LDR: Love, Duty, Regret

Intan Purnama
Chapter #10

Di balik Sosok yang Diam

Senin pagi di SMAN 1 Nusa Bangsa terasa jauh lebih berenergi dari biasanya. Kabar kelolosan Zidan ke Jakarta telah menyebar secepat kilat melalui grup WhatsApp kelas hingga bisik-bisik di kantin. Saat Zidan melangkah memasuki gerbang dengan seragam yang tampak lebih gagah dari biasanya, ia disambut bak pahlawan yang baru pulang dari medan perang.

Beberapa siswi adik kelas tampak berbisik-bisik genit, bahkan ada yang terang-terangan mendekat untuk sekadar mengucapkan selamat atau meminta foto. Zidan, dengan keramahan karismatiknya, hanya bisa tersenyum lebar menanggapi kerumunan itu.

Namun, pemandangan itu tak bertahan lama. Dari kejauhan, Bunga berjalan dengan langkah tegas, tatapannya tajam mengarah pada kerumunan “penggemar dadakan” kekasihnya. Begitu Bunga berdiri di samping Zidan, para gadis itu langsung berhamburan bubar, seolah tahu bahwa wilayah itu adalah zona terlarang.

“Seneng ya, baru juga balik udah banyak cewek yang godain?” cibir Bunga sambil melipat tangan di dada, bibirnya mengerucut sebal.

Zidan tertawa renyah, ia menyenggol bahu Bunga dengan akrab. “Ciyee... yang cemburu pagi-pagi. Makin cantik kalau lagi galak gitu,” godanya, yang hanya dibalas dengan dengusan Bunga meski rona merah di pipinya tak bisa disembunyikan.

###

Bel upacara berbunyi. Seluruh siswa berbaris rapi di bawah terik matahari pagi yang mulai menyengat. Pak Broto, sang Kepala Sekolah, berdiri di podium dengan wajah yang berseri-seri. Setelah menyampaikan amanat panjang lebar tentang kedisiplinan, beliau berdehem, mengubah nada suaranya menjadi penuh kebanggaan.

“Sebelum bapak tutup upacara pagi ini, ada satu kabar membanggakan. Salah satu putra terbaik sekolah kita, Zidan Alvarendra, telah resmi terpilih sebagai anggota Paskibraka Nasional yang akan bertugas di Istana Negara!”

Gemuruh tepuk tangan meledak di lapangan upacara. Sorak-sorai kekaguman terdengar dari segala penjuru. Pak Broto memberi isyarat agar Zidan maju ke depan. Dengan langkah tegap dan dagu terangkat, Zidan berjalan menuju podium, berdiri gagah di samping Kepala Sekolah di bawah kibaran bendera merah putih.

Di barisan pengurus OSIS, Arka berdiri mematung. Tangannya ikut bertepuk tangan, namun tatapannya tak beralih dari Bunga yang berdiri di barisan depan, tampak menatap Zidan dengan binar mata yang penuh kekaguman dan cinta. Senyum Arka mengembang tipis—sebuah senyum tulus namun sarat akan kepedihan.

“Pasti Bunga makin cinta sama elo, Dan,” bisik hati Arka pedih.

Ia menyadari bahwa panggung hari ini sepenuhnya milik Zidan. Sementara dirinya, sang pengganti yang tak terlihat, tetap berada dalam bayang-bayang, memegang tanggung jawab yang ditinggalkan Zidan sambil menyimpan perasaan yang mungkin tak akan pernah memiliki tempat untuk berlabuh.

###

Bel upacara berbunyi. Seluruh siswa berbaris rapi di bawah terik matahari pagi yang mulai menyengat. Pak Broto, sang Kepala Sekolah, berdiri di podium dengan wajah yang berseri-seri. Setelah menyampaikan amanat panjang lebar tentang kedisiplinan, beliau berdehem, mengubah nada suaranya menjadi penuh kebanggaan.

“Sebelum bapak tutup upacara pagi ini, ada satu kabar membanggakan. Salah satu putra terbaik sekolah kita, Zidan Pratama, telah resmi terpilih sebagai anggota Paskibraka Nasional yang akan bertugas di Istana Negara!”

Gemuruh tepuk tangan meledak di lapangan upacara. Sorak-sorai kekaguman terdengar dari segala penjuru. Pak Broto memberi isyarat agar Zidan maju ke depan. Dengan langkah tegap dan dagu terangkat, Zidan berjalan menuju podium, berdiri gagah di samping Kepala Sekolah di bawah kibaran bendera merah putih.

Di barisan pengurus OSIS, Arka berdiri mematung. Tangannya ikut bertepuk tangan, namun tatapannya tak beralih dari Bunga yang berdiri di barisan depan, tampak menatap Zidan dengan binar mata yang penuh kekaguman dan cinta. Senyum Arka mengembang tipis—sebuah senyum tulus namun sarat akan kepedihan.

“Pasti Bunga makin cinta sama elo, Dan,” bisik hati Arka pedih.

Ia menyadari bahwa panggung hari ini sepenuhnya milik Zidan. Sementara dirinya, sang pengganti yang tak terlihat, tetap berada dalam bayang-bayang, memegang tanggung jawab yang ditinggalkan Zidan sambil menyimpan perasaan yang mungkin tak akan pernah memiliki tempat untuk berlabuh.

###

Keputusan Pak Baskoro tempo hari benar-benar menjadi awal dari hari-hari berat bagi Bunga. Di bawah kepemimpinan Arka yang baru, Genta seolah mendapatkan legitimasi lebih untuk bersikap “kejam” demi memastikan organisasi tidak limbung.

Sesaat setelah upacara pembubaran barisan, Genta sudah mencegat Bunga di koridor menuju kelas. Ia menyerahkan setumpuk dokumen tebal ke tangan Bunga tanpa basa-basi.

“Bunga, ini formulir pendaftaran buat calon anggota OSIS angkatan bawah. Tugas lo bagiin ke tiap kelas sepuluh dan sebelas sebelum istirahat pertama,” ujar Genta dengan nada memerintah yang dingin.

Belum sempat Bunga menjawab, Genta menambahkan beban lain. “Satu lagi. Arka minta proposal buat rangkaian acara pemilihan Ketua OSIS tahun depan selesai minggu ini. Karena kita bentar lagi naik kelas dua belas, kita harus gercep nyari pengganti. Gue nggak mau tahu, draf kasarnya harus ada di meja Arka besok pagi.”

Bunga menatap tumpukan kertas itu dengan gontai. Membagikan ratusan formulir sekaligus menyusun proposal yang rumit dalam waktu singkat adalah tugas yang menguras tenaga dan pikiran. Rasanya ia ingin kembali menyerahkan surat pengunduran diri itu dan lari ke perpustakaan untuk bersembunyi.

Namun, di tengah rasa lelahnya, bayangan wajah Zidan saat menasihatinya di depan pagar rumah kembali muncul.

“Kamu masih punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, jangan sia-siakan itu... selama pemimpinnya benar, kamu tetap harus patuh.”

Bunga menarik napas panjang, mencoba menegakkan bahunya. Ia memeluk tumpukan formulir itu dengan erat. “Oke, Ta. Besok pagi drafnya gue setor ke Arka,” jawab Bunga pelan namun tegas.

Genta hanya mengangkat alis, sedikit terkejut melihat Bunga tidak membantah seperti biasanya, lalu melenggang pergi.

Bunga mulai berjalan menyusuri kelas demi kelas. Setiap kali ia masuk ke sebuah kelas, ia harus memasang wajah ramah dan profesional, meski hatinya masih bergemuruh. Tugas ini menjadi semacam “jalan penebusan” bagi Bunga. Ia sadar, jika ia ingin Zidan bangga padanya, ia tidak boleh hanya menjadi gadis yang hanya bisa menangis karena bersalah, ia harus membuktikan bahwa dirinya masih sanggup menjadi tulang punggung organisasi ini, meski harus bekerja di bawah arahan Arka.

###

Kelas 10-IPA 1 sampai IPA 5 sudah terlewati. Saat Bunga baru saja hendak melangkah ke koridor kelas 10-IPS, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Arka masuk.

Arka: “Bunga, ada yang mau gue obrolin sama lo bentar. Gue tunggu di rooftop.”

Bunga mengerutkan kening. Bertanya-tanya dalam hati, ada urusan apa Arka memanggilnya ke tempat sepi seperti itu? Namun satu hal yang ia yakini: Arka tidak mungkin meledak-ledak seperti Genta. Sebelum menaiki tangga menuju rooftop, Bunga berbelok ke kantin untuk membeli susu stroberi kesukaannya sebagai “amunisi” energi.

“Bibi, beli susu stroberi satu,” ujar Bunga di depan kios Bi Dahlia.

“Satu aja, Neng? Buat... eh, siapa itu? Zidan ya?” tanya Bi Dahlia dengan senyum menggoda. Bunga menggeleng sambil tersenyum tipis. Ia memang tak pernah membelikan susu untuk kekasihnya itu; Zidan lebih suka jus buah sehat daripada minuman manis.

“Bukan, Bi. Buat aku sendiri.”

“Oh, kirain buat Zidan. Selamat ya, Neng, Zidan lolos ke Jakarta. Pasti si Neng dukung Zidan mati-matian kayak Song Hye-kyo dukung cowoknya di drakor,” Bi Dahlia terkekeh sambil menyerahkan susu kotak berwarna pink itu.

“Apa sih, Bibi,” Bunga menahan tawa.

Lihat selengkapnya