Udara pagi di Yogyakarta terasa menusuk tulang, jauh lebih dingin dari biasanya. Sebelum kumandang azan Subuh memecah kesunyian, Bunga sudah mengendap-endap di garasi rumahnya. Dengan nekat, ia menyambar kunci motor trail milik kakaknya—motor yang sebenarnya terlalu besar untuk ukuran tubuhnya—dan melesat membelah jalanan yang masih sepi.
Pikirannya hanya satu: ia tidak ingin melepas Zidan pergi ke Semarang hanya lewat pesan singkat.
Sesampainya di depan pagar rumah Zidan, Bunga mematikan mesin motornya yang menderu keras. Napasnya terlihat menguap di udara dingin saat ia merogoh ponsel untuk menghubungi Zidan. Tak butuh waktu lama, pintu rumah terbuka. Zidan muncul dengan rambut yang masih basah sehabis mandi, hanya mengenakan kaus oblong dan celana training.
Langkah Zidan terhenti di teras. Matanya membelalak tak percaya melihat sosok yang berdiri di balik pagar. Ia menggeleng-gelengkan kepala, namun sebuah senyum lebar tak mampu ia sembunyikan saat melihat Bunga melepas helm besarnya.
“Kamu... nekat ke sini jam segini? Mana masih pakai baju tidur dibalut jaket gitu lagi. Ngapain, Bunga?” Zidan terkekeh sambil melangkah menghampiri, suaranya rendah agar tidak membangunkan tetangga.
Bunga tersenyum simpul, matanya berbinar meski tampak masih sedikit mengantuk. “Aku mau anterin cowokku berangkat berjuang ke Semarang,” jawabnya penuh semangat, seolah perjalanan antarkota itu adalah hal kecil baginya.
Zidan terpaku sejenak. Kelelahan akibat latihan fisik berminggu-minggu seolah menguap melihat keberanian gadis di depannya ini. Ia meraih pundak Bunga, menariknya sedikit lebih dekat.
“Oke, oke. Aku nggak punya alasan buat nolak kamu kalau kamu sudah berdiri di sini,” ucap Zidan pasrah namun bahagia. “Yuk, masuk dulu. Di luar dingin banget, nanti kamu malah masuk angin sebelum aku berangkat.”
Zidan menuntun Bunga masuk ke dalam rumah. Tanpa ragu, Bunga langsung bergelayut manja di lengan Zidan, menyandarkan kepalanya di bahu cowok itu yang kini terasa lebih kokoh dari sebelumnya. Di ruang tamu, tas besar berisi perlengkapan Paskibraka sudah rapi di pojok ruangan.
Zidan menatap Bunga yang masih nempel di lengannya. “Kamu tahu kan aku ke Semarang buat tes berat? Bukannya liburan.”
“Aku tahu,” bisik Bunga, mendongak menatap Zidan. “Makanya aku di sini. Biar semangatnya full sampai nanti kamu diumumkan lolos ke Nasional.”
Zidan tersenyum, mengacak rambut Bunga dengan tangan satunya. Di balik kabut pagi Yogyakarta, keberangkatan Zidan menuju Semarang kali ini terasa jauh lebih ringan. Ia merasa memiliki alasan yang kuat untuk bertahan di setiap tahap tes yang akan datang, karena ia tahu, ada seseorang yang nekat menembus dinginnya Subuh hanya untuk memastikan ia pergi dengan sebuah senyuman.
###
Perjalanan menuju Semarang pagi itu terasa seperti pelarian yang manis bagi Bunga. Di balik punggung Zidan, ia merasa dunia luar tidak lagi penting. Semalam, ia sudah menyiapkan pakaian ganti dan perlengkapan “tempur” untuk menemani Zidan di tengah padatnya jadwal seleksi. Ketulusan itu terpancar jelas, bahkan kedua orang tua Zidan yang melepas mereka di teras hanya bisa saling lirik dan tersenyum tipis, merestui kasih remaja yang sedang membara itu.
“Pegangan yang kencang, Bunga. Kita harus sampai sebelum matahari terlalu terik,” ujar Zidan dari balik helmnya.
Bunga tidak menjawab dengan kata-kata, ia justru makin mengeratkan pelukannya di pinggang Zidan, menyandarkan pipinya di punggung kokoh yang kini sudah dilapisi jaket tebal. Zidan menarik gas, membelah jalanan Yogyakarta yang masih lengang. Angin pagi yang dingin menerpa, namun kehangatan di antara mereka seolah menjadi pelindung alami. Beruntung ini adalah akhir pekan, jadi Bunga tidak perlu merasa bersalah karena meninggalkan ruang kelas demi momen krusial dalam hidup Zidan ini.
Namun, di tengah deru mesin motor dan romansa jalanan itu, ada satu hal besar yang luput dari ingatan Bunga. Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Hardiknas.
Di dalam tas kecilnya yang tersampit di punggung, ponsel Bunga terus bergetar tanpa henti.
Di Sudut Kota yang Berbeda...
Arka duduk di salah satu meja kafe dengan laptop yang terbuka dan tiga gelas kopi kosong di depannya. Wajahnya terlihat sangat tegang. Genta baru saja meneleponnya sepuluh kali, menanyakan progres proposal dan laporan yang dijanjikan Bunga pagi ini karena Pak Baskoro ingin melihat draf akhirnya sebelum Senin.
Arka kembali menekan tombol panggil ke nomor Bunga. Nada sambung, tapi tidak diangkat.
“Ayo dong, Bunga... lo di mana sih?” gumam Arka frustrasi.
Ia mencoba mengirim pesan singkat:
Bunga, Genta udah nanyain laporan Hardiknas. Katanya lo mau kirim filenya subuh ini? Gue udah coba hubungin tapi nggak aktif. Lo nggak apa-apa kan?
Arka tidak tahu bahwa saat ini orang yang dikawatirkannya sedang berada puluhan kilometer jauhnya, menembus perbatasan kota menuju Semarang. Bunga sengaja mematikan notifikasi karena tidak ingin ada yang mengganggu “waktu berkualitas”-nya dengan Zidan. Baginya, Hardiknas bisa menunggu, tapi keberangkatan Zidan adalah prioritas utama.
Arka menghela napas panjang, menutup laptopnya dengan kasar. Ia merasakan firasat yang tidak enak. Ada rasa sesak yang kembali muncul saat ia menyadari bahwa setiap kali ia mencoba membantu Bunga tegak, gadis itu selalu punya cara untuk kembali “terjatuh” ke arah Zidan.
“Sial,” umpat Arka pelan. Ia tahu, pada akhirnya, dialah yang akan kembali duduk di depan layar ini untuk menyelesaikan apa yang ditinggalkan Bunga.