LDR: Love, Duty, Regret

Intan Purnama
Chapter #12

Rahasia Genta

Dua minggu menjelang awal Juni, atmosfer di SMAN 1 Nusa Bangsa mendadak berubah tegang. Lorong-lorong sekolah yang biasanya bising oleh gelak tawa kini dipenuhi oleh bisik-bisik materi pelajaran. Semua siswa, tanpa terkecuali, sibuk mempersiapkan diri menghadapi Ulangan Akhir Semester.

Di sudut kantin, Jojo dan Tiara tampak berdebat sengit bukan karena urusan organisasi, melainkan karena rumus Fisika yang tak kunjung ketemu jalannya. Di sudut lain, Sisca sedang telaten menyalin catatan sejarah milik Maura yang terkenal rapi dan lengkap. Maura sendiri sesekali melamun, menatap buku paketnya dengan perasaan campur aduk; ada rasa lega karena utang masa lalunya pada Arka sudah lunas, namun beban ujian di depan mata tetap saja membuatnya pening.

Sementara itu, di kamarnya, Zidan sedang duduk menghadap meja belajar. Buku-buku tebal yang ia pinjam dari perpustakaan siang tadi sudah terbuka lebar. Peringatan Bu Saras benar-benar menampar kesadarannya. Zidan tahu betul, kelolosannya ke Jakarta tidak akan ada artinya jika nilai akademiknya hancur. Ia tidak boleh egois. Jika nilainya anjlok, beasiswa dan bantuan biaya sekolah yang selama ini meringankan beban orang tuanya bisa terancam dicabut.

Matahari mulai bergerak turun, menyisakan semburat jingga di ufuk barat. Saat Zidan hendak menyalin rumus penting, jemarinya meraba tas sekolah. Kosong.

“Sial, buku catatan rangkuman gue ketinggalan di ruang OSIS,” gumamnya cemas.

Tanpa berpikir panjang, sebelum azan Magrib berkumandang, Zidan segera menyambar kunci motor dan kembali memacu kendaraannya menuju sekolah.

Gerbang sekolah sudah sepi saat Zidan memarkirkan motornya. Langkah kakinya menggema di koridor yang sunyi menuju ruang OSIS. Begitu pintu kayu itu didorong, suasana di dalam ruangan tampak remang-remang. Namun, netra Zidan menangkap sesuatu yang tidak biasa di atas meja rapat.

Ada sebuah tas olahraga besar yang setengah terbuka, menampakkan beberapa potong baju ganti, sabun mandi, sikat gigi, dan sebuah handuk kering yang terlipat rapi. Zidan mengernyitkan dahi penuh heran. Barang pribadi milik siapa ini? Kenapa ada orang yang menyimpan perlengkapan mandi lengkap di ruang OSIS?

Zidan melangkah mendekat, tangannya terulur menyentuh ujung handuk tersebut demi memuaskan rasa penasarannya.

“Ngapain lo pegang-pegang anduk gue?”

Sebuah suara dingin dan berat dari arah ambang pintu sentak membuat Zidan tersentak kaget. Ia menoleh cepat dan mendapati Genta berdiri di sana dengan wajah sekaku biasanya.

“Eh, lo... masih di sekolah jam segini, Ta?” tanya Zidan kikuk, buru-buru menarik kembali tangannya.

Genta berjalan masuk, merebut handuknya dengan kasar lalu memasukkannya ke dalam tas. “Bukan urusan lo.”

Zidan menelan ludah. Ia tahu watak keras Genta, jadi ia memilih tidak memperpanjang urusan. Setelah matanya menemukan buku catatan yang ia cari di sudut meja, Zidan segera menyambarnya. “Ya udah, gue duluan.”

Genta tidak menjawab. Ia hanya menatap kepergian Zidan dengan pandangan datar hingga derap langkah mantan Ketua OSIS itu benar-benar hilang dari koridor.

“Fyuuuhhh...”

Genta mengembuskan napas panjang yang terasa begitu berat. Ketegangan di bahunya perlahan luruh. Dengan gontai, ia merebahkan tubuhnya yang lelah di atas sofa panjang ruang OSIS, menjadikan tas olahraganya sebagai bantal.

Drrrt... Drrrt...

Ponsel di saku celananya bergetar. Layarnya menyala, menampilkan nama 'Pak Baskoro'. Genta hanya menatap layar itu tanpa niat untuk menggeser tombol hijau. Ia membiarkannya bergetar hingga mati sendiri.

Keheningan yang tercipta setelahnya justru membawa pikiran Genta terbang jauh ke masa lalu. Ke sebuah memori kelam dua tahun lalu, saat ia baru saja mengecap semester pertama di SMAN 1 Nusa Bangsa.

Malam itu, rumah mewah milik keluarga Genta hancur berantakan. Suara pecahan vas bunga dan bentakan kasar saling bersahutan. Ayah Genta, Dwiki, adalah seorang pria dengan paham patriarki yang sangat kental. Baginya, kata-katanya adalah hukum mutlak yang tidak boleh dibantah oleh siapa pun di rumah itu.

Ibunya, Maya, yang sudah bertahun-tahun batinnya tersiksa dan lelah menghadapi sikap diktator sang suami, akhirnya memilih jalan pintas yang salah. Ia berselingkuh dengan pria lain. Malam itu, perselingkuhan itu terbongkar, memicu badai yang berujung pada keputusan cerai.

Di tengah puing-puing kehancuran itu, Genta remaja berdiri terpaku. Ia dihadapkan pada pilihan yang mustahil. Ibunya memintanya ikut, namun Genta menolak keras karena sang ibu akan segera menikah lagi dengan selingkuhannya. Di sisi lain, Genta juga menolak mentah-mentah untuk tinggal bersama ayahnya yang strict dan selalu mendiktenya bagai robot.

Frustrasi dan kehilangan arah, Genta akhirnya memilih minggat. Ia membawa satu tas baju dan memutuskan rahasia paling nekat dalam hidupnya: tinggal dan tidur di dalam ruang OSIS sekolah.

Seminggu lamanya Genta hidup telantar di sekolah, sebelum akhirnya aksi nekat itu tepergok oleh Pak Baskoro, salah satu guru senior di sana. Alih-alih menghukum atau melaporkannya pada pihak sekolah, Pak Baskoro yang berhati mulia justru merangkul bahu Genta yang bergetar malam itu dan mengajaknya tinggal di rumah pribadinya.

Kini sudah hampir dua tahun Genta tinggal di rumah Pak Baskoro. Sebuah rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat dari seluruh warga sekolah, termasuk dari anak-anak OSIS.

Genta memejamkan matanya rapat-rapat. Sebentar lagi ia akan naik ke kelas 12. Ia tumbuh menjadi cowok yang mandiri, dan rasa harga dirinya yang tinggi mulai memberontak. Ada rasa malu yang teramat sangat yang terus menghantui hatinya karena merasa telah terlalu lama menumpang dan merepotkan Pak Baskoro, meskipun ia tahu guru itu dengan tulus mengkhawatirkannya.

Drrrt... Drrrt...

Ponsel yang sempat hening sejenak itu kembali bergetar hebat, membuyarkan seluruh lamunan masa lalunya. Genta menghela napas. Kali ini, ia tidak bisa menghindar lagi. Dengan berat hati, ia menekan tombol jawab.

“Halo, Pak?”

“Genta? Kamu di mana, Nak? Ini sudah malam, cepat pulang,” suara Pak Baskoro di seberang telepon terdengar begitu cemas namun tetap teduh.

Genta terdiam, tenggorokannya mendadak terasa tercekat. Ia bingung harus merangkai kata seperti apa.

“Genta?” panggil Pak Baskoro lagi saat tidak mendengar sahutan.

Bagi Genta, Pak Baskoro sudah jauh melampaui sekadar status seorang guru atau ayah angkat. Pria paruh baya itulah yang selalu memberinya kehangatan, perhatian, dan validasi yang tidak pernah sekali pun ia dapatkan dari ayah kandungnya sendiri.

“Iya, Pak...” lirih Genta, matanya menatap langit-langit ruang OSIS yang temaram. “Hmm... kalau saya malam ini tidak pulang lagi... tidak apa-apa kan, Pak?”

Pertanyaan itu lolos begitu saja, menyiratkan keinginannya untuk mulai menarik diri agar tidak lagi merepotkan.

Di seberang sana, terdengar hela napas tegas dari Pak Baskoro. Beliau tahu persis tabiat anak asuhnya yang keras kepala dan suka memendam beban sendirian ini.

“Bapak jemput kamu sekarang!” tegas Pak Baskoro tanpa menerima bantahan, lalu langsung mengakhiri panggilan.

Lihat selengkapnya