LDR: Love, Duty, Regret

Intan Purnama
Chapter #5

Perdebatan di bawah Panji Kartini

Puncak acara Hari Kartini tahun ini bukanlah peragaan busana, melainkan Lomba Debat Intelektual bertema "Emanisipasi dan Tantangan Gen-Z". Final mempertemukan dua raksasa sekolah: Zidan dari kelas IPA dan Arka dari kelas IPS.

Zidan berdiri di podium dengan wajah yang lebih tirus dari minggu lalu. Lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa berbohong—ia baru saja menyelesaikan latihan fisik subuh tadi sebelum berganti pakaian batik motif parang. Baginya, debat ini bukan sekadar lomba, tapi pembuktian bahwa ia belum "habis" meskipun Arka telah mengambil alih banyak peran di OSIS.

Di sisi lain, Arka berdiri tenang dengan batik mega mendung biru. Ia tidak terlihat lelah, justru tampak sangat tajam dan siap.

“Emansipasi bukan berarti perempuan harus meninggalkan kodrat, tapi tentang memberikan ruang yang setara untuk memilih masa depan tanpa batasan stigma!” seru Zidan dengan suara lantang, matanya berkilat menatap juri.

Arka menyela dengan nada dingin namun menusuk. “Setuju, tapi ruang setara itu tidak akan tercipta jika sistem pendukungnya—termasuk para lelaki di sekitarnya—masih terjebak dalam ego dan ambisi pribadi yang abai pada proses kolaborasi.”

Kalimat Arka terasa seperti sindiran langsung yang menghujam jantung Zidan. Penonton bersorak, suasana aula menjadi riuh.

Di deretan kursi penonton paling depan, Bunga duduk terpaku. Ia menatap kedua laki-laki itu bergantian. Ia bangga melihat Zidan yang masih mau berjuang di tengah kelelahannya, namun ia juga tidak bisa menampik bahwa argumen Arka jauh lebih relevan dengan apa yang ia rasakan belakangan ini.

Di sudut aula, dekat meja konsumsi, Bi Dahlia sedang sibuk mengipas-ngipas wajahnya dengan brosur acara. Ia menyenggol lengan Maura yang sedang bertugas.

“Aduh, Ra! Lihat itu di depan! Ini mah beneran kayak drama Start-Up!” bisik Bi Dahlia heboh. “Itu si Zidan kayak Nam Do-san, pejuang keras yang nggak mau kalah tapi sebenernya lagi gegana—gelisah, galau, merana. Terus si Arka... ya ampun, itu mah fiks Han Ji-pyeong! Pinter, dingin, tapi omongannya nyelekit langsung ke ulu hati. Tinggal nunggu siapa yang bakal dapet hati Si Dal-mi... eh, maksud Bibi si Bunga!”

Maura hanya bisa geleng-geleng kepala. “Bi, ini lomba debat, bukan syuting drama.”

“Halah! Kamu nggak lihat itu tatap-tatapannya? Itu bukan debat materi lagi, Ra. Itu debat harga diri!” seru Bi Dahlia lagi sambil memberikan aba-aba Saranghaeyo ke arah panggung saat Zidan memberikan argumen penutup.

Perdebatan makin sengit saat memasuki sesi tanya jawab. Zidan mulai terlihat goyah, napasnya sedikit pendek karena kelelahan fisiknya mulai menagih janji. Arka menyadari itu. Ada satu momen di mana Arka bisa saja menjatuhkan argumen Zidan sepenuhnya, namun ia memilih untuk berhenti sejenak, memberikan waktu bagi lawannya untuk mengatur napas.

Bunga menyadari gestur kecil Arka itu. Arka tidak sedang ingin menghancurkan Zidan; ia hanya ingin menunjukkan kebenaran.

Saat bel tanda berakhirnya debat berbunyi, Zidan hampir merosot jika tidak berpegangan pada pinggiran podium. Ia memenangi simpati penonton dengan semangatnya, tapi semua orang tahu secara logika, Arka-lah pemenangnya.

Zidan menoleh ke arah Bunga, mencari dukungan di mata gadis itu. Namun, di saat yang sama, ia melihat Arka juga menatap ke arah yang sama. Di tengah aula yang penuh sesak itu, perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan Hari Kartini hanyalah permulaan dari babak baru yang lebih emosional bagi mereka bertiga.

###

Aula yang tadinya penuh sorak-sorai kini berubah menjadi ruang sunyi yang menyisakan tumpukan kursi dan sisa-sisa dekorasi kain batik yang mulai dilepas. Bagi para ketua sekbid, selesainya acara bukanlah akhir, melainkan awal dari tumpukan berkas laporan pertanggungjawaban (LPJ).

Genta, dengan ketelitiannya yang di atas rata-rata, sudah merapikan laporan administrasinya dalam waktu singkat. Namun, sekbid lain masih keteteran. Zidan, yang merasa memikul beban moral sebagai ketua, memutuskan untuk menghadap Pak Broto. Ia ingin menegosiasikan sedikit napas tambahan bagi teman-temannya agar laporan tersebut tidak menjadi beban di tengah jadwal sekolah yang padat.

Di dalam ruangannya, Pak Broto duduk di balik meja besar, memandangi draf jadwal seleksi yang sudah melingkari kalender di dindingnya. Saat Zidan masuk dan mengutarakan maksudnya untuk meminta perpanjangan waktu, Pak Broto bahkan tidak menoleh ke arah tumpukan kertas yang dibawa Zidan.

“Zidan,” suara Pak Broto berat, “Saya tidak peduli dengan kendala administratif sekbid-sekbid kamu.”

Zidan tertegun, kalimatnya tertahan di tenggorokan.

“Kamu harus sadar, ini sudah masuk bulan Mei,” lanjut Pak Broto sambil mengetukkan jarinya ke meja. “Ini waktunya kamu menghadapi seleksi tingkat provinsi. Tes yang akan kamu hadapi itu beragam dan jauh lebih sulit dari sekadar baris-berbaris di lapangan sekolah. Fisikmu memang harus baja, tapi logika dan wawasanmu juga harus tajam. Jangan biarkan energimu habis hanya untuk mengurus laporan yang bisa dikerjakan wakilmu.”

Zidan meremas map di tangannya. Kata-kata "wakilmu" kembali menyengat egonya.

“Ingat, tes di provinsi nanti bukan cuma soal kekuatan otot,” Pak Broto berdiri, menatap Zidan dengan tajam. “Ada tes psikologi, tes ideologi, dan wawancara. Kalau logika kamu tumpul karena kelelahan mengurus OSIS, semua latihan fisikmu selama ini akan sia-sia. Fokus, Zidan! Paskibraka adalah satu-satunya jalan keluar untuk prestasimu yang lebih tinggi.”

Zidan keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang makin berkecamuk. Di lorong, ia berpapasan dengan Arka yang baru saja hendak menuju ruang OSIS. Arka melihat wajah Zidan yang kaku dan map yang masih tersegel rapat—tanda bahwa permohonannya ditolak.

“Nggak di-ACC?” tanya Arka datar, namun tidak ada nada mengejek di sana.

“Pak Broto mau semuanya beres tepat waktu,” jawab Zidan singkat, ia mencoba berjalan melewati Arka.

“Kalau lo mau fokus ke tes provinsi, kasih aja drafnya ke gue. Biar gue yang bantu koordinir sekbid lain buat nyelesain laporan mereka,” tawar Arka.

Lihat selengkapnya