Layar Retak di Ujung Jari

Bilsyah Ifaq
Chapter #8

Keringat Penebusan

Tara mencengkeram gagang sekop yang kasar hingga telapak tangannya terasa panas terbakar. Di bawah terik matahari yang menyengat tengkuk, ia berulang kali memindahkan gundukan pasir ke dalam truk bak terbuka. Keringat bercampur debu semen mengalir masuk ke mata, namun ia tidak berhenti, hanya sesekali mengusap wajah dengan punggung tangan yang kotor. Setiap otot di tubuhnya menjerit karena kelelahan, sebuah rasa sakit fisik yang anehnya terasa jauh lebih jujur daripada debar jantung saat menatap layar ponsel yang menyala di tengah malam gelap.

Ia terbiasa mengetuk layar dengan ujung jempol kanan yang kini pecah-pecah karena beban material bangunan. Dulu, jempol itu adalah senjata untuk mempertaruhkan uang makan sebulan dalam satu kali klik cepat. Sekarang, jempol yang sama harus bekerja keras untuk mendapatkan selembar uang dua puluh ribu rupiah yang lecek dan berbau keringat. Ia menatap uang itu di telapak tangannya, menyadari betapa berat perjuangan untuk mendapatkan nilai yang dulu ia buang dalam hitungan detik di meja judi virtual yang penuh dengan tipu daya.

Suasana riuh di warung kopi seberang proyek mendadak membuat dadanya sesak saat suara notifikasi khas aplikasi judi terdengar nyaring. Beberapa rekan kuli lainnya tampak berkumpul, mata mereka terpaku pada layar ponsel sambil sesekali bersorak kegirangan atau memaki pelan. Tara menunduk dalam-dalam, mengunci pandangannya pada tumpukan batu bata yang harus dipindahkan. Godaan itu seperti bisikan iblis yang menjanjikan jalan pintas, menggoda akal sehatnya untuk kembali mencoba keberuntungan demi melunasi sisa utang pinjol yang masih mencekik lehernya.

Mungkin satu putaran saja bisa menutup bunga minggu ini, gumamnya dalam hati sebelum ia segera menggelengkan kepala dengan keras.

Ia merogoh saku celananya yang kumal, menyentuh selembar foto kecil ibunya yang sudah mulai memudar warnanya. Ingatan tentang air mata sang ibu saat penagih utang menggedor pintu rumah menjadi benteng terakhir yang menahan kewarasannya. Tara tahu bahwa sekali saja ia menyentuh tombol "spin" itu lagi, ia tidak hanya kehilangan uang, tetapi juga kehilangan sisa martabat yang sedang ia bangun kembali. Ia memilih untuk berjalan menjauh dari kerumunan warung itu, kembali memanggul karung semen yang beratnya seolah mewakili dosa-dosa masa lalunya yang belum tuntas.

Malam harinya, saat duduk di dipan kayu yang keras, Tara menghitung recehan hasil kerjanya dengan saksama. Setiap koin yang berdenting di atas meja kayu yang retak itu terasa begitu berharga, jauh lebih bernilai daripada angka digital jutaan rupiah yang pernah mampir sejenak di akun judinya. Ia belajar bahwa nilai uang bukan terletak pada jumlah nol di belakangnya, melainkan pada tetesan keringat dan waktu hidup yang dikorbankan untuk mendapatkannya secara halal. Rasa lelah yang luar biasa di sekujur tubuhnya justru memberinya ketenangan yang selama ini hilang dari jiwanya.

Namun, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel tuanya, menampilkan angka tagihan dari lintah darat yang jauh lebih besar dari seluruh hasil kerjanya bulan ini. Tara menatap layar yang retak itu dengan tangan gemetar, menyadari bahwa perjalanan penebusan ini baru saja dimulai dan badai yang lebih besar sedang bergerak mendekat. Ia harus memilih antara terus merangkak di jalur yang benar atau kembali terjun ke jurang yang pernah hampir merenggut nyawanya demi sebuah kepastian yang semu.

Asap knalpot truk mengepul tebal, menyumbat paru-paru Tara saat dia menurunkan peti telur dari bak kayu yang tinggi. Udara di pasar induk itu terasa panas dan menyesakkan, bercampur aroma anyir dan debu jalanan yang menempel di kulitnya yang lengket oleh keringat. Punggungnya terasa mau patah, seolah-olah beban ribuan butir telur itu menekan langsung ke sumsum tulang belakangnya tanpa ampun.

"Woi, cepat sedikit! Jangan lembek jadi orang!" teriak mandor bertopi kumal itu sambil menggebrak pintu truk dengan kasar. Suara logam yang beradu menciptakan denting memekakkan telinga di tengah hiruk-pikuk pasar yang belum tidur. Tara menyeka peluh dengan lengan baju yang sudah berubah warna menjadi abu-abu kusam, mencoba mengabaikan rasa perih di telapak tangannya yang mulai lecet.

Setiap langkah yang dia ambil terasa seperti menyeret beban beton, namun Tara terus merapatkan giginya hingga rahangnya terasa kaku. Dia membayangkan wajah Ibu yang tenang dan teduh, sebuah gambaran yang kontras dengan kekacauan hidupnya saat ini. Jika hutang pinjaman online yang mencekiknya ini berkurang seribu rupiah saja hari ini, dia merasa selangkah lebih dekat untuk melihat senyum itu kembali.

Di sela-sela napasnya yang memburu, Tara meraba saku celananya yang kosong, tempat ponselnya dulu selalu menampilkan grafik warna-warni judi online yang menyesatkan. Rasa haus akan kemenangan instan itu kini telah berganti menjadi rasa haus akan penebusan dosa yang nyata. Langkahnya memang berat dan goyah, namun dia menolak untuk berhenti atau sekadar mengeluh di hadapan kerasnya dunia yang dia ciptakan sendiri.

Tiba-tiba, seorang penagih hutang berjaket kulit hitam berdiri di ujung gang, mengawasi setiap gerak-geriknya dengan tatapan yang dingin dan mengintimidasi. Tara tertegun sejenak, jantungnya berdegup kencang melawan rasa takut yang sempat melumpuhkan logikanya. Namun, alih-alih melarikan diri seperti biasanya, dia justru membusungkan dada dan kembali memanggul peti kayu berikutnya dengan sisa tenaga yang dia miliki.

Dia tahu bahwa pelarian hanya akan membawanya kembali ke lubang gelap yang hampir merenggut nyawanya di jembatan penyeberangan malam itu. Kini, setiap tetes keringat adalah bentuk pertobatan yang dia persembahkan untuk satu-satunya alasan yang membuatnya tetap bernapas. Saat matahari mulai mengintip dari balik gedung-gedung tua, Tara menyadari bahwa cahaya yang paling terang justru muncul dari kegelapan yang paling dalam.

Keinginan untuk menyerah sempat terlintas saat kakinya tersandung kerikil tajam, namun bayangan doa Ibu di sepertiga malam menguatkan kembali sendi-sendinya yang melemah. Dia tidak akan membiarkan air mata ibunya jatuh lagi karena ulah konyolnya mengejar angka-angka semu di layar ponsel yang kini telah retak. Tara terus berjalan menembus kabut pagi, membawa harapan kecil yang mulai tumbuh di antara tumpukan hutang yang masih menggunung.

"Ini bagianmu hari ini, Ra. Jangan dipakai buat yang aneh-aneh lagi ya," ucap Pak Haji sambil menyodorkan beberapa lembar uang kumal yang berbau amis pasar. Tara menerimanya dengan tangan gemetar, merasakan tekstur kertas yang lembap oleh keringat dan sisa air tawar dari tumpukan ikan. Suara riuh rendah pedagang sayur di kejauhan menjadi latar belakang yang asing namun menenangkan bagi telinganya yang biasanya hanya mendengar dering notifikasi pinjol.

Nilainya memang jauh lebih kecil dibanding sekali klik taruhan di masa lalu yang bisa mencapai jutaan rupiah dalam sekejap mata. Namun, sensasi kertas kasar di telapak tangannya kali ini terasa jauh lebih berharga dan nyata daripada saldo digital mana pun. Ini bukan sekadar angka yang berkedip di layar ponsel yang retak, melainkan bukti fisik dari otot bahunya yang dipaksa bekerja memanggul keranjang hingga batas kemampuannya sejak subuh tadi.

Tara menyelipkan uang itu ke saku celananya dengan gerakan hati-hati, seolah takut lembaran itu akan menguap jika ia tidak menjaganya dengan baik. Ia mengusap peluh di dahi dengan punggung tangan yang kasar, merasakan perih di otot-ototnya yang mulai menegang karena kelelahan yang luar biasa. Meski tubuhnya terasa remuk, ada sebuah kehangatan aneh yang menjalar di dadanya, sebuah perasaan yang sudah sangat lama tidak ia rasakan semenjak terjebak dalam labirin judi.

Di sudut pasar yang mulai sepi, ia duduk sebentar di atas peti kayu kosong sambil memandangi tangannya yang kotor oleh tanah dan sisik ikan. Bayangan wajah ibunya yang teduh tiba-tiba melintas, memberikan dorongan energi kecil yang membuatnya mampu menegakkan punggung kembali. Ia tahu perjalanan untuk melunasi gunung hutang masih sangat panjang, namun langkah kecil ini terasa seperti oksigen pertama setelah sekian lama ia tenggelam dalam lumpur yang pekat.

Ia merogoh sakunya sekali lagi hanya untuk memastikan uang itu masih ada di sana, sebuah ritual kecil yang memberinya rasa aman yang semu namun sangat ia butuhkan. Tara menarik napas panjang, membiarkan aroma pasar yang tajam mengisi paru-parunya, sebuah pengingat bahwa ia masih hidup dan memiliki kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Setiap denyut di nadinya kini seolah berbisik bahwa kejujuran, sekecil apa pun upahnya, memiliki rasa yang jauh lebih manis daripada kemenangan palsu.

Sebelum beranjak pulang, ia menyempatkan diri membeli sebungkus nasi rames hangat yang aromanya menggoda selera makan yang sempat hilang berbulan-bulan. Ia membayangkan senyum ibunya saat melihat ia pulang membawa makanan hasil keringat sendiri, bukan lagi pulang dengan wajah pucat dan mata merah karena kalah taruhan. Langkah kakinya terasa lebih ringan saat ia meninggalkan area pasar, meski ia tahu di ujung jalan sana, para penagih hutang mungkin masih menunggunya dengan ancaman yang nyata.

Namun, saat ia melewati sebuah gang sempit, sebuah tangan kekar tiba-tiba menarik kerah bajunya dan menghempaskannya ke dinding tembok yang dingin dan berlumut. Tara terkesiap, jantungnya berdegup kencang saat ia mengenali wajah salah satu penagih dari aplikasi pinjol yang selama ini menghantuinya. "Kira-kira berapa lama lagi kau mau lari dari kami, hah?" bisik pria itu dengan nada mengancam, tepat di depan wajah Tara yang kini kembali memucat pasi.

Layar ponsel di atas meja kayu yang bopeng itu menyala terang, memantulkan cahaya biru yang pucat ke wajah-wajah kusam di pojok kedai kopi. Tara berdiri mematung di ambang pintu, menghirup aroma kopi basi dan asap rokok yang menyesakkan dada. Jantungnya berdegup kencang saat mendengar denting notifikasi yang sangat ia kenali, sebuah bunyi yang dulu selalu memicu adrenalinnya untuk segera bertaruh habis-habisan.

"Tara! Sini, ada pertandingan besar malam ini, peluang menang tipis tapi hasil besar!" teriak Rian dari meja pojok sambil melambai-lambaikan gawai mahalnya. Rian tertawa lebar, memperlihatkan deretan gigi kuningnya, sementara kawan-kawan yang lain tetap terpaku pada layar masing-masing dengan jempol yang bergerak gelisah. Mereka tampak seperti zombi yang dikendalikan oleh algoritma angka-angka yang terus berputar tanpa henti.

Tara berhenti sejenak, kakinya terasa berat seolah tertanam ke lantai semen yang retak. Dia menatap punggung kawan-kawannya yang membungkuk, pemandangan yang dulu adalah cermin dirinya sendiri selama berbulan-bulan. Di dalam saku celananya, tangan Tara mengepal kuat, meremas lembaran uang upah buruh angkut yang baru saja ia terima sore tadi. Kertas-kertas lusuh itu terasa kasar dan lembap oleh keringat dingin yang mulai membasahi telapak tangannya.

"Cuma sekali tekan, Tar! Modal receh bisa jadi naga, kau tahu sendiri rumusnya," lanjut Rian dengan nada menggoda, mencoba menarik Tara kembali ke dalam lingkaran setan itu. Suasana kedai mendadak hening bagi Tara, hanya ada suara detak jarum jam dinding yang usang dan gemuruh di dalam kepalanya. Godaan itu datang seperti ombak besar yang siap menenggelamkannya kembali ke dasar jurang keputusasaan yang gelap dan mencekam.

Bayangan wajah ibunya yang pucat tiba-tiba melintas di benak Tara, saat wanita itu harus menjual cincin kawin satu-satunya demi membayar hutang pinjol Tara. Dia teringat bagaimana tangan ibunya gemetar saat menyerahkan uang itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, hanya tatapan kecewa yang lebih menyakitkan dari sayatan pisau. Ingatan itu menjadi jangkar yang menahan Tara agar tidak terseret lebih jauh ke dalam lubang hitam yang sama.

"Aku sudah berhenti. Cari orang lain saja," jawab Tara dengan suara rendah namun bergetar oleh ketegasan yang baru ia temukan. Dia tidak menoleh sedikit pun ke arah meja pojok itu, meski rasa penasaran sempat mencubit nuraninya untuk sekadar melihat skor pertandingan. Tara tahu bahwa sekali saja dia menoleh, benteng pertahanan yang ia bangun dengan susah payah selama berminggu-minggu akan runtuh seketika tanpa sisa.

Tawa ejekan meledak di belakangnya, suara Rian yang melengking menyebutnya sebagai pengecut dan orang suci gadungan yang akan segera menyesal. Ejekan itu memantul di dinding kedai, namun Tara terus melangkah keluar menuju kegelapan malam yang dingin. Udara segar di luar terasa begitu nikmat di paru-parunya, jauh lebih berharga daripada janji-janji kemenangan palsu yang ditawarkan oleh mesin judi di dalam sana.

Langkah kakinya membawa Tara menyusuri gang sempit menuju rumah petaknya yang sederhana di ujung jalan. Di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip, dia mengeluarkan uang upahnya dan menghitungnya sekali lagi dengan saksama. Uang itu tidak banyak, namun ini adalah uang halal pertama yang ia pegang setelah sekian lama terjebak dalam siklus gali lubang tutup lubang yang menghancurkan martabatnya sebagai seorang anak.

Tiba-tiba, sebuah pesan masuk ke ponselnya, bukan dari situs judi, melainkan foto dari adiknya yang memperlihatkan ibu mereka sedang tersenyum di depan meja makan. Di atas meja itu tersedia sepiring nasi dan tempe goreng, menu sederhana yang terasa sangat mewah karena dibeli dari hasil keringat yang jujur. Mata Tara memanas, setetes air mata jatuh membasahi layar ponselnya yang retak di bagian pojok bawah.

Namun, ketenangan itu terusik saat sebuah motor besar berhenti tepat di depannya, menghalangi jalan sempit yang sedang ia lalui. Dua pria berbadan tegap dengan jaket kulit hitam turun dari motor, menatap Tara dengan pandangan mengancam yang membuat bulu kuduknya berdiri. Salah satu dari mereka memegang secarik kertas yang berisi rincian hutang pinjol yang belum lunas, bunga yang terus membengkak meski Tara sudah berusaha mencicilnya.

"Kau pikir dengan berhenti main judi, hutangmu otomatis lunas, hah?" bentak pria yang lebih tinggi sambil mendorong bahu Tara hingga tersungkur ke dinding. Tara meringis kesakitan, punggungnya menghantam bata keras, namun tangannya tetap mendekap erat saku celana tempat uang upahnya berada. Konflik ini belum berakhir, justru ini adalah awal dari ujian sesungguhnya untuk membuktikan sejauh mana dia mampu bertahan demi senyum ibunya.

Pria itu merampas ponsel Tara dan melihat foto ibunya yang masih terpampang di layar, lalu tersenyum sinis yang membuat darah Tara mendidih seketika. "Ibumu cantik juga, mungkin dia punya simpanan lain kalau kau tidak bisa bayar sisa hutang ini besok pagi," ancam pria itu dengan nada melecehkan. Kata-kata itu memicu ledakan amarah di dada Tara, sebuah kemarahan yang bukan lagi karena kalah judi, melainkan dorongan untuk melindungi kehormatan keluarganya.

Tara bangkit berdiri dengan sisa tenaga yang ada, menatap tajam kedua penagih hutang itu tanpa rasa takut yang biasanya melumpuhkannya. Dia tahu bahwa melarikan diri bukan lagi pilihan, dan kembali berjudi hanya akan memperparah keadaan yang sudah hancur lebur ini. Dengan suara yang berat dan penuh penekanan, dia memberikan janji yang harus ia tepati meski harus mempertaruhkan nyawa dan seluruh sisa hidupnya yang berharga.

"Jangan pernah sebut nama ibuku dengan mulut kotor kalian, atau aku akan memastikan kalian menyesal telah datang ke sini malam ini," desis Tara. Ketegangan memuncak saat salah satu pria itu mulai mengepalkan tinju, siap menghantam wajah Tara yang sudah pasrah namun tetap teguh. Di ujung jalan yang sepi, nasib Tara bergantung pada satu keputusan besar yang akan mengubah seluruh alur hidupnya dalam hitungan detik yang sangat menentukan.

Lampu neon yang berkedip di ruang tamu kecil itu seolah mengejek kegelapan yang mengendap di kantung mata Tara. Ia baru saja pulang dari gudang logistik, tempat ia membanting tulang belasan jam demi kepingan rupiah yang habis ditelan lubang hitam digital. Aroma keringat bercampur debu semen melekat erat di kausnya yang sudah memudar warnanya.

Ibu duduk di kursi kayu tua, menanti dengan kecemasan yang tidak pernah ia suarakan lewat kata-kata. Saat Tara melangkah menuju kamar mandi dengan langkah gontai, Ibu bangkit dan mencegatnya di ambang pintu. Jemari rentanya yang dingin tiba-tiba meraih pergelangan tangan Tara, menghentikan gerakan pria itu yang tampak begitu rapuh.

Mata Ibu tertuju pada telapak tangan Tara yang terbuka, di mana kulitnya pecah-pecah dan beberapa bagian merembeskan darah segar yang belum mengering. "Kenapa dipaksakan begini, Nak?" tanya Ibu dengan suara yang bergetar hebat, menahan tangis yang sudah menggantung di kelopak matanya. Ia mengusap pinggiran luka itu dengan sangat hati-hati.

Tara menarik tangannya perlahan, sebuah gerak refleks yang biasa ia lakukan untuk menyembunyikan kegagalan. Ia memaksakan sebuah lengkungan di bibirnya yang pecah akibat dehidrasi dan tekanan batin yang luar biasa. "Ini bukan luka, Bu. Ini cara Tara membuang kotoran di dalam diri," bisiknya dengan nada suara yang rendah dan serak.

Ia mencoba mengatur napas agar tidak terdengar sesak oleh rasa bersalah yang mencekik lehernya setiap kali melihat wajah tulus ibunya. "Jangan khawatir, besok Tara akan berangkat lebih pagi lagi untuk kita," lanjutnya sambil meremas jemari sendiri untuk menyembunyikan getaran hebat yang menjalar dari ujung sarafnya. Ia harus bertahan.

Malam semakin larut, namun Tara justru duduk tertegun di tepi dipan kayu yang keras, menatap layar ponselnya yang retak di bagian sudut. Notifikasi dari aplikasi pinjaman online terus bermunculan, masing-masing membawa ancaman yang jauh lebih tajam daripada luka di tangannya. Ia merasa seperti tikus yang terpojok di sudut ruangan gelap.

Hanya satu kemenangan lagi, pikirnya sesaat, sebelum ia segera menggelengkan kepala dengan keras hingga lehernya terasa kaku. Bayangan senyum Ibu saat menerima sebungkus nasi padang tadi sore menjadi penahan beban yang nyaris runtuh. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa koin-koin digital itu tidak akan pernah lagi menyentuh keringatnya.

Lihat selengkapnya