Perpustakaan sekolah yang biasanya sunyi kini terasa makin menyesakkan bagi Zidan. Di atas meja kayu panjang, ia menggelar “amunisi” barunya: setumpuk buku tebal tentang wawasan kebangsaan dan kumpulan soal psikotes yang dibelikan Bunga kemarin.
Zidan memijat pangkal hidungnya. Matanya menyisir daftar tes yang harus ia lalui di tingkat provinsi. Ini bukan lagi sekadar adu otot. Ia harus menghadapi Tes PIP (Pembinaan Ideologi Pancasila) yang berbasis komputer, TIU (Tes Intelegensia Umum) yang menuntut logika tajam, hingga Wawancara Kepribadian yang bisa menguliti mentalnya habis-habisan. Belum lagi pemeriksaan kesehatan mendetail yang menuntutnya menjaga kondisi tubuh tetap prima.
“Zidan?”
Zidan tersentak. Ia mendongak dan mendapati Bu Saras, wali kelasnya, berdiri di samping meja dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung. Bu Saras tidak membawa senyum lebar seperti Pak Broto; tatapannya justru penuh kekhawatiran yang realistis.
“Zidan, kamu sadar? Mei adalah bulan terakhir kamu untuk menyiapkan diri menghadapi ulangan akhir semester,” ucap Bu Saras sambil menunjuk salah satu buku teks pelajaran yang terhimpit di bawah buku Paskibraka. “Ibu sudah melihat rekapan nilai harian kamu. Nilai-nilai kamu menurun akhir-akhir ini, terutama di mata pelajaran produktif.”
Zidan menghela napas berat. Ia merasa seperti ditarik dari dua arah yang berbeda. Pak Broto mendorongnya menjadi “pahlawan sekolah” lewat Paskibraka, sementara Bu Saras mengingatkannya bahwa ia tetaplah seorang siswa yang harus lulus ujian.
“Iya Bu, saya tahu,” jawab Zidan, suaranya terdengar lelah namun tetap keras kepala. “Tapi saya tidak bisa meninggalkan seleksi ini begitu saja. Saya sudah melangkah sejauh ini. Mohon Ibu maklumi saya ya, saya benar-benar harus fokus mempersiapkan seleksi Paskibraka ini.”
Bu Saras terdiam sejenak. Sebagai guru, ia melihat potensi akademis Zidan yang perlahan meredup demi sebuah mimpi yang belum tentu terwujud di tingkat nasional. Namun, ia juga melihat api ambisi di mata siswanya itu.
“Baiklah kalau itu keputusanmu, Zidan,” Bu Saras menganggukkan kepala perlahan, meski garis kekhawatiran di wajahnya tidak hilang. “Ibu hanya tidak ingin kamu mengejar matahari tapi lupa kakimu masih berpijak di bumi. Semoga kamu lolos ya.”
Begitu Bu Saras pergi, Zidan kembali menatap buku-bukunya. Namun, fokusnya pecah. Kalimat “nilai kamu menurun” terus berputar di kepalanya. Ia teringat Arka yang semalam begadang membereskan LPJ, sementara ia sendiri sekarang harus berjuang agar tidak “tenggelam” di kelas.
Zidan mengambil ponselnya, hendak mengirim pesan pada Bunga, namun ia urungkan. Ia tidak ingin Bunga tahu bahwa dunianya sedang retak di banyak sisi. Ia menarik napas panjang, membuka buku Tes Intelegensia Umum, dan mulai memaksa logikanya bekerja, tepat saat bel masuk berbunyi dan perpustakaan mulai kembali sepi.
###
Seolah memiliki ikatan batin yang kuat, ponsel di atas meja kayu itu bergetar tepat saat konsentrasi Zidan mulai buyar. Sebuah pesan dari Bunga masuk, menanyakan keberadaannya. Begitu Zidan membalas bahwa ia sedang “terjebak” di antara tumpukan buku perpustakaan, tak butuh waktu lama bagi sosok mawar itu untuk muncul.
Bunga melangkah hati-hati di antara rak-rak buku yang tinggi, berusaha tidak menimbulkan suara di lantai kayu perpustakaan yang sunyi. Di tangannya, ia membawa sandwich yang dibungkus rapi dan dua kaleng kopi dingin yang masih berembun. Melihat Zidan yang tampak begitu serius—bahkan mungkin terlalu serius hingga keningnya berkerut dalam—Bunga mendekat dengan gerakan mengendap-endap.
“Hei!” Bunga mencolek bahu Zidan dengan ujung jarinya.
Zidan tersentak kecil, mendongak dan mendapati wajah cerah Bunga tepat di sampingnya. “Kenapa ke sini?” tanya Zidan pelan, suaranya serak karena seharian tidak banyak bicara.
“Kamu harusnya makan siang, bukan cuma makan teori,” balas Bunga dengan senyum manis yang selalu berhasil meluluhkan ketegangan Zidan. “Ini buat kamu,” bisiknya lembut sambil menyodorkan roti dan kopi kaleng tersebut.
“Thanks,” ucap Zidan, menerima pemberian itu dengan tatapan haru. Kehadiran Bunga di sini terasa seperti oase di tengah gurun soal-soal logika yang membosankan.
“Tenang, aku nggak akan ganggu fokus kamu, kok,” tutur Bunga, lalu ia menarik kursi dan duduk di samping Zidan sejenak, hanya untuk memastikan laki-laki itu benar-benar membuka bungkus rotinya.
Namun, sebelum Bunga benar-benar beranjak pergi, ia memberikan isyarat agar Zidan mendekat. “Sini deh, aku mau bisikin sesuatu,” ucapnya misterius.
Zidan, yang mengira Bunga akan membisikkan kabar tentang sekolah atau OSIS, memiringkan tubuhnya dan mendekatkan telinganya. Dengan gerakan gesit, sebelah tangan Bunga mengangkat buku tebal di atas meja untuk menutupi wajah mereka dari jangkauan pandangan penjaga perpustakaan di ujung ruangan.
Bibir Bunga mendekat ke telinga Zidan, lalu berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar oleh detak jantung mereka sendiri: “Semangat, sayang!”
Belum sempat Zidan merespons, sebuah kecupan mendarat secepat kilat di pipinya. Sebelum Zidan sempat tersadar dari keterkejutannya, Bunga sudah melesat keluar dari perpustakaan dengan langkah-langkah kecil, meninggalkan aroma parfum bunganya yang lembut dan wajah yang memerah padam.
Zidan tertegun di kursinya, jemarinya menyentuh pipinya yang kini terasa hangat. Ia tidak menyangka di tengah kondisinya yang tampak kacau—dengan kulit yang mulai menghitam legam terbakar matahari lapangan dan kantung mata yang mulai menebal—masih ada seseorang yang mau memberikan kasih sayang seberani itu.
Semangat Zidan yang tadi sempat meredup karena teguran Bu Saras, kini seolah meledak kembali. Kecupan singkat itu menjadi “bensin” baru bagi logikanya. Ia tersenyum tipis, membuka kopi kalengnya, dan kembali menatap tumpukan soal di depannya dengan keyakinan baru. Baginya, lolos sampai tingkat Nasional bukan lagi sekadar ambisi pribadi, tapi sebuah janji yang harus ia tepati untuk gadis yang baru saja berlari keluar dari ruangan itu.
###
LPJ Hari Kartini baru saja berjilid rapi di meja pembina, namun napas lega para pengurus OSIS hanya bertahan sejenak. Kalender di dinding ruang OSIS sudah dilingkari warna merah: 2 Mei, Hari Pendidikan Nasional.