Pagi itu, sinar matahari yang menerobos celah gorden terasa lebih mengancam bagi Bunga. Ia terbangun dengan jantung berdebar sebelum alarm sempat memekakkan telinga. Pikirannya tertuju pada satu benda di atas meja belajarnya: amplop putih berisi surat pengunduran diri.
Bunga bergerak secepat kilat. Ia tidak peduli meski penampilannya sedikit berantakan—bahkan beberapa roll rambut masih bertengger setia di poninya saat ia melompat ke dalam mobil. Ia harus sampai di sekolah sebelum siapa pun menginjakkan kaki di ruang OSIS. Ia tidak sanggup jika harus menyerahkannya langsung pada Genta; debat dengan Genta adalah mimpi buruk yang ingin ia hindari seumur hidup.
Misi berhasil. Ruang OSIS masih gelap dan dingin saat Bunga menyelinap masuk, meletakkan surat itu tepat di tengah meja rapat, lalu kabur menuju rooftop sekolah. Di sana, di bawah langit pagi yang tenang, ia baru sempat membuka kotak bekalnya, menikmati sarapan yang tertunda sambil menatap lapangan sekolah dengan perasaan campur aduk.
Ratusan kilometer dari Yogyakarta, keringat dingin membasahi telapak tangan Zidan. Hari ini adalah penentuan dari segala latihan fisik yang menguras tenaga dan air mata. Saat namanya dipanggil dan kalimat sakti itu terucap, dunia seolah berhenti berputar.
“ZIDAN, SELAMAT ANDA LOLOS KE TAHAP NASIONAL!”
Kegembiraan meluap di dada Zidan. Ia langsung merogoh ponsel, jemarinya lincah mengetik kabar bahagia itu untuk Bunga. Namun, tepat sebelum tombol send ditekan, sisi usilnya muncul. Ia menghapus kalimat itu dan menggantinya dengan nada lesu.
“Bunga maaf, aku gagal. Maaf udah ngecewain kamu...”
###
Arka adalah orang pertama yang masuk ke ruang OSIS. Matanya menangkap amplop putih di tengah meja. Begitu membacanya, bahu Arka merosot. Ada rasa sesak yang kembali muncul; ia tahu ini adalah bentuk solidaritas Bunga untuk Zidan, tapi ia tetap merasa kehilangan rekan kerja terbaiknya.
Belum sempat Arka keluar untuk mencari Bunga, pintu terbuka kasar. Genta muncul, matanya langsung tertuju pada kertas di tangan Arka. Tanpa permisi, Genta merebutnya.
“Gila! Apa-apaan ini?!” bentak Genta setelah membaca isinya. Ia tidak menunggu penjelasan Arka. Dengan langkah lebar penuh amarah, ia membawa surat itu langsung ke hadapan Pak Baskoro. Genta ingin segalanya tuntas; ia tidak mau organisasi ini terlihat seperti mainan yang bisa ditinggalkan kapan saja.
Tak lama kemudian, suara Genta kembali menggelegar melalui pengeras suara sekolah: “Diumumkan kepada seluruh anggota OSIS, sepulang sekolah wajib berkumpul di ruang rapat. Tidak ada pengecualian!”
Keluhan serempak terdengar dari berbagai penjuru kelas. Musim ulangan dan rapat mendadak adalah kombinasi paling menyebalkan tahun ini.
###
Di atas rooftop, ponsel Bunga bergetar. Senyumnya luntur seketika saat membaca pesan dari Zidan. Dadanya terasa sesak, membayangkan betapa sedihnya Zidan di sana. Namun, Bunga tidak ingin menambah beban kekasihnya. Ia menghapus air mata yang hampir jatuh, menarik napas panjang, dan mengetik balasan paling ceria yang bisa ia buat.
“Gapapa sayang! Kamu udah berjuang, menurut aku, kamu yang paling terbaik! Paling hebat pokoknya! Cepet pulang yaa, aku tunggu di sini!”
Bunga tidak tahu bahwa di Semarang, Zidan sedang menahan tawa melihat betapa tulusnya sang kekasih, dan ia juga tidak tahu bahwa di ruang OSIS, Genta sedang bersiap untuk “mengadili” pengunduran dirinya.
Saat bel pulang berbunyi dan semua anggota berkumpul di ruang OSIS yang tegang, Genta melempar surat milik Bunga ke tengah meja.
“Lo pikir ini keren, Bung? Lo pikir dengan lo mundur, masalah beres? Lo baru aja bikin lubang baru di saat kita lagi berusaha nambal lubang yang ditinggalin Zidan!” Bentak Genta.
Bunga mencoba membela diri dengan suara bergetar: “Gue cuma mau adil, Ta. Zidan turun karena kesalahan gue, jadi gue juga nggak pantes ada di sini.”
Arka merasa terjepit di tengah. Ia ingin membela Bunga agar bebannya berkurang, tapi ia juga tahu bahwa tanpa Bunga, tugasnya sebagai Ketua OSIS yang baru akan menjadi neraka.
Pak Baskoro akhirnya mengetuk meja. “Keputusan organisasi tidak diambil berdasarkan perasaan bersalah pribadi. Bunga, simpan suratmu. Kamu akan tetap menjabat, tapi dengan pengawasan ketat dari saya dan Genta sampai masa jabatan ini berakhir. Itu hukumanmu.”
Suasana di ruang OSIS seketika menjadi beku setelah kalimat tajam Pak Baskoro menghantam pertahanan Bunga. Bunga yang tadinya ingin bersikeras mundur demi solidaritasnya pada Zidan, kini hanya bisa terdiam dengan bibir yang terkunci rapat.
“Tapi Pak...” Bunga mencoba membuka suara, namun Pak Baskoro langsung memotong dengan nada yang lebih berat dari biasanya.
“Ini risiko kamu menjabat di OSIS! Kalau tidak mau ambil risiko, seharusnya sejak awal kamu tidak masuk OSIS!”
Kalimat telak itu membuat Bunga tertunduk lesu. Ia menyadari bahwa di organisasi ini, perasaan pribadinya tidak lebih penting daripada roda organisasi yang harus tetap berputar. Genta yang berdiri di samping Pak Baskoro hanya bersedekap, menatap Bunga dengan tatapan yang seolah berkata, 'Dengerin tuh'.
Rapat pun dibubarkan dengan keputusan bahwa pengunduran diri Bunga ditolak mentah-mentah. Bunga melangkah keluar ruangan dengan bahu yang merosot. Pikirannya kini bercabang; di satu sisi ia harus menanggung beban tugas yang makin berat di bawah pengawasan Genta, di sisi lain hatinya hancur memikirkan Zidan.
Zidan pasti hancur banget di sana, pikir Bunga dalam hati. Ia membayangkan kekasihnya sedang duduk sendirian di stasiun atau bandara dengan wajah lesu karena gagal masuk Paskibraka Nasional.
Sambil berjalan menuju gerbang sekolah, Bunga segera merogoh ponselnya. Jemarinya dengan cepat mengetik pesan penuh perhatian.
Bunga: “Sayang, kamu balik jam berapa? Mau aku jemput ke stasiun?”
Di sebuah sudut hotel di Semarang, Zidan yang sedang bersantai bersama rekan-rekan Paskibraka lainnya melihat notifikasi itu muncul. Ia tersenyum geli, membayangkan wajah cemas Bunga yang sangat tulus menghiburnya. Niat usilnya makin menjadi-jadi.