LDR: Love, Duty, Regret

Intan Purnama
Chapter #4

Noises Backstage

Suara Genta membelah kebisingan pagi melalui pengeras suara sekolah. Dengan nada bicara yang kaku dan penuh penekanan, ia menginstruksikan seluruh ketua sekbid untuk berkumpul di ruang OSIS tepat setelah bel pulang berbunyi. Agenda: Finalisasi persiapan Hari Kartini.

Arka baru saja memarkirkan motornya saat ia melihat Bunga berdiri di dekat gerbang. Ia sempat ragu, tangannya nyaris terangkat untuk menyapa, ingin menanyakan apakah tidurnya nyenyak setelah makan malam dadakan semalam. Namun, gerakan Arka membeku.

Bunga tidak sedang menunggunya.

Gadis itu langsung berlari kecil, wajahnya cerah seolah mendung semalam tak pernah ada. Tujuannya adalah seorang laki-laki yang baru saja turun dari angkot dengan wajah kusam akibat kurang tidur. Zidan.

“Zid! Ini buat kamu,” ucap Bunga lembut, menyodorkan sebotol jus sayur dan buah yang selalu ia siapkan. “Kemarin pasti capek banget, ya? Diminum, ya.”

Zidan menerimanya dengan senyum tipis, meski matanya tampak menghindari tatapan Bunga. “Makasih, Bunga. Maaf soal semalam...”

“Ssst, udah nggak apa-apa. Semangat latihannya!” potong Bunga dengan tulus.

Arka menghela napas panjang, memutar kunci motornya dengan gerakan kasar. Ia merasa bodoh. Semalam ia kira kecewa Bunga akan menyisakan ruang untuknya, atau setidaknya membuat gadis itu sedikit mengabaikan Zidan. Ternyata tidak. Di hati Bunga, Zidan adalah pemegang takhta yang tak tergoyahkan, tak peduli seberapa sering ia ditinggalkan. Itu adalah tamparan keras bagi Arka; ia tetaplah bayangan, dan bayangan takkan pernah bisa menggantikan cahaya.

Sementara itu, di sisi lain kota, SMA Merdeka sedang gempar. Mobil sport mewah terparkir di area depan, menandakan sang “Pangeran Layar Lebar”, Dion Alvaro, memutuskan untuk masuk sekolah hari ini. Guru-guru hanya bisa geleng-geleng kepala; bagi mereka, Dion adalah pengecualian dari segala aturan karena prestasinya yang membawa nama baik sekolah—dan donasi dari agensinya.

Dion duduk di bangku paling belakang, kakinya diangkat ke atas meja sambil memainkan ponsel. Sebuah panggilan masuk dari Rossa membuat senyumnya merekah.

“Dion, ada missing shot di bagian detail aksesori. Sponsor minta kita ambil gambar ulang sekarang juga,” suara Rossa terdengar sibuk di seberang telepon.

“Sekarang? Ke SMAN 1 Nusa Bangsa?” tanya Dion dengan binar mata yang berbahaya.

“Iya, tapi Bunga pasti marah kalau kamu ganggu dia dua hari berturut-turut. Aku sarankan kita tunda sampai sore—”

“Jemput gue sekarang, Rossa. Gue nggak suka nunggu,” potong Dion mutlak. Ia tidak peduli pada jam pelajaran sejarah yang baru dimulai. Baginya, melihat wajah kesal Bunga adalah hiburan yang jauh lebih menarik daripada menghafal tahun peperangan.

Satu jam kemudian, kegilaan itu terulang. Porsche putih Dion membelah gerbang SMAN 1 Nusa Bangsa tepat saat jam istirahat kedua. Tanpa menunggu protokol, Dion turun dan berjalan santai, kacamata hitamnya terselip di kerah kaos yang ia kenakan di balik jaket denim.

Tujuannya satu: Kantin.

Kedatangannya seperti ledakan granat. Siswi-siswi yang sedang menikmati bakso langsung berdiri histeris. Keributan itu menjalar sampai ke stan milik Bi Dahlia, sang primadona kantin yang juga penggemar berat drama Korea.

“Aduh, gusti! Ini beneran Dion Alvaro yang di film itu?” pekik Bi Dahlia, tangannya yang masih memegang sodet gemetar. “Gantengnya beneran kayak Song Kang! Ini mah persis adegan di drama My Demon, pas si setannya turun ke bumi mau jemput istrinya!”

Dion hanya melempar senyum miring ke arah Bi Dahlia, membuat wanita paruh baya itu hampir pingsan di tempat. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kantin, mencari sosok mawar yang ingin ia ganggu.

Namun, di pojok kantin, ada Zidan yang sedang duduk bersama anggota Paskibraka lain, dan Arka yang sedang memesan kopi hitam. Keduanya menatap kedatangan Dion dengan ekspresi yang sama: muak.

Dion berjalan mendekati meja tempat Bunga duduk bersama Tiara dan Sisca. Tanpa permisi, ia menggeser kursi dan duduk tepat di samping Bunga yang sedang menyuap siomay.

“Hai, mawar. Kangen nggak sama gue?” tanya Dion santai, membuat seisi kantin mendadak senyap menunggu reaksi Bunga.

Bunga meletakkan garpunya dengan dentang yang cukup keras. Matanya menatap Dion dengan kemarahan yang berkilat. “Dion, lo beneran gila ya?!”

Suasana kantin SMAN 1 Nusa Bangsa yang biasanya hanya dihiasi denting sendok dan tawa siswa, kini berubah total menjadi set film dadakan yang penuh tekanan.

Rossa masuk dengan napas tersenggal, wajahnya menunjukkan kelelahan menghadapi kelakuan artisnya. Ia melihat Bunga yang sudah berdiri dengan wajah memerah, siap meledak. “Dion, ini sekolah! Pergi sekarang atau gue laporin ke kepsek!” ancam Bunga dengan suara tertahan.

Dion justru tertawa renyah, seolah kemarahan Bunga adalah musik yang merdu di telinganya. “Santai, Bunga. Gue di sini kerja, bukan main. Rossa, kasih tahu dia,” ucap Dion sambil melambaikan tangan dengan santai ke arah manajernya.

Rossa, yang tidak ingin kehilangan waktu dan momentum, mengambil keputusan cepat yang membuat Bunga makin tersudut. “Bunga, maaf, tapi Dion benar. Ada permintaan mendadak dari klien. Dan setelah saya lihat, kerumunan siswa di sini justru jadi latar yang sempurna. Kita akan ambil foto di sini, sekarang juga. Action!

Lihat selengkapnya