Layar Retak di Ujung Jari

Bilsyah Ifaq
Chapter #7

Rekonsiliasi di Ambang Pagi

Cahaya lampu neon di ruang tamu berkedip redup, memantulkan bayangan Tara yang gemetar saat jemarinya terus memilin ujung kemeja yang lusuh. Aroma minyak kayu putih yang tajam dari kamar ibunya menyeruak, mengingatkannya pada setiap kebohongan yang ia susun demi satu putaran slot lagi. Ia berdiri mematung di ambang pintu, merasa seperti orang asing yang mencoba menyusup ke dalam rumahnya sendiri yang kini terasa dingin dan sunyi.

Ayahnya duduk di kursi kayu jengki, matanya terpaku pada layar televisi yang mati, namun rahangnya mengatup rapat hingga urat lehernya menegang. Setiap kali Tara mencoba membuka mulut, kata-katanya tertahan di tenggorokan, seolah-olah tumpukan utang pinjol telah mencekik suaranya hingga habis. "Pak, aku mau bicara," bisik Tara dengan nada serak yang terdengar asing bagi telinganya sendiri, sementara kakinya terus mengetuk lantai dengan ritme cepat yang tak terkendali.

Tanpa menoleh, sang ayah menghela napas panjang yang terdengar seperti rintihan rasa sakit yang sudah lama dipendam dalam diam. "Bicara apa lagi, Tara? Sertifikat rumah sudah di tangan rentenir, dan ibumu hampir kehilangan nyawanya karena serangan jantung saat mereka datang menagih," sahut ayahnya dengan suara datar namun penuh luka. Tara merasakan dadanya sesak, seolah ada beban ribuan ton yang menghimpit jantungnya saat melihat punggung ayahnya yang kini tampak membungkuk rapuh.

Ia melangkah maju, berlutut di atas ubin dingin yang berdebu, mencoba meraih tangan ayahnya yang kasar karena kerja paksa demi menutupi lubang yang ia gali. "Aku bersumpah, Pak, kali ini berbeda, aku akan bekerja apa saja, aku akan mengembalikan semuanya," ucap Tara dengan ritme bicara yang terputus-putus. Namun, ia tahu bahwa di rumah ini, kata 'sumpah' sudah kehilangan maknanya sejak ia mencuri simpanan mas kawin ibunya untuk mengejar kemenangan semu di layar ponsel.

Suara batuk kecil dari arah kamar membuat Tara tersentak, dan ia melihat ibunya berdiri bersandar pada kusen pintu dengan wajah pucat pasi. Ibunya tidak marah, tidak pula berteriak, ia hanya menatap Tara dengan tatapan kosong yang jauh lebih menyakitkan daripada makian paling kasar sekalipun. Tara menunduk dalam-dalam, menyadari bahwa membangun kembali reruntuhan kepercayaan tidaklah semudah menghapus riwayat transaksi di aplikasi judi yang telah menghancurkan hidup mereka.

Tiba-tiba, suara gedoran keras di pintu depan memecah kesunyian malam, membuat jantung Tara seakan berhenti berdetak karena ketakutan yang sangat akrab. Ayahnya berdiri dengan gerakan lambat, menatap Tara dengan sorot mata yang tiba-tiba berubah menjadi dingin dan penuh keputusan yang tak terduga. "Pergilah lewat pintu belakang, Tara, mereka datang bukan untuk menagih uang lagi, tapi mereka bilang kau telah menjaminkan nyawamu sendiri," bisik ayahnya sambil mendorong Tara menjauh.

Tara terpaku saat menyadari bahwa orang-orang di depan pintu itu bukanlah penagih utang biasa, melainkan sosok-sosok gelap dari masa lalu ayahnya yang selama ini disembunyikan. Rahasia besar mulai terkuak ketika ayahnya mengambil sebilah belati tua dari balik lemari, mengisyaratkan bahwa hutang judi Tara hanyalah puncak gunung es dari dosa keluarga yang lebih dalam. Di tengah kepanikan itu, Tara menyadari bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan ibunya adalah dengan mengkhianati ayahnya sendiri kepada pihak berwajib malam itu juga.

Tara memutar kunci dengan tangan yang gemetar hebat, sisa-sisa trauma dari kejaran penagih utang masih terasa di ujung jarinya. Suara kayu pintu yang bergesekan dengan lantai terdengar seperti jeritan panjang di tengah kesunyian ruang tamu yang mencekam. Aroma minyak kayu putih dan sisa dupa yang terbakar samar-samar memenuhi indra penciumannya, menciptakan suasana yang menyesakkan dada.

Di sudut ruangan, Ibu duduk mematung di atas kursi kayu tua, jemarinya yang keriput terus bergerak memutar butiran tasbih dengan ritme yang monoton. Cahaya lampu pijar yang temaram membuat bayangan tubuh Ibu tampak panjang dan rapuh di dinding yang catnya mulai mengelupas. "Kamu pulang juga akhirnya," suara Ibu terdengar parau, sangat lirih hingga nyaris tertelan oleh suara detak jam dinding.

Tara terdiam kaku di ambang pintu, tidak berani melangkah lebih jauh ke dalam wilayah yang dulu ia sebut sebagai rumah. Ia menyadari bahwa kehadirannya malam ini membawa beban yang jauh lebih berat daripada ketidakhadirannya yang berbulan-bulan tanpa kabar. Setiap embusan napasnya terasa seperti pengkhianatan terhadap doa-doa yang mungkin dipanjatkan Ibu sepanjang malam dalam penantian yang sia-sia.

Tangannya secara refleks meraba saku celana, mencari benda pipih yang telah menghancurkan seluruh tabungannya dan harga diri keluarganya. Layar ponselnya yang retak seolah mencerminkan jiwanya yang telah hancur berkeping-keping oleh janji manis kemenangan judi yang tak kunjung datang. Ia ingin bicara, namun lidahnya terasa kelu, terikat oleh ribuan kebohongan yang telah ia susun rapi selama ini.

Ibu perlahan menoleh, menatap Tara dengan mata yang sembap dan penuh dengan kekecewaan yang mendalam, bukan kemarahan yang ia harapkan. "Uang pensiun Bapak sudah habis, Tara. Orang-orang berbadan besar itu datang lagi tadi siang membawa surat sita rumah," ucap Ibu dengan suara yang mulai bergetar hebat. Kata-kata itu menghantam dada Tara lebih keras daripada pukulan fisik mana pun yang pernah ia terima di jalanan.

Ketegangan di ruangan itu mencapai puncaknya ketika Tara melihat tumpukan surat peringatan berwarna merah berserakan di atas meja makan kayu. Ia tahu bahwa pelariannya telah berakhir di titik ini, di depan wanita yang mimpinya telah ia gadaikan demi angka-angka digital di layar. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, mencoba menyembunyikan tetesan air mata yang mulai jatuh membasahi lantai ubin yang dingin.

Tiba-tiba, suara gedoran keras menghantam pintu depan, membuat Tara tersentak dan jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar. "Keluar kau, Tara! Jangan jadi pengecut di balik ketiak ibumu!" teriak sebuah suara berat dari luar, diikuti oleh suara tendangan pada daun pintu. Ibu memejamkan mata rapat-rapat, menggenggam tasbihnya semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih karena tekanan yang kuat.

Tara melangkah mundur, mencari jalan keluar yang tidak ada, sementara bayangan kegagalan terus menghantuinya tanpa henti. Ia teringat janjinya dahulu untuk membelikan Ibu rumah yang layak, namun kini justru rumah peninggalan ayahnya yang terancam hilang selamanya. Rasa mual melilit perutnya saat ia menyadari betapa dalam lubang hitam yang telah ia gali untuk dirinya dan orang yang paling ia cintai.

Keputusasaan mulai merayapi pikiran Tara, membisikkan jalan pintas yang gelap sebagai satu-satunya cara untuk menghentikan semua penderitaan ini. Namun, saat tatapannya jatuh pada foto kecil di atas lemari, ia melihat senyum Ibu yang tulus beberapa tahun silam sebelum judi merenggut segalanya. Senyum itu seolah-olah menjadi jangkar terakhir yang menahan jiwanya agar tidak hanyut lebih jauh ke dalam jurang kehancuran.

Ibu bangkit dari kursinya dengan susah payah, mendekati Tara dan meletakkan tangan dinginnya di atas bahu putranya yang masih bergetar. "Ibu tidak butuh uangmu, Nak. Ibu hanya ingin anak Ibu kembali, bukan bayang-bayang yang dikejar setan angka," bisik Ibu dengan nada yang menusuk langsung ke jantung. Kalimat itu meruntuhkan sisa-sisa pertahanan diri Tara, membuatnya jatuh tersungkur di kaki ibunya dengan isak tangis yang pecah.

Di luar, suara ancaman terus berlanjut, namun di dalam ruangan itu, waktu seakan berhenti sejenak untuk memberi ruang bagi penyesalan yang murni. Tara menggenggam ujung daster Ibu, menyadari bahwa perjalanan untuk menebus kesalahan ini akan menjadi jalan yang sangat panjang dan penuh duri tajam. Ia harus memilih antara terus melarikan diri atau berdiri tegak menghadapi badai yang ia ciptakan sendiri dengan tangannya.

Tepat saat gedoran pintu berhenti, sebuah amplop cokelat terjatuh dari saku jaket Tara, menyingkapkan rahasia terakhir yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat. Ibu memungut amplop itu dengan tangan gemetar, dan saat melihat isinya, wajahnya berubah pucat pasi melebihi warna kertas di tangannya. Tara hanya bisa terpaku saat menyadari bahwa pengkhianatan terbesarnya baru saja terungkap di saat ia baru saja ingin mencoba untuk mulai bertaubat.

Aku punya sisa sedikit untuk belanja besok, gumamku sambil meletakkan dua lembar uang lima puluh ribu di atas meja kayu yang permukaannya sudah retak-retak. Jari telunjukku tanpa sadar mengetuk-ngetuk pinggiran meja, sebuah kebiasaan yang selalu muncul setiap kali aku merasa gelisah atau menyembunyikan sesuatu yang besar di balik lidahku. Aroma minyak kayu putih yang menyengat dari arah kursi goyang Ibu menusuk hidung, menciptakan suasana yang terasa begitu sempit dan menyesakkan dalam ruang tamu yang remang-remang itu.

Ibu hanya melirik uang itu dengan tatapan kosong, seolah dua lembar kertas berwarna biru itu adalah kotoran yang tidak sengaja tergeletak di sana. Beliau tidak segera mengambilnya, melainkan terus mengayunkan kursi goyangnya dengan suara derit kayu yang memekakkan telinga. Uang apa ini, Tara? Hasil kerja atau hasil putaran mesin sialan itu lagi? Suara Ibu terdengar datar namun tajam, seperti sembilu yang sengaja diseret di atas permukaan kaca, membuat seluruh bulu kudukku berdiri seketika.

Pertanyaan itu menghantam ulu hati, membuatku kehilangan kata-kata untuk membela diri sementara tanganku semakin cepat mengetuk meja. Aku ingin sekali berteriak bahwa ini adalah sisa kemenangan terakhirku sebelum semuanya ludes, tapi tenggorokanku terasa seperti tersumbat pasir yang kering. Aku menarik napas panjang, mencoba menghirup udara yang terasa berat oleh debu, sambil memikirkan alasan apa pun yang sekiranya masih bisa dipercaya oleh perempuan yang telah melahirkanku ini.

Layar ponsel di saku celanaku bergetar pelan, sebuah notifikasi dari aplikasi pinjaman online yang menagih janji, membuat jantungku berdegup kencang hingga terasa ke ujung jari. Aku tahu jika aku tidak segera memberikan uang ini, besok kami tidak akan makan, tapi melihat sorot mata Ibu yang penuh luka membuat uang itu terasa membakar kulit tanganku. Aku hanya bisa menunduk, menatap retakan meja yang semakin bercabang, persis seperti jalan hidupku yang kini berantakan akibat taruhan-taruhan tidak masuk akal itu.

Ibu bangkit dari kursinya dengan gerakan lambat, lalu berjalan mendekat hingga bayangannya menutupi tubuhku yang gemetar. Beliau tidak mengambil uang itu, melainkan hanya menyentuh bahuku sekilas dengan tangan yang terasa sangat dingin dan rapuh. Jika kamu masih ingin melihat Ibu tersenyum, tolong jangan berikan aku uang yang berbau busuk seperti ini lagi, bisiknya lirih sebelum melangkah pergi meninggalkan aku sendirian dalam kegelapan yang mulai menelan seluruh isi ruangan.

Lampu neon di ruang tamu berkedip tidak stabil, mengirimkan denyut cahaya pucat yang mempertegas garis lelah di wajah Ibu. Di atas meja kayu yang sudah lapuk, beberapa lembar uang kertas lusuh tergeletak seperti sisa-sisa harapan terakhir. Tara terus meremas ujung kemejanya yang lembap oleh keringat dingin, sementara matanya terpaku pada retakan di lantai semen yang seolah-olah siap menelannya bulat-bulat ke dalam tanah.

Suasana yang semula hanya diisi oleh suara jangkrik di luar rumah tiba-tiba pecah saat tirai kamar tersingkap dengan kasar. Bram melangkah keluar dengan napas memburu, matanya merah padam bukan karena kantuk, melainkan amarah yang sudah mengerak. Ia menunjuk ke arah tumpukan uang di meja dengan telunjuk yang gemetar, seolah-olah melihat tumpukan sampah busuk yang mencemari kesucian rumah mereka malam itu.

"Jangan terima uangnya, Bu! Jangan sentuh sepeser pun dari tangan kotor itu!" teriak Bram dengan suara yang serak dan pecah di ujungnya. Kalimat itu menghantam dinding-dinding rumah yang sepi, menciptakan gema yang menyakitkan di telinga Tara. Ibu terlonjak kaget, tangannya yang sudah hampir menyentuh uang itu segera ditarik kembali ke pangkuan, gemetar hebat melihat murka putra bungsunya.

Bram melangkah maju, memperpendek jarak dengan Tara yang hanya bisa terpaku seperti patung yang retak. "Sepatuku yang Ibu belikan dengan uang lembur sebulan penuh, hilang dijualnya minggu lalu hanya untuk mengisi saldo di layar terkutuk itu!" lanjut Bram dengan nada yang lebih rendah namun jauh lebih mengiris. Setiap kata yang terlontar adalah paku yang dipukul tepat ke jantung Tara, mengingatkannya pada pengkhianatan kecil yang ia lakukan demi satu putaran judi lagi.

Tara menunduk dalam-dalam, merasakan panas yang membakar seluruh wajahnya hingga ke ujung telinga yang memerah. Ia ingin membela diri, ingin mengatakan bahwa uang di meja itu adalah hasil kemenangannya semalam yang ia niatkan untuk menebus segalanya, namun lidahnya terasa kelu seperti disuntik mati rasa. Ruangan itu mendadak kekurangan oksigen, membuatnya sesak oleh rasa bersalah yang selama ini ia coba tekan jauh ke dasar kesadaran.

"Akan kuganti, Bram. Aku janji, semua yang hilang akan kembali seperti semula," sahut Tara dengan suara yang nyaris tidak terdengar, lebih mirip bisikan putus asa daripada sebuah komitmen. Ia mencoba mendongak sedikit, berharap menemukan secercah pengampunan di mata adiknya, namun ia hanya menemukan dinding kebencian yang kokoh. Janji itu terdengar hambar dan basi, bahkan di telinga Tara sendiri yang sudah terlalu sering mengucapkannya.

Bram tidak memberikan ruang bagi kata-kata kosong itu untuk bernapas lebih lama di udara. Ia hanya membuang muka dengan jijik dan meludah ke lantai, tepat di samping kaki Tara yang masih mengenakan sandal jepit tipis. Tindakan itu adalah pernyataan perang sekaligus tanda berakhirnya kepercayaan yang pernah mereka jalin sejak kecil. Luka yang digoreskan Tara ternyata jauh lebih dalam daripada sekadar kehilangan barang material; ia telah merobek martabat keluarga mereka.

Ibu hanya bisa terisak pelan di sudut kursi, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan yang kasar karena kerja keras bertahun-tahun. Tara melihat bahu Ibunya yang berguncang, dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa cahaya di mata wanita itu telah padam akibat perbuatannya. Setiap tarikan napas Ibu adalah beban yang harus ia tanggung, sebuah kenyataan pahit bahwa ia adalah monster yang menghancurkan satu-satunya tempat ia pulang.

Tiba-tiba, Bram merogoh saku celananya dan melemparkan sebuah ponsel yang layarnya sudah retak seribu ke arah dada Tara. "Ambil ini juga! Jual saja untuk modalmu besok! Aku lebih baik bertelanjang kaki daripada melihatmu mengemis belas kasihan dengan uang haram itu!" bentak Bram sebelum berbalik dan membanting pintu kamar hingga debu-debu dari langit-langit berjatuhan. Suara dentuman pintu itu seolah menjadi palu hakim yang menjatuhkan vonis mati bagi harga diri Tara.

Tara memungut ponsel itu dengan tangan yang kaku, menatap pantulan wajahnya yang hancur di balik retakan kaca layar yang tajam. Ia teringat bagaimana beberapa jam lalu ia bersorak saat angka-angka di situs itu berpihak padanya, tanpa menyadari bahwa setiap kemenangan di dunia maya adalah kekalahan telak di dunia nyata. Uang di meja itu kini tampak seperti potongan daging busuk yang tidak akan pernah bisa mengenyangkan rasa lapar keluarganya akan ketenangan.

Di tengah keheningan yang mencekam setelah badai amarah Bram, Tara merasakan sebuah sentuhan lembut yang sangat tidak ia duga di bahunya. Ia menoleh perlahan dan menemukan Ibu sudah berdiri di sampingnya, meski air mata masih membasahi pipi keriputnya yang pucat. Ibu tidak memaki, tidak pula berteriak, namun tatapan matanya yang penuh duka justru lebih menyakitkan daripada seribu cambukan di punggungnya yang kini terasa membungkuk.

"Tara, Ibu tidak butuh uang ini jika harganya adalah kasih sayang adikmu," bisik Ibu dengan nada yang begitu rapuh hingga membuat pertahanan terakhir Tara runtuh seketika. Ibu kemudian merogoh sesuatu dari balik saku daster lusuhnya, sebuah foto kecil yang sudah menguning di bagian tepinya. Itu adalah foto Tara saat wisuda sekolah menengah, tersenyum lebar dengan medali prestasi yang melingkar di lehernya, saat mimpinya masih murni dan tangannya belum ternoda.

Lihat selengkapnya