LDR: Love, Duty, Regret

Intan Purnama
Chapter #3

Unpredictable Dinner

Senja telah benar-benar larut dalam kegelapan malam saat lampu-lampu syuting di lapangan SMAN 1 Nusa Bangsa akhirnya dipadamkan. Di tengah hiruk-pikuk kru yang membereskan kabel, Bunga bergerak dengan sisa energi yang ia paksa. Pikirannya sudah melompat jauh ke meja makan di rumahnya. Tanpa peduli pada Pak Rudi yang sedang berjuang menembus kemacetan kota dengan Alphard-nya, Bunga lebih memilih memesan ojek daring. Baginya, setiap detik sangat berharga untuk bisa tiba lebih cepat.

Dion Alvaro hanya bisa mematung di samping Porsche putihnya, memegang kacamata hitam dengan rahang yang sedikit mengeras. Tawaran tumpangannya bahkan tidak sempat selesai diucapkan sebelum Bunga tancap gas, menghilang di balik helm hijau abang ojek. Dion tidak tahu, bahwa di balik jaket ojek yang kaku itu, Bunga sedang tersenyum membayangkan aroma iga bakar kecap—masakan yang ia siapkan khusus untuk menyambut pahlawannya, Zidan.

Sepanjang perjalanan, jemari Bunga tak henti menekan layar ponsel. Namun, panggilannya hanya berakhir pada nada tunggu yang dingin. Mungkin dia sedang mandi, atau sedang memilih baju terbaiknya, pikir Bunga mencoba menenangkan diri. Ia tidak tahu, bahwa di saat yang sama, Zidan sedang berada di sebuah lapangan remang-remang, membiarkan tubuhnya dihantam keletihan demi sebuah janji masa depan yang lebih layak.

Di dapur rumahnya yang luas dan modern, Bunga terlihat kontras dengan celemek yang menempel di tubuhnya. Tanpa bantuan ART, ia berkutat dengan bumbu-bumbu, memastikan rasa iga bakar buatannya sempurna. Senyumnya tak luntur; ia membayangkan tatapan bangga ayahnya dan binar mata Zidan saat mencicipi masakannya nanti.

Namun, kenyataan mulai terasa pahit saat semua anggota keluarganya sudah berkumpul di meja makan. Ayah, Bunda, dan kakaknya yang baru pulang berlayar sudah duduk rapi, sementara kursi di samping Bunga masih kosong melompong.

“Udah, kamu makan aja duluan. Nanti juga dia datang,” ucap Bundanya lembut, mencoba mencairkan suasana. Mereka mulai menyantap makanan, namun Bunga hanya mengaduk-aduk nasinya dengan gelisah.

Hingga akhirnya, ponselnya bergetar. Zidan mengangkat teleponnya.

“Zidan? Kamu di mana? Kemana aja dari tadi nggak diangkat?” Suara Bunga bergetar, ada nada panik dan rindu yang bercampur aduk.

“Maaf Bunga, kayaknya aku nggak bisa ikut makan malam,” jawaban Zidan di seberang sana terasa seperti siraman air es di tengah dada Bunga.

Matanya mulai berkaca-kaca. Panas yang menjalar di pelupuk matanya ia tahan sekuat tenaga agar tidak tumpah di depan keluarganya. “Kenapa? Gak ada kendaraan? Biar Pak Rudi jemput ya...” Bunga masih berusaha mencari celah, berharap ini hanya masalah teknis.

“Bukan, aku lagi latihan, Bunga. Maaf banget bikin kamu sedih, tapi aku harus latihan. Pak Broto bilang aku harus lulus seleksi nasional,” tutur Zidan datar, seolah ingin pembicaraan ini segera berakhir sebelum hatinya sendiri goyah.

“Oke, semangat terus ya!” Bunga menutup telepon dengan sisa-sisa kekuatannya. Kalimat itu adalah kebohongan tercantik yang ia ucapkan malam ini.

Hening menyergap meja makan. Ayah, Bunda, dan kakaknya adalah orang-orang yang mahir membaca situasi. Mereka tahu ada yang patah di dalam hati Bunga, namun mereka memilih memberikan ruang.

“Bunda, maaf Zidan nggak jadi datang. Katanya dia lagi latihan fisik buat seleksi tahap selanjutnya,” ucap Bunga, mencoba terdengar tegar meski suaranya sedikit parau.

“Nggak usah minta maaf, nggak ada yang salah kok,” Bunda tersenyum menenangkan.

“Seleksi apa?” tanya Ayah, memecah kecanggungan.

“Seleksi Paskibraka, Yah. Zidan baru lolos tahap kabupaten.”

Ayahnya mengangguk, lalu menatap Bunga dengan pandangan hangat. “Wah, selera kamu keren ya! Paskibraka itu mentalnya harus baja,” puji sang Ayah, bermaksud menghibur putrinya. Namun, bagi Bunga, pujian itu justru terasa menyakitkan karena ia tahu harga dari “mental baja” itu adalah waktu yang seharusnya milik mereka berdua.

“Yah, Bunda, Bunga izin makan malam di kamar ya...” pinta Bunga lirih. Ia mengangkat piring berisi iga bakar kecap buatannya—masakan yang tadinya ia harap akan menjadi saksi kebahagiaan, kini justru menjadi saksi bisu kesepiannya di dalam kamar.

Di luar sana, di bawah lampu jalan yang temaram, Zidan melakukan push-up ke-seratusnya. Ia membayangkan Bunga sedang tertawa di meja makan yang mewah, tanpa tahu bahwa gadis itu sedang menangis sambil memandangi piring yang dingin. Dua dunia yang berbeda, kini terasa semakin menjauh karena ambisi dan rasa minder yang tak kasat mata.

###

Arka melajukan motornya membelah kemacetan sore dengan sisa emosi yang bergejolak. Deru mesin motornya seolah berteriak mewakili dadanya yang sesak. Dia tidak ingin pulang—tidak ke rumah yang hanya berisi keheningan. Tujuannya adalah sebuah pusat perbelanjaan, tempat di mana hiruk-pikuk suara mesin permainan bisa menenggelamkan suara-suara di kepalanya.

Di game station, Arka seperti orang kesurupan. Dia memasukkan bola basket ke keranjang dengan tenaga berlebih, mencengkeram kemudi balap mobil hingga buku jarinya memutih, dan menembaki musuh virtual di layar dengan tatapan dingin. Namun, sialnya, setiap kali dia menutup mata, bayangan tangan Dion yang mencolek dagu Bunga dan tawa sombong aktor itu kembali muncul, lebih tajam dari grafis permainan mana pun.

Merasa muak karena tak satu pun mesin itu bisa menghapus bayangannya, Arka pergi dari sana. Dia memacu motornya menuju minimarket di dekat kompleks perumahannya. Dia butuh sesuatu yang dingin untuk menyiram kepalanya yang terasa terbakar.

“SHIT!” umpat Arka saat keluar dari minimarket. Bayangan Bunga yang tersenyum saat menerima lollipop darinya tadi pagi justru kini menumpuk, bertumpang tindih dengan adegan Bunga yang ditarik masuk ke dalam Porsche putih.

Dengan jemari yang sedikit gemetar, Arka mengambil sebatang rokok dan menjepitnya di bibir. Namun, sebelum pemantik apinya sempat memercikkan api, sebuah tangan dengan gerakan kilat menyambar rokok itu dari mulutnya.

Darah Arka mendidih. Dia sudah siap melayangkan pukulan pada siapa pun yang berani mengganggunya saat ini. Tapi gerakannya terhenti saat melihat sosok yang berdiri di depannya.

“Buat gue ya!” ucap orang itu sambil menaikkan alisnya dengan jahil.

Jojo.

Arka menatapnya datar, memindai penampilan sahabatnya itu dari atas ke bawah. Jojo masih mengenakan celana abu-abu SMA-nya yang sedikit kotor, dipadu dengan kaos hitam polos dan rompi oranye kusam. Peluit yang biasa ia pakai di lapangan basket kini mengalung di lehernya dengan fungsi yang berbeda.

Sebelum Arka sempat memaki, Jojo memberikan isyarat agar Arka diam sebentar. Dengan lincah, Jojo berlari ke tengah jalan, meniup peluitnya dengan nyaring, dan memberikan aba-aba pada sebuah mobil mewah yang hendak keluar menuju jalan raya. Gerakannya cekatan, matanya waspada memantau arus kendaraan.

Setelah mobil itu lewat dan memberinya selembar uang dua ribuan yang langsung ia kantongi, Jojo kembali menghampiri Arka sambil menyulut rokok hasil “rampasan” tadi.

“Sejak kapan lo jadi tukang parkir?” tanya Arka, mengabaikan fakta bahwa rokoknya baru saja dicuri. Matanya tertuju pada peluit yang kini terasa memiliki makna lain.

Jojo menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya ke udara malam. Tawa yang biasanya pecah di ruang OSIS kini berganti dengan senyum tipis yang sarat akan beban.

“Udah lama, Ka. Gue kerja apa pun sampe malem. Kalo nggak gini, gimana bisa utang bokap gue lunas? Belum lagi buat bayar uang kas Maura yang galaknya minta ampun itu,” canda Jojo, meski matanya tidak ikut tertawa.

Lihat selengkapnya