LDR: Love, Duty, Regret

Intan Purnama
Chapter #11

Prasangka dan Rahasia

CHAPTER XI

Malam itu, restoran mewah di pusat kota Yogyakarta tampak berkilau dengan lampu kristal dan alunan musik klasik yang lembut. Meskipun rumah Bunga satu kompleks dengan Arka, ia memilih untuk langsung pergi sendiri ke lokasi restoran mewah tersebut. Bunga turun dari mobil dengan gaun simpel namun anggun, merasa sedikit canggung karena harus membatalkan janjinya dengan Zidan demi “tugas” mendadak ini. Di depan pintu masuk, Arka sudah menunggu. Ia mengenakan kemeja rapi yang membuatnya terlihat jauh lebih dewasa daripada saat mengenakan seragam sekolah.

Gila sih, ini beneran restoran bintang lima! batin Bunga takjub. Matanya menyapu sekeliling area restoran. Bagian outdoor-nya tampak begitu indah dengan beberapa air mancur yang dihiasi lampu sorot dekoratif, memberikan kesan megah sekaligus romantis.

Jujur, Arka merasa sangat gugup malam ini, begitu pun dengan Bunga. Namun, sebagai seorang gadis yang terbiasa tampil di depan umum, Bunga sangat pandai menyembunyikan kegugupannya di balik senyum profesional.

Ketegangan Arka semakin memuncak saat mereka masuk ke dalam lift. Cowok itu mendadak linglung dan bingung harus menekan tombol lantai berapa. Melihat tangan Arka yang gemetaran di depan panel tombol lift, Bunga tidak kuasa menahan tawa.

“Lo kenapa sih? Santai aja kali...” Bunga terkekeh geli. “Lantai berapa, Ka?”

Arka tidak menjawab lewat kata-kata, melainkan hanya mengangkat tangannya dengan jari-jari terbuka, mengisyaratkan angka lima.

“Lo kenapa kelihatan nervous banget gitu, deh?” tanya Bunga lagi, penasaran.

“Hmm... gue... gue baru pertama kali ajak cewek dinner bareng Bokap,” jawab Arka sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Haha! Terus ngapain lo malah ajak gue?”

“Karena lo udah lihat sendiri permasalahan gue sama Bokap,” jawab Arka jujur, membuat tawa Bunga langsung terhenti. Suasana di dalam lift mendadak hening.

Arka menatap lurus ke depan. “Kalau gue ajak orang lain, gue harus jelasin semuanya dari awal. Tapi kalau ajak lo, gue nggak perlu repot-repot ngejelasin lagi.” Cowok itu terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan suara merendah, “Gue ajak lo karena gue udah bosan terus-terusan dalam kondisi tertekan. Gue sama sekali nggak bahagia tiap kali Papa kenalin 'mama baru', tapi anehnya gue nggak pernah bisa ungkapin itu langsung ke Papa. Gue harap... lo bisa bantu gue malam ini.”

Mendengar kejujuran Arka, hati Bunga menghangat. Rasa bersalahnya kini sepenuhnya berubah menjadi rasa ingin melindungi cowok di sampingnya ini. “Ah... it's okay, Ka. Anggap aja ini penebusan kesalahan gue yang kemarin-kemarin. Lo serahin aja semuanya ke gue ya!” Bunga mengangkat telapak tangannya ke udara, mengajak ber-high five.

Tappp!

Telapak tangan mereka bertemu mantap tepat saat pintu lift terbuka. Mereka berjalan beriringan menuju meja nomor tiga di area semi-outdoor. Bunga terdiam, mulai menyadari bahwa makan malam ini bukan sekadar pertemuan biasa. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal tampak duduk berdampingan dengan seorang wanita yang terlihat jauh lebih muda, cantik, namun memiliki tatapan yang dingin.

“Papa,” sapa Arka singkat sambil menarik kursi untuk Bunga.

“Oh, Arka. Akhirnya datang juga,” suara Papanya terdengar berwibawa namun datar. Matanya langsung tertuju pada Bunga. “Dan ini... siapa?”

Belum sempat Arka membuka mulut untuk menjawab, Bunga sudah langsung berdiri tegak. Ia mengulurkan tangannya dengan senyum paling manis yang ia miliki. “Saya Kiara, Om. Calon menantu Om!” ucap Bunga dengan percaya diri.

Arka langsung terbelalak di tempatnya. Jantungnya berpacu tak karuan, terkejut setengah mati. Ia sama sekali tidak menyangka Bunga akan senekat dan seberani ini memakai nama samaran “Kiara”.

“Oh... ternyata...” Papa Arka bergumam, tampak terkejut. “Baru kali ini Arka ajak perempuan ikut dinner.”

Bunga beralih menatap wanita di samping Papa Arka, lalu mengangguk sopan. “Tante,” sapanya. Namun, wanita itu tetap memasang wajah ketus tanpa niat membalas sapaan Bunga.

Tak mau ambil pusing, Bunga langsung kembali menatap Papa Arka. “Om, boleh pesan makan sekarang? Saya udah lapar banget nih,” ucap Bunga tanpa basa-basi, membuat Papa Arka agak kikuk namun tetap mempersilakan dengan memberikan buku menu.

Arka benar-benar tidak habis pikir dengan keberanian Bunga. “Wah, ini buku menunya. Saya boleh pesan apa saja kan, Om?” tanya Bunga memastikan.

Papa Arka mengangguk kecil. “Tentu, apa saja boleh.”

Bunga langsung menoleh ke arah Arka, lalu bergelayut manja di lengan cowok itu, membuat Arka seketika mengeluarkan keringat dingin karena terkejut. “Sayang, kamu mau pesan apa?” tanya Bunga dengan nada suara yang sengaja dibuat semanis madu.

“Sa... samain aja sama kamu,” jawab Arka super kaku, berusaha keras menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak kentara kalau sedang gemetaran.

Mendengar jawaban itu, Bunga langsung memesan dua porsi makanan yang harganya lumayan mahal di buku menu tersebut. Ia sengaja ingin menguji seperti apa respons sang ayah dan calon ibu tiri Arka.

Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Begitu melihat hidangan mewah itu disajikan, wanita di samping Papa Arka langsung mendelik tajam. Menyadari hal itu, Bunga tetap santai. Sambil melahap potongan beef steak-nya, ia bertanya dengan wajah polos, “Tante kenapa liat-liat? Mau?”

“Kamu sengaja ya, pilih makanan yang paling mahal di sini?” sindir wanita itu dengan suara ketus.

Bunga menggeleng cepat tanpa dosa. “Tadi kata Om boleh, kok. Om juga nggak melarang. Iya kan, Om?” Bunga langsung menoleh ke arah Papa Arka untuk mencari konfirmasi.

Papa Arka yang merasa tidak enak karena gengsi di depan teman kencan anaknya akhirnya berdehem. “Iya, iya, gak apa-apa. Bebas. Kamu lanjut aja makannya.”

“Makasih, Om!” Bunga tersenyum lebar dan ceria. Ia lalu memotong sepotong daging lagi, kemudian mengarahkannya ke depan mulut Arka. “Ayo makan lagi, Sayang... aaaa...”

Arka yang panik berbaur pasrah akhirnya terpaksa membuka mulut dan melahap suapan dari Bunga dengan wajah memerah.

Melihat adegan itu, si wanita muda langsung meradang. Ia memukul meja pelan dan menoleh ke arah Papa Arka. “Kamu baru kenal dia kan, Mas?! Kenapa kamu biarin cewek ini nguras ATM kamu sih! Kelihatan banget cuma mau morotin!” protesnya sengit.

“Udah, udah, nggak apa-apa,” Papa Arka mencoba menengahi agar suasana tidak semakin memalukan di restoran bintang lima itu.

“Ih, kamu tuh ya! Kalau saya, jelas nggak sudi ngasih dia restu!” lontar wanita itu lagi, melemparkan tatapan menghunus pada Bunga.

Mendengar hal itu, Bunga meletakkan garpunya perlahan. Ia menatap lurus ke arah wanita itu dengan senyum tenang namun mematikan. “Gak apa-apa kok, Tante. Lagian... Arka juga gak ngasih restu Tante jadi mamanya.”

Uhukkk!

Arka yang baru saja mengunyah daging hampir saja menyemburkan isi mulutnya. Ia tersedak karena menahan tawa yang luar biasa geli mendengar jawaban super berani dari Bunga.

Lihat selengkapnya