LDR: Love, Duty, Regret

Intan Purnama
Chapter #8

Unspoken Emphaty

Suasana di dalam ruang OSIS mendadak mencekam, jauh lebih dingin daripada biasanya. Tiara dan Sisca yang baru datang hanya bisa saling lirik, merasakan ketegangan yang menggantung di udara. Genta, yang biasanya meledak-ledak, kini justru terlihat sangat tenang—ketenangan yang justru terasa mengancam.

“Sorry mendadak panggil kalian ke sini,” buka Genta setelah semua anggota duduk. “Gue udah kabarin Pak Baskoro, beliau akan bergabung sebentar lagi.”

“Sebenernya ada apaan sih ini?” tanya Jojo tidak sabar sambil berdiri, namun Genta hanya membalasnya dengan senyum miring yang penuh arti.

Genta menoleh ke arah Arka. “Arka, lo masih ingat ucapan lo waktu itu?”

Alis Arka bertaut, firasat buruk mulai merayap di benaknya. “Yang mana?”

“Lo bilang, gue bisa lakukan apa pun buat menghukum siapa pun yang lalai sebagai konsekuensi. Selama itu bisa bikin organisasi ini berjalan benar lagi,” tantang Genta.

Arka menarik napas panjang. Ia melirik Bunga yang duduk di sampingnya. Bahu gadis itu merosot, kepalanya tertunduk sangat dalam hingga rambutnya menutupi sebagian wajahnya. Arka tahu ia mengucapkan itu untuk meredam amarah Genta, tapi ia tidak menyangka Genta akan memegang kata-katanya sedemikian kuat di hadapan Pembina OSIS.

“Iya, gue ingat,” jawab Arka tenang namun tegas. “Tapi selama lo tahu batasan, Ta.”

“Itu sebabnya gue panggil Pak Baskoro ke sini,” balas Genta dingin. Ia menoleh pada sang pembina, memberikan kode agar beliau yang mengambil alih pembicaraan.

Pak Baskoro tidak membuang waktu. Dengan suara seraknya yang khas, beliau langsung mengambil alih pembicaraan. “Bapak tidak akan basa-basi. Kalian harus pulang tepat waktu agar bisa belajar untuk ulangan besok. Genta sudah menyampaikan pemikirannya kepada bapak, dan bapak rasa, lebih baik bapak yang menyampaikan ini agar tidak ada salah persepsi.”

Ruangan menjadi sangat sunyi. Pak Baskoro berdeham sebelum melanjutkan.

“Setelah evaluasi kegiatan Hari Kartini dan Hardiknas, bapak melihat ada kelalaian serius terhadap tanggung jawab organisasi. Tanpa Genta melapor pun, bapak sudah tahu ada beberapa orang yang lalai.” Pak Baskoro menatap satu per satu anggota di ruangan itu. “Karena kejadian ini, Genta meminta bapak untuk menurunkan Zidan dari jabatannya sebagai Ketua OSIS.”

Seketika, ruangan pecah oleh suara bisik-bisik yang riuh. Sebagian anggota menganga tidak percaya. Bunga mendongak dengan mata berkaca-kaca, jantungnya serasa berhenti berdetak.

“Namun, bapak tidak akan mengambil keputusan sepihak,” tegas Pak Baskoro menenangkan keributan. “Bapak ingin melakukan voting sekarang juga. Siapa yang setuju dengan permintaan Genta untuk memberhentikan Zidan, dan siapa yang tidak.”

Voting dilakukan dalam ketegangan yang luar biasa. Satu per satu anggota memberikan suaranya. Hasilnya mengejutkan namun realistis: mayoritas anggota setuju dengan pendapat Genta. Mereka semua menyadari bahwa Zidan telah terlalu jauh meninggalkan tanggung jawabnya demi ambisi pribadi.

Pak Baskoro menghela napas, melihat hasil voting di tangannya. “Baiklah. Sebelum keputusan ini resmi disepakati, bapak harus melapor dulu kepada Kepala Sekolah. Namun, bapak ingin kalian bersiap.”

Pandangan Pak Baskoro beralih tajam ke arah Arka.

“Arka, jika keputusan ini disetujui Kepala Sekolah, kamu yang harus menduduki jabatan Ketua OSIS untuk sisa masa jabatan ini,” tegas Pak Baskoro.

Arka terpaku. Ia tidak merasa menang. Ia justru merasa beban di pundaknya menjadi berkali-kali lipat lebih berat. Di sisi lain, ia melihat Bunga yang sudah tidak mampu membendung air matanya, menyadari bahwa kemenangan Zidan di Semarang mungkin akan dibayar mahal dengan kehancuran kariernya di sekolah.

###

Setelah Pak Baskoro meninggalkan ruangan, keheningan yang menyesakkan itu pecah. Anggota OSIS lainnya berhamburan keluar dengan pikiran masing-masing; ada yang buru-buru ke toilet untuk mencerna situasi, ada yang langsung menuju parkiran, dan ada yang berjalan lesu menuju gerbang untuk mencari angkot.

Namun, Jojo punya rencana lain. Dengan mata yang berkilat penasaran, ia berbisik pada orang-orang di dekatnya, “Siapa yang mau ikut gue buntutin Pak Baskoro?”

Tanpa menunggu jawaban pasti, Jojo sudah bergerak mengendap-endap menuju lorong ruang administrasi. Tiara dan Sisca, yang tak kalah penasaran, mengekor di belakangnya dengan langkah berjinjit. Sesampainya di depan ruang Kepala Sekolah, ketiganya segera berjongkok di dekat pintu, menempelkan telinga mereka untuk menangkap setiap kata yang terucap dari dalam.

“Karena Zidan lalai, sepertinya dia harus melepas jabatannya sebagai Ketua OSIS,” suara Pak Baskoro terdengar berat namun mantap.

“Lalai?” sahut Pak Broto dengan nada tinggi yang khas. “Dia hanya melakukan tugasnya sebagai anggota Paskibraka! Itu demi kebanggaan sekolah kita, Baskoro!”

“Ya, saya tahu, Pak. Tapi itu tidak berarti Zidan harus lalai terhadap tanggung jawabnya di OSIS,” jelas Pak Baskoro mencoba tetap tenang.

“Jadi, ini keputusanmu?” tanya Pak Broto, nadanya mulai melunak namun terdengar menuntut.

Pak Baskoro menggeleng di dalam sana. “Bukan. Ini keputusan semua anggota melalui voting.”

Keheningan sejenak menyelimuti ruangan itu sebelum akhirnya Pak Broto menjawab, “Baiklah, copot saja jabatannya.”

Jojo, Tiara, dan Sisca yang berada di luar pintu terbelalak. Mereka tidak menyangka Pak Broto akan menyerah semudah itu.

“Dengan begitu, Zidan akan lebih fokus latihan Paskibraka. Dia tidak akan terganggu oleh urusan-urusan kecil organisasi lagi,” lanjut Pak Broto.

Pak Baskoro hanya bisa menghela napas panjang mendengar cara berpikir atasannya itu. Sementara di luar, Jojo tidak bisa menahan diri. “Kepsek gila!” gerutunya ketus.

Sisca dengan cepat membekap mulut Jojo, wajahnya pucat karena takut suara Jojo terdengar sampai ke dalam.

“Baiklah Pak, terima kasih atas persetujuannya. Saya pamit,” tutur Pak Baskoro seraya melangkah menuju pintu.

“Baskoro,” panggil Pak Broto tepat sebelum gagang pintu diputar. Pak Baskoro menghentikan langkahnya. “Kamu harus tahu satu hal. Tanpa jabatannya sebagai Ketua OSIS pun, Zidan akan tetap lolos Paskibraka. Dan itu adalah satu-satunya pilihan baginya demi beasiswa.”

Kalimat terakhir itu menggantung di udara, memberikan beban baru bagi siapa pun yang mendengarnya. Pak Broto bukan hanya bicara soal organisasi, tapi soal masa depan seorang siswa yang sedang mempertaruhkan segalanya di Semarang.

Lihat selengkapnya