Aroma pagi di SMAN 1 Nusa Bangsa selalu punya dua sisi: bau aspal basah yang bercampur dengan parfum mahal di lobi depan, dan bau oli rantai sepeda yang menyengat di area parkir belakang.
Bunga baru saja menginjakkan kaki di ubin marmer lobi saat pintu Toyota Alphard hitam milik keluarganya tertutup dengan dentuman yang halus—jenis bunyi yang hanya dihasilkan oleh mobil dengan harga miliaran. Sopirnya, Pak maman, membungkuk sopan sebelum perlahan melajukan mobil itu keluar dari gerbang sekolah. Bunga menarik napas dalam, merapikan rok seragamnya yang tanpa cela. Sepatu kets putih edisi terbatas di kakinya memantulkan cahaya lampu koridor; sepatu itu begitu bersih hingga rasanya berdosa jika harus menyentuh debu lapangan upacara.
Namun, perhatian Bunga tidak tertuju pada decak kagum siswi-siswi lain yang melirik sepatunya. Matanya terpaku pada sudut parkiran belakang yang terlihat dari jendela koridor. Di sana, seorang laki-laki dengan seragam yang disetrika begitu kaku hingga garis lengannya terlihat setajam silet, sedang bergelut dengan rantai sepeda jengkinya.
Zidan.
Bunga sengaja memperlambat langkahnya di depan loker. Ia pura-pura sibuk menata buku catatan yang sebenarnya sudah rapi, hanya demi memberikan waktu bagi semesta untuk mempertemukan mereka di titik koordinat yang sama. Lima menit. Itu adalah waktu tunggu yang rela ia bayar setiap pagi, hanya untuk sebuah sapaan yang bagi orang lain mungkin terdengar biasa saja.
“Bunga? Sudah lama?”
Suara bariton itu menyapa. Zidan mendekat, aroma sabun batangan yang khas dan keringat tipis di dahi menjadi penanda kehadirannya. Ia menyeka dahi dengan punggung tangan, sebuah gerakan sederhana yang di mata Bunga terlihat jauh lebih gagah daripada aktor mana pun di poster kamar kakaknya.
Bunga tersenyum, lalu merogoh tasnya untuk mengeluarkan sebuah botol minum premium berwarna pastel. “Nggak juga. Ini, diminum dulu. Mama bilang ini jus kale-apel buat detoks. Kamu pasti butuh tenaga buat latihan fisik nanti siang, kan?”
Zidan menerima botol itu, tapi matanya terpaku pada merek yang tertera di tutup botolnya. Ia menghela napas pendek. “Terima kasih, Bunga. Tapi kamu tahu, kan? Satu botol ini mungkin setara dengan uang jajan aku seminggu di kantin.”
“Zidan, stop bahas harga,” potong Bunga lembut. Tangannya bergerak tanpa sadar, merapikan kerah baju Zidan yang sedikit miring akibat aktivitas di parkiran tadi. Jari-jarinya bersentuhan sejenak dengan kain seragam yang kasar, kontras dengan kulit tangannya yang lembut. “Ini perhatian, bukan transaksi. Anggap saja ini investasi supaya kamu nggak pingsan saat latihan Paskibraka nanti.”
Zidan hanya bisa terdiam. Baginya, perhatian Bunga adalah kemewahan yang terkadang terasa menyesakkan. Di sekolah ini, mereka adalah definisi couple goals yang mustahil. Bunga—si model cantik, putri dari seorang jaksa yang ditakuti dan pilot senior—sedangkan Zidan adalah anak pensiunan kantor pos yang bertahan hidup dengan nilai-nilai sempurna dan beasiswa.
“Nanti malam ada acara makan malam di rumah,” bisik Bunga saat mereka mulai berjalan beriringan menuju ruang OSIS. “Kakakku baru pulang dari pelayaran. Ayah pengin kamu datang. Kita merayakan kelulusan seleksi tahap provinsi kamu kemarin.”
Langkah Zidan sempat tertahan. Jamuan makan malam di rumah Bunga selalu terasa seperti sidang skripsi di bawah lampu sorot. Di sana, percakapan bukan tentang siapa yang mencetak gol di lapangan, melainkan tentang indeks saham, rute penerbangan internasional, atau kasus-kasus hukum besar. Standar “kehebatan” di keluarga itu setinggi langit. Sementara Zidan? Satu-satunya hal yang ia miliki adalah ambisi dan sepasang kaki yang sanggup berlari lebih lama dari siapa pun.
“Aku akan usahakan datang, Bunga. Setelah rapat OSIS,” jawab Zidan akhirnya, meski ada nada ragu yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Dari balik jendela ruang OSIS yang terbuka sedikit, seorang laki-laki dengan raut wajah sedatar permukaan air di sumur tua memperhatikan mereka. Arka, sang Wakil Ketua OSIS, sedang memegang berkas laporan keuangan. Matanya tidak bergerak mengikuti gerakan Bunga dan Zidan, tapi ia tahu persis setiap jengkal jarak yang mereka tempuh.
Arka tidak iri. Iri adalah perasaan bagi mereka yang merasa punya peluang. Arka hanya... mengamati. Ia menunduk, mencoret-coret margin kertas laporannya dengan sketsa kecil yang menyerupai bunga matahari. Sebuah obsesi kecil yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Ia menutup jendela itu tanpa suara, tepat saat suara bising anggota OSIS lain mulai memenuhi ruangan.
Ruang OSIS berukuran enam kali delapan meter itu adalah labirin rahasia. Di sini, aroma kopi sasetan dan bau kertas tua bercampur dengan kecemasan-kecemasan yang tidak pernah dibawa pulang ke rumah.
“Zidan lagi, Arka?”
Suara melengking itu milik Tiara. Sang Ketua Sekbid Seni itu sedang sibuk memoles lip tint di depan cermin kecil. Tiara adalah ratu gosip, tapi jika kau melihat lebih dekat, matanya yang selalu sibuk memindai layar ponsel itu menyimpan kesepian yang dalam. Di rumahnya yang megah, keheningan adalah tamu tetap. Ayah dan ibunya adalah pengusaha yang hanya bicara lewat notifikasi transferan bank. Baginya, suara berisik perdebatan OSIS adalah musik latar yang jauh lebih baik daripada meja makan kosong di rumah.
“Berisik, Ra. Urus tuh dekorasi pensi, jangan urusin hubungan orang,” sahut Maura tanpa menoleh dari layar laptopnya. Jari-jarinya menekan tombol kalkulator dengan tenaga ekstra, seolah-olah angka-angka itu adalah musuh bebuyutannya.
Maura, sang Bendahara, adalah benteng pertahanan terakhir. Ia sangat ketat soal uang kas bukan karena ia pelit, tapi karena ia muak dengan ketidakteraturan. Di rumah, ia harus melihat ibunya menangis setiap kali penagih hutang online menelepon akibat ulah ayahnya. Di OSIS, Maura merasa berkuasa. Di sini, satu rupiah pun tidak boleh hilang tanpa jejak.
BRAKK!
Pintu terbuka kasar. Jojo masuk sambil mendribel bola basket. Suara pantulannya menggema di ruangan sempit itu. “Pagi, rakyat Nusa Bangsa! Arka, muka lo makin hari makin mirip batu nisan, kaku banget!” Jojo merangkul pundak Arka, mengabaikan tatapan dingin sang wakil ketua.
Jojo adalah si mood maker. Tawanya adalah yang paling keras, leluconnya yang paling garing adalah bahan bakar suasana. Namun, hanya Arka yang tahu rahasia di balik jaket varsity yang selalu Jojo pakai—memar di punggung yang didapat saat ayahnya mabuk. Jojo menjadikan sekolah sebagai bunker. Selama ia bisa membuat orang tertawa, rasa sakit di rumahnya bisa ia tunda untuk sementara.