LDR: Love, Duty, Regret

Intan Purnama
Chapter #2

Lollipop vs. Porsche

Tanda tangan Pak Broto masih basah di atas lembar pengesahan proposal Hari Kartini. Zidan, Arka, dan Bunga berjalan keluar dari ruang kepala sekolah dengan langkah yang sedikit lebih ringan. Bagi pengurus OSIS, tanda tangan itu bukan sekadar tinta, melainkan napas untuk kegiatan mereka minggu depan.

Bunga melirik Zidan, tangannya hampir saja meraih lengan seragam laki-laki itu. “Zid, pulang bareng, yuk? Sekalian mampir beli perlengkapan buat makan malam nanti,” ajaknya dengan nada penuh harap.

Namun, langkah mereka terhenti oleh suara dehem berat dari arah pintu ruangan yang baru saja mereka tinggalkan. “Zidan, bisa ke ruangan Bapak sebentar? Ada beberapa berkas administratif seleksi provinsi yang harus kamu lengkapi sekarang juga.”

Pak Broto berdiri di sana, memegang map merah. Senyumnya tidak menyisakan ruang untuk penolakan. Zidan menoleh ke arah Bunga, raut wajahnya serba salah.

“Maaf, Bunga. Sepertinya aku nggak bisa pulang sekarang,” bisik Zidan pelan. Ia lalu menoleh ke arah Arka, menyodorkan tumpukan proposal yang tadi ia pegang. “Ka, tolong bawa ini ke ruang OSIS. Kasih tahu yang lain kalau acara Kartini sudah di-ACC. Aku harus urus berkas dulu.”

Arka mengangguk tanpa suara. Tangannya menerima beban kertas itu, sementara matanya menangkap gurat kecewa yang melintas di wajah Bunga. Kecewa yang segera Bunga sembunyikan dengan senyum paksa saat Zidan berbalik mengikuti langkah Pak Broto.

Suasana koridor mendadak sunyi, hanya menyisakan Arka dan Bunga yang berdiri terpaku. Bunga menghela napas panjang, bahunya merosot sedikit. Ia menatap punggung Zidan yang menghilang di balik pintu kayu jati ruangan kepala sekolah.

Tiba-tiba, sebuah benda kecil berwarna-warni muncul di hadapan wajah Bunga. Arka menyodorkan sebuah lollipop rasa ceri.

“Lo kelihatan ngantuk,” ujar Arka datar, nyaris tanpa ekspresi seperti biasanya.

Bunga mengerjap, sedikit terkejut melihat Arka yang biasanya hanya bicara soal laporan keuangan kini menyodorkan permen. “Ngantuk? Nggak, kok. Cuma...”

“Gula bisa bantu otak lo tetap fokus,” potong Arka sebelum Bunga sempat menyelesaikan kalimatnya. “Makan aja.”

Bunga menerima lollipop itu, jari-jarinya bersentuhan sejenak dengan jari Arka yang terasa dingin. “Makasih, Ka.”

Baru saja Bunga hendak membuka bungkus permen itu, ponsel di saku roknya bergetar hebat. Sebuah nama muncul di layar: Dion Alvaro.

“Halo? Iya, Dion? Hah? Udah di gerbang?” Suara Bunga berubah sedikit panik. Ia menoleh ke arah gerbang sekolah di mana sebuah Porsche putih sudah menarik perhatian massa. “Oke, gue ke sana sekarang.”

Bunga menatap Arka dengan pandangan meminta maaf. “Ka, gue harus pergi. Dion sudah sampai. Tolong kasih tahu yang lain kalau gue nggak bisa ikut rapat evaluasi sore ini, ya!”

###

Bunga berlari kecil menuju gerbang, rambutnya yang tertata rapi melambai tertiup angin. Di tangannya, lollipop pemberian Arka masih tergenggam erat, belum sempat ia cicipi.

Arka berdiri mematung di koridor yang mulai sepi. Ia memerhatikan punggung Bunga yang menjauh, lalu beralih menatap deru mobil mewah yang menjemput gadis itu. Di tangannya yang lain, ia masih memegang proposal kegiatan Hari Kartini—sebuah tanggung jawab yang ditinggalkan Zidan untuknya.

Lagi-lagi, ia hanya menjadi penjaga rahasia dan pelaksana tugas. Arka membenarkan letak kacamatanya, lalu berbalik menuju ruang OSIS. Ia punya rumah yang harus ia urus, meski penghuninya sedang sibuk mengejar dunia masing-masing.

Arka baru saja meletakkan proposal di atas meja tengah, siap membuka suara untuk membacakan poin-poin penting yang telah disetujui Pak Broto. Namun, belum sempat kata pertama keluar dari mulutnya, sebuah keriuhan pecah dari arah lapangan depan. Suara teriakan histeris siswi-siswi yang sedang mengikuti ekstrakurikuler tari dan voli menembus dinding ruang OSIS.

“Suara apaan sih? Heboh banget kayak ada menteri datang,” gumam Maura, tangannya tertahan di atas keyboard laptop.

Sisca, yang insting 'radar drakor'-nya paling tajam, langsung melompat menuju jendela. Matanya membulat sempurna. “Gila! Itu... itu Porsche putihnya Dion Alvaro! Dia beneran datang ke sekolah kita!”

“DION ALVARO?!” Tiara berteriak, hampir menjatuhkan cermin kecilnya. “Sumpah?! Gue belum touch up!”

Dalam hitungan detik, suasana ruang OSIS yang kaku mendadak kacau. Tiara, Sisca, bahkan Maura yang biasanya paling logis pun ikut berhamburan keluar pintu. Mereka tidak peduli lagi pada agenda rapat atau tumpukan berkas di atas meja. Bagi mereka, melihat sosok bintang film yang selama ini hanya muncul di layar ponsel secara langsung adalah kejadian langka yang tak boleh dilewatkan.

“Eh, tunggu! Pengumuman proposalnya gimana?!” seru Genta panik, mencoba menghalangi jalan dengan buku agendanya, namun ia justru nyaris tergilas oleh antusiasme teman-temannya.

“Nanti aja, Gen! Dion Alvaro nggak datang dua kali sehari ke sini!” sahut Sisca sambil berlari menjauh.

Arka terpaku di tempatnya. Tangannya masih memegang lembar proposal, namun penontonnya telah hilang. Ruang OSIS yang tadinya penuh sesak kini mendadak senyap, menyisakan dirinya, Genta yang tampak linglung, dan Jojo yang hanya bisa menggeleng-geleng sambil mendribel bolanya pelan.

Lihat selengkapnya