehernya. Saldo di rekeningnya kini benar-benar nol, menyisakan angka merah yang melambangkan kehancuran total. "Hanya satu putaran lagi," bisiknya dengan suara serak yang nyaris tidak ia kenali sendiri.

Bau apek dari tumpukan pakaian kotor di sudut kamar kosnya seolah menertawakan kemiskinan yang ia ciptakan sendiri. Tara tahu bahwa para penagih utang tidak hanya mengincar nyawanya, tetapi juga ketenangan ibunya di kampung halaman. Rasa mual melonjak ke tenggorokan saat ia menyadari betapa murah harga dirinya telah ia jual pada algoritma mesin.

Pintu kamarnya digedor kasar, membuat jantung Tara seakan melompat keluar dari rongga dadanya yang sempit. Ia segera mematikan lampu, meringkuk di balik lemari dengan napas yang tertahan dan keringat dingin yang membasahi kaos tipisnya. Di kegelapan itu, ia kembali melakukan ritual batinnya, menghitung angka-angka utang yang mustahil ia lunasi.

Bayangan wajah ibunya yang renta muncul di benak, sedang tersenyum bangga saat Tara pamit merantau setahun yang lalu. Senyum itu kini terasa seperti sembilu yang mengiris nuraninya karena ia telah mengkhianati kepercayaan itu demi kesenangan semu. Ia merasa seperti pecundang yang sedang menunggu waktu untuk dieksekusi oleh kesalahan-kesalahannya sendiri.

Tiba-tiba, sebuah pesan masuk dengan lampiran foto gerbang rumah ibunya di desa yang tampak sepi dan gelap. Darah Tara seakan membeku, menyadari bahwa para lintah darat digital itu telah menemukan sasaran yang paling ia lindungi. Tidak ada lagi tempat untuk lari, dan tidak ada lagi ruang untuk bersembunyi dari badai yang ia undang sendiri.

Ia mencengkeram ponselnya erat-erat hingga buku jarinya memutih, merasakan getaran terakhir sebelum perangkat itu mati total karena kehabisan daya. Di tengah kesunyian yang mencekam, Tara menyadari bahwa pilihannya malam ini akan menentukan apakah ibunya akan tetap tersenyum atau menangis di atas pusaranya. Kehancuran itu kini bukan lagi sekadar angka di layar ponsel, melainkan ancaman nyata yang berdiri tepat di depan pintu rumahnya.

Cahaya biru dari layar ponsel memantul di kornea mata Tara yang memerah, menciptakan bayangan cekung di wajahnya yang kian tirus. Angka-angka di aplikasi pinjaman daring itu berkedip layaknya detak jantung yang sekarat, menampilkan saldo minus yang terasa seperti jeratan tali di leher. Bau apek dari tumpukan baju kotor di sudut kamar kontrakan pengap itu beradu dengan aroma mi instan mentah yang ia kunyah demi mengganjal perut yang melilit sedari pagi.

Jari telunjuknya gemetar saat menyentuh tombol putar di mesin slot virtual yang menjanjikan kemenangan instan. Setiap putaran gambar buah dan angka tujuh itu diiringi musik elektronik melengking yang memacu adrenalinnya hingga ke ubun-ubun. Tara berulang kali menggigit bibir bawahnya hingga berdarah, sebuah kebiasaan yang muncul setiap kali ia merasa peluangnya menipis namun nafsunya tetap membara untuk terus mencoba lagi.

"Satu kali lagi, cuma butuh satu pola yang pas," gumamnya dengan suara serak yang hampir tak terdengar di balik dinding tipis. Kalimat itu telah menjadi mantra terkutuk yang ia rapalkan selama tiga jam terakhir, sementara saldo banknya terkuras habis tanpa sisa. Ia tidak lagi melihat uang sebagai alat tukar, melainkan hanya sekadar angka digital yang bisa dilipatgandakan jika keberuntungan berpihak padanya malam ini.

Tiba-tiba, sebuah notifikasi pesan masuk menutupi layar permainan, menampilkan nama

'Ibu' dengan pesan singkat yang menanyakan kabar dan kiriman uang bulanan. Jantung Tara seolah berhenti berdetak sejenak, rasa mual yang hebat menghantam ulu hatinya saat menyadari bahwa uang yang seharusnya dikirim ke kampung telah lenyap. Ia melempar ponselnya ke atas kasur tipis, lalu menarik rambutnya sendiri dengan kedua tangan hingga kulit kepalanya terasa pedih.

Keheningan kamar itu mendadak pecah oleh suara gedoran keras di pintu kayu yang sudah mulai lapuk. Suara berat seorang pria dari luar meneriakkan namanya dengan penuh ancaman, menagih bunga pinjaman yang sudah menunggak selama dua minggu. Tara meringkuk di pojok ruangan, mematikan lampu agar terlihat seolah tidak ada orang di dalam, sementara keringat dingin membasahi seluruh kaos yang ia kenakan.

"Tara, aku tahu kau di dalam! Jangan sampai kami harus mendobrak pintu ini dan mengambil barang-barangmu!" teriak penagih utang itu sambil terus menendang bagian bawah pintu. Tara menutup telinganya rapat-rapat, mencoba mengusir suara tersebut, namun bayangan wajah ibunya yang renta justru muncul di pelupuk mata. Ibunya yang selalu bangga bercerita pada tetangga bahwa anaknya telah sukses bekerja di kota besar, tanpa tahu kenyataan pahit ini.

Di bawah remang cahaya lampu jalan yang masuk melalui celah ventilasi, Tara melihat seutas tali jemuran yang tergantung di paku besar dekat lemari. Pikirannya mulai melantur, membayangkan betapa mudahnya mengakhiri semua kegilaan ini hanya dalam hitungan menit saja. Rasa malu, gagal, dan ketakutan akan ancaman fisik mulai melumpuhkan logikanya, menyisakan kegelapan yang terasa jauh lebih nyaman daripada menghadapi kenyataan esok hari.

Ia berdiri dengan kaki lemas, mendekati tali tersebut sambil terus menatap layar ponsel yang kembali menyala menampilkan pesan kedua dari ibunya. "Ibu baru saja masak sayur lodeh kesukaanmu, Nak. Kalau ada rezeki, pulanglah sebentar, Ibu rindu," bunyi pesan itu yang seketika meruntuhkan pertahanan emosional Tara. Air matanya jatuh membasahi lantai semen yang dingin, sebuah isakan kecil lolos dari tenggorokannya yang terasa sangat kering dan tercekik.

Namun, ketenangan itu hanya sesaat karena pintu kamarnya tiba-tiba terbuka paksa dengan suara berdebam yang memekakkan telinga. Dua pria berbadan tegap masuk dengan wajah beringas, salah satunya memegang sebuah amplop cokelat yang sangat akrab di mata Tara. Pria itu melemparkan amplop tersebut ke wajah Tara, isinya berhamburan keluar menampilkan foto-foto rumah ibunya di kampung yang sudah dipasangi tanda penyitaan.

"Kau pikir kami hanya mengejarmu? Ibumu sudah menandatangani surat jaminan ini demi membantu modal usahamu yang kau bilang bangkrut itu," ucap pria itu dengan senyum meremehkan. Tara terhenyak, dunianya seolah runtuh lebih dalam lagi saat menyadari bahwa kebohongannya telah menyeret orang yang paling ia cintai ke dalam jurang kehancuran. Ibunya tidak pernah tahu bahwa uang jaminan itu digunakan untuk bertaruh di meja judi digital.

Kemarahan yang murni meledak dalam dada Tara, bukan kepada para penagih utang itu, melainkan kepada dirinya sendiri yang begitu lemah dan bodoh. Ia menerjang salah satu pria itu dengan sisa tenaga yang ada, namun sebuah pukulan keras mendarat di perutnya hingga ia tersungkur di lantai. Sambil menahan sakit, ia melihat layar ponselnya hancur terinjak, menampilkan gambar retak yang membiaskan foto profil ibunya yang sedang tersenyum tulus.

Dalam posisi sujud di bawah sepatu bot pria itu, Tara merasakan dinginnya lantai menyentuh keningnya yang bersimbah peluh dan air mata. Ia menyadari bahwa kematian bukanlah jalan keluar, karena itu hanya akan meninggalkan beban abadi bagi ibunya yang tak berdosa. Keinginan untuk melihat senyum itu sekali lagi menjadi satu-satunya alasan yang tersisa bagi jiwanya yang sudah hancur untuk mencoba bangkit kembali dari titik nadir.

Para penagih utang itu pergi setelah membawa satu-satunya laptop tua milik Tara sebagai jaminan sementara, meninggalkan ruangan dalam keadaan berantakan. Tara merangkak menuju pecahan ponselnya, memungut benda itu dengan tangan gemetar, dan menatap layar yang kini hanya menampilkan garis-garis distorsi. Di balik retakan kaca yang tajam itu, ia bersumpah dalam hati bahwa ini adalah kali terakhir ia membiarkan cahaya palsu merusak hidup dan harga dirinya.

Debu-debu halus menari di bawah cahaya lampu ruang tamu yang temaram saat dentuman keras menghantam pintu kayu rumah mereka. Tara tersentak, jempolnya yang gemetar secara refleks mengetuk-ngetuk sisi ponsel yang layarnya sudah retak seribu. Bunyi gedoran itu bukan sekadar ketukan, melainkan tuntutan yang penuh dengan kebencian dan ancaman yang nyata.

"Tara! Keluar kamu! Jangan jadi pengecut! Kami tahu kamu ada di dalam!" teriak sebuah suara parau dari balik pintu, disusul dengan tendangan yang membuat engsel pintu berderit ngeri. Tara merosot di balik pintu kamar, menekan punggungnya ke kayu yang dingin, mencoba menghilang ke dalam bayang-bayang. Napasnya tertahan di tenggorokan, terasa mencekik dan panas.

Ibu muncul dari arah dapur dengan langkah gontai, tangannya yang keriput memegang pinggiran meja untuk menjaga keseimbangan. Wajahnya yang biasanya tenang kini pucat pasi, seperti kertas yang diremas habis-habisan oleh ketakutan. Beliau menatap pintu utama yang terus diguncang amarah, lalu mengalihkan pandangan nanarnya ke arah pintu kamar Tara yang tertutup rapat.

"Siapa mereka, Tara? Kenapa mereka mencari kamu dengan amarah seperti itu?" tanya Ibu dengan suara yang nyaris hilang, bergetar hebat menahan tangis yang mulai pecah. Beliau mendekat, jemarinya yang gemetar menyentuh daun pintu kamar anaknya, seolah mencari jawaban dari balik kayu itu. Ketukan di pintu rumah kembali meledak, kali ini lebih brutal dari sebelumnya.

Tara memejamkan mata rapat-rapat, jempolnya masih melakukan gerakan ritmis mengetuk ponsel, sebuah kebiasaan saraf yang tak bisa ia hentikan sejak terjebak dalam angka-angka digital di layar. Pikirannya kalut, membayangkan tumpukan utang pinjol yang membengkak gila-gilaan hanya dalam hitungan hari. Setiap taruhan yang ia pasang dengan harapan bisa melunasi utang lama justru menariknya lebih dalam ke dasar jurang.

"Buka pintunya atau kami bakar rumah ini!" ancaman itu meluncur deras dari luar, membuat Ibu memekik kecil dan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tara mendengar suara langkah kaki Ibu yang menjauh dari pintu kamarnya, mungkin menuju jendela untuk melihat siapa yang datang. Kepanikan mulai merayapi setiap inci kulit Tara, membuatnya merasa seperti tikus yang terpojok di sudut gelap.

Ia menatap layar ponselnya yang menyala, memperlihatkan notifikasi merah dari aplikasi judi yang baru saja menyedot sisa uang terakhirnya. Sebuah tawa pahit hampir meledak dari dadanya yang sesak karena kebodohan yang ia pelihara selama berbulan-bulan. Semua janji manis tentang kemenangan besar hanyalah fatamorgana yang kini berubah menjadi monster yang siap melahap nyawa dan keluarganya.

Ibu kembali mengetuk pintu kamar Tara, kali ini lebih mendesak namun tetap lembut, sebuah kontras yang menyakitkan dengan gedoran di depan rumah. "Tara, Nak, bicara pada Ibu. Apapun masalahnya, kita cari jalan keluar bersama," bisiknya di sela isak tangis yang tak lagi bisa dibendung. Suara itu menghantam ulu hati Tara lebih keras daripada tendangan para penagih utang di luar sana.

Tara bangkit berdiri dengan kaki yang terasa seperti jeli, tangannya meraih gagang pintu namun ragu untuk memutarnya. Ia teringat mimpi-mimpinya dulu, tentang membelikan Ibu rumah yang layak dan melihat senyum tulus tanpa beban di wajah wanita itu. Kini, yang ia berikan hanyalah ketakutan dan ancaman kematian yang mengintai di balik pintu rumah mereka sendiri.

Tiba-tiba, suara kaca pecah terdengar dari ruang tamu, disusul oleh teriakan kemenangan dari para pria di luar yang berhasil merusak jendela. Ibu menjerit histeris, sebuah suara yang menyayat nurani Tara hingga ke akar-akarnya. Ia tahu ia tidak bisa lagi bersembunyi di balik pintu kayu ini sementara ibunya menghadapi badai yang ia ciptakan sendiri dengan jempolnya.

Dengan sisa keberanian yang hampir habis, Tara memutar kunci pintu kamarnya dan melangkah keluar menuju ruang tamu yang kini berantakan. Ia melihat dua pria berbadan besar sudah berdiri di tengah ruangan, menatapnya dengan pandangan haus darah yang mengerikan. Ibu terduduk di lantai, memeluk lututnya sambil terus memanggil nama Tara dengan suara yang hancur dan penuh keputusasaan.

Salah satu pria itu maju, menarik kerah baju Tara hingga kakinya berjinjit, lalu membisikkan sesuatu yang membuat darahnya membeku seketika. "Kamu pikir ini cuma soal uang? Bos kami punya rencana lain untuk ibumu kalau kamu tidak bisa bayar malam ini," ancamnya dengan seringai yang menjijikkan. Tara merasakan dunianya runtuh, namun di saat yang sama, kemarahan yang murni mulai membakar rasa takutnya.

Ia menatap mata ibunya yang basah oleh air mata, menyadari bahwa ia telah menjadi penghancur bagi satu-satunya orang yang mencintainya tanpa syarat. Keputusan besar harus diambil sekarang, bukan lagi tentang melarikan diri, melainkan tentang bagaimana ia harus menebus dosa-dosanya sebelum semuanya benar-benar terlambat. Tara mengepalkan tangannya kuat-kuat, merasakan denyut nadinya yang berpacu kencang di ujung jari yang selama ini hanya digunakan untuk berjudi.

Lampu neon di ruang tamu berkedip tidak stabil, melemparkan bayangan panjang yang gemetar ke dinding ruang tamu yang catnya mulai mengelupas. Tara duduk di tepi sofa kayu yang keras, jempol kanannya terus-menerus menekan kuku telunjuk hingga memerah, sebuah kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali ia merasa terpojok oleh kenyataan yang ia ciptakan sendiri.

Di hadapannya, Ibu berdiri dengan napas yang memburu, tangannya yang mulai keriput memegang seikat kertas kusam yang baru saja ia temukan di bawah tumpukan taplak meja. Udara di ruangan itu terasa berat, sarat dengan bau minyak kayu putih dan aroma kecemasan yang menyesakkan dada, sementara suara detak jam dinding terdengar seperti palu yang menghantam paku ke peti mati harga diri Tara.

"Itu cuma teman kantor, Bu. Ada salah paham soal proyek bersama yang sedang kami kerjakan, jadi mereka sering kirim kurir ke sini," dalih Tara dengan suara yang bergetar hebat, matanya terpaku pada pola lantai semen yang retak-retak. Ia tidak sanggup mengangkat wajah untuk menatap mata ibunya yang biasanya penuh dengan keteduhan, namun kini hanya menyisakan luka yang amat dalam.

Ibu tidak lantas percaya begitu saja, ia justru melangkah maju hingga jarak di antara mereka hilang, lalu dengan gerakan cepat menarik paksa telapak tangan Tara yang berkeringat dingin. Ibu membanting tumpukan surat peringatan dari berbagai aplikasi pinjaman online ke atas meja jengki di depan mereka, membuat debu-debu halus beterbangan di bawah cahaya lampu yang temaram.

"Jangan bohongi Ibu lagi, Tara! Ibu bukan orang bodoh yang bisa kau tipu dengan istilah proyek kantor atau urusan bisnis!" seru Ibu dengan suara yang serak karena menahan tangis yang hampir pecah. Jari telunjuknya yang gemetar menunjuk ke arah barisan angka berwarna merah yang tercetak tebal di atas kertas-kertas berwarna putih tulang yang berserakan itu.

"Ini apa? Kenapa namamu ada di sini dengan angka sebesar ini? Puluhan juta, Tara! Dari mana kau bisa mendapatkan utang sebanyak ini kalau bukan untuk sesuatu yang sangat buruk?" cecar Ibu lagi, sementara matanya mulai berkaca-kaca, memantulkan rasa kecewa yang lebih menyakitkan bagi Tara daripada hantaman fisik mana pun yang pernah ia bayangkan.

Tara hanya bisa tertunduk semakin dalam, lidahnya terasa kelu dan membeku untuk merangkai dusta baru yang lebih meyakinkan guna menutupi lubang hitam yang telah menelan seluruh tabungannya. Ia ingin sekali mengatakan bahwa itu semua adalah kesalahan sistem, namun deretan pesan ancaman dari penagih utang yang terus masuk ke ponsel di saku celananya seolah menertawakan sisa keberaniannya.

Keheningan yang mencekam menyelimuti mereka selama beberapa menit, hanya diselingi oleh isak tangis tertahan dari Ibu yang kini terduduk lemas di kursi plastik di sudut ruangan. Tara merasakan sesak yang luar biasa di dadanya, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah habis terbakar oleh api kemarahan dan rasa malu yang membuncah dari balik tumpukan surat-surat tagihan tersebut.

Lihat selengkapnya